Showing posts with label Artikel Akhlak. Show all posts
Showing posts with label Artikel Akhlak. Show all posts

Friday, 31 March 2017

Diantara Rezeki dan Zuhud - Kehidupan Seorang Pahlawan Islam : Panglima Islam (Abu ‘Ubaidah Ibn al-Jarrah) Dizaman Khulafaur Rasyidin

Related image
foto: ilustrasi
Zuhud berarti tidak suka kepada harta dan kekayaan dunia. Zuhud juga bisa diartikan bahwa harta dan kekayaan dunia menjadikan seseorang tidak lupa kepada Allah. Zuhud bukan berarti menolak rezeki dari Allah. Tetapi seorang zuhud berarti tidak ingin dirinya diperbudak oleh harta dan kekayaan dunia dari mengingat Allah serta beribadah kepada-Nya. Banyak diantara para sahabat Nabi, dalam meneladani kehidupan Nabi, bersikap zuhud terhadap harta, sehingga kehidupannya seolah-olah sangat sengsara dan menderita padahal mereka itu sebenarnya orang yang sangat kaya dan kalau mau bisa menjadi orang kaya. Bagi para sahabat nabi tersebut harta dunia hanyalah dipergunakan sekedar untuk menguatkan agamanya semata, yaitu untuk menunaikan kewajiban agama, baik wajib ‘ain maupun wajib kifayah seperti membelanjai keluarga yang menjadi tanggungannya dan lain-lain.
Diriwayatkan bahwa Khalifah Umar bin Khattab mengangkat Umair bin Sa’ad sebagai gubernur negeri Hims di Syria atau Suriah. Setelah setahun, gubernur itu dipanggil oleh Umar ke Madinah. Umar segera datang memenuhi panggilan dinas tersebut. Ia berjalan dengan kaki telanjang sambil membawa tongkat ditangan kanannya dan tempat air minum ditangan kirinya, tempat makanannya dan piringnya dipikul diatas punggungnya. Dengan keadaan demikian, ia menghadap kepada Khalifah Umar.
Ketika Khalifah Umar melihat hal yang demikian,beliau berkata, “Apakah kita ini terkena bencana kemarau ataukah negeri Hims sebuah negeri yang miskin?”. Gubernur Umair terkejud mendengar teguran Khalifah seperti itu, lalu ia bertanya, “Mengapa demikian ya Amirul Mukminin? Padahal saya kemari ini membawa dunia dengan sarungnya.” Umar bertanya, “Apa yang saudara bawa itu?” Jawab Gubernur, “Sebuah tongkat untuk saya bersandar padanya dan untuk mengusir musuh jika saya bertemu dengannya. Lalu wadah tempat makananku dan tempat airku untuk minum dan bersuci. Demi Allah, ya Amirul Mukminin, dunia ini nanti akan mengikuti apa yang ada bersamaku ini.”
Mendengar jawaban yang tepat padat itu, Umar segera berdiri menuju kuburan Rasulullah Saw. dan Abubakar r.a. lalu menangis sambil berdoa. Setelah itu beliau kembali ke tempat duduknya semula, lantas berkata, “Apa yang telah saudara lakukan dalam menunaikan tugasmu?” Umar menjawab, “Dalam hal zakat telah saya laksanakan, yaitu mengambil unta dari yang empunya unta dan jizyah (upeti) diambil dari ahli dzimmah (kafir dzimmi yang dijamin keamanannya dalam Negara Muslim) dari tangan dimana mereka itu merasa hina. Kemudian saya bagi-bagikan kepada fuqara, orang miskin dan musafir yang terlantar. Demi Allah, wahai Amirul Mukminin, jika sekiranya harta itu masih ada sisanya, tentulah saya bawa kemari untuk disetorkan.” Maka Khalifah Umaru pun segera mengambil keputusan, “Kembalilah wahai Umair kepada tugasmu semula”. Lalu segeralah Umair mohon diri untuk diperkenankan pulang menengok keluarganya.
Setelah gubernur itu keluar, maka Khalifah Umar memanggil seorang pembantunya bernama Habib. Sambil menitipkan uang seratus dinar (uang emas), beliau berpesan, agar ia melakukan penyelidikan atas diri Umair selama tiga hari, untuk melihat apakah penghidupan Umair dalam keadaan mewah, berkecukupan atau dalam keadaan sempit. Kalau ternyata penghidupannya agak sempit, hendaklah uang itu diberikan kepadanya atas nama Khalifah.
Demikianlah Habib segera menjalankan tugasnya dan bermalam dirumah Umair selama tiga malam. Habib mendapati bahwa makanan Umair sekeluarga tidak lebih dari sya’ir (sebangsa gandum yang berkualitas rendah) dan minyak. Setelah tiga hari berlalu, maka ia pun menyerahkan uang itu kepada Umair. Setelah menerima uang itu, Umair mengambil pakaian bekas yang sudah lama, kepunyaan istrinya, lalu uang itu dibungkusnya dengan sobekan pakaian tadi, sebungkus-sebungkus. Ada yang lima, ada yang enam dan ada yang tujuh dinar. Lalu ia kirimkan kepada kaum Muslim yang fakir dan miskin, sehingga uang itu habis sambil disaksikan oleh Habib.
Setelah itu, Habib segera melaporkan hal itu kepada Khalifah Umar. Kata Habib, “Ya Amirul Mukminin, saya datang dari seorang yang sangay zuhud, sedang ia tidak memiliki dunia sedikitpun.”
Ketika Umair akan berangkat menuju tempat tugasnya, Khalifah memerintahkan untuk memberikan kepadanya dua kuintal bahan pangan berupa gandum beserta dua lembar pakaian. Gubernur Umair berkata kepada Khalifah Umar, “Adapun pakaian, saya terima, ya Amirul Mukminin. Tetapi dua kuintal gandum itu saya tidak perlu, keluarga saya sudah saya tinggali satu gantang dari tepung terigu dan itu cukup untuk mereka selama saya tinggalkan sampai saya kembali.”
Demikianlah sifat zuhud, tidak suka akan harta diluar kebutuhan pokok, yang dipunyai oleh seorang gubernur Islam, sehingga dengan demikian dalam pemerintahannya, rakyat pasti merasa aman dan tenteram dan taat patuh kepada yang berwajib, karena terpelihara kewibawaannya, sehingga rakyat sungguh-sungguh menghargainya.
Pada waktu yang lain, Khalifah Umar memberikan sebuah pundi-pundi berisi uang empat ratus dinar kepada pesuruhnya untuk dibawa kepada Abu ‘Ubaidah Ibn al-Jarrah, sambil dipesankan kepadanya, “Tunggulah beberapa saat dan lihatlah apa yang dilakukannya terhadap uang itu.”
Pesuruh itu pun pergi ke rumah Abu ‘Ubaidah Ibn al-Jarrah dan memberikan uang tersebut kepadanya seraya berkata, “Khalifah mengatakan bahwa uang ini untuk sebahagian dari keperluan Tuan.” Abu ‘Ubaidah menerima uang itu lalu berkata, “Mudah-mudahan Allah menghubungkan kasih sayang-Nya juga memanggil hamba-sahayanya yang perempuan, seraya berkata, “Bawalah tujuh dinar ini kepada Si Fulan, yang lima ini kepada Si Fulan,” hingga uang yang diberikan oleh Khalifah Umar habis dalam waktu sekejap.
Setelah menyaksikan kejadian itu, pesuruh itu pun pulang memberikan laporan kepada Khalifah Umar. Tetapi rupanya Khalifah telah menyiapkan sebuah pundi-pundi lain untuk dibawa kepada Mu’az bin Jabal dengan pesan dan tugas yang sama kepada pesuruh itu. Dan ternyata Mu’az pun melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Abu ‘Ubaidah sampai isi pundi-pundi itu pun habis dalam waktu tak berapa lama.
Setelah pesuruh itu meloporkan apa yang telah disaksikannya dan dilakukan oleh kedua orang tadi (keduanya adalah sahabat Nabi Saw.), berkatalah Khalifah Umar, “Sesungguhnya mereka adalah bersaudara antara satu dengan yang lainnya, semoga Allah meridhai mereka semuanya. Aamiin.”
Kehidupan Seorang Pahlawan Islam
Jika tadi diceritakan tentang zuhud para sahabat dalam kehidupan sehari-hari, berikut ini kita ceritakan kehidupan zuhud seorang panglima Islam pada masa awal Islam tersebut.
Dalam sejarah Islam, diterangkan bahwa Khalifah Umar bin Khattab r.a. melantik Abu ‘Ubaidah Ibn al-Jarrah sebagai panglima pasukan yang dikirim ke Syria untuk menaklukkan dan mengislamkan tanah Syam. Tugas yang begitu berat tetapi suci itu oleh Abu ‘Ubaidah berhasil diselesaikan dengan sebaik-baiknya. Pada suatu ketika, Khalifah Umar datang berkunjung ke sana, antara lain juga untuk melakukan semacam inspeksi ke daerah kekuasaan Islam. Beliau disambut dan dielu-elukan oleh kaum Muslimin yang dipimpin oleh Abu ‘Ubaidah sendiri, sebagaimana lazimnya kedatangan seorang Khalifah.
Kiranya Khalifah ingin pula mengetahui bagaimana kehidupan panglimanya, kemudian terjadilah percakapan sebagai berikut.
“Mari kita pergi berkunjung ke rumah saudara.”
“Apa gerangan yang tuan lakukan dirumah saya? Kiranya Tuan akan memeras air mata saja.”
Tak lama kemudian, keduanya memasuki rumah Panglima. Alangkah kagetnya Khalifah Umar ketika melihat kekanan dan kekiri didalam rumah itu karena tidak tampak sesuatu pun kekayaan yang berharga sesuai dengan martabat seorang panglima. Maka tercetuslah kata-kata berikut dari mulut beliau, “Mana kekayaanmu wahai Abu ‘Ubaidah, padahal saudara adalah raja sekaligus panglima didaerah ini.”
Setelah itu keduanya terdiam. Lalu, kesunyian itu dipecahkan oleh suara Khalifah yang menanyakan kepada Abu ‘Ubaidah, “Apakah saudara mempunyai makanan yang tersedia? Aku ingin mencicipinya.”
Panglima Muslim di Syam itu segera masuk keruangan dalam dan kemudian segera pula keluar dengan membawa beberapa potong roti kering yang kelihatannya telah lama disimpan. Rupanya hanya makanan yang semacam itulah yang dapat dihidangkannya ke hadapan Khalifah.
Begitu melihat makanan yang terhidang, tiba-tiba dan tanpa disadari bercucuranlah air mata Khalifah Umar. Lalu dengan sedu-sedan, beliau berkata, “Engkau benar-benar telah mengubah dunia ini. Kiranya semua dari kami tidak sama dengan engkau wahai Abu ‘Ubaidah.”
Demikianlah gambaran kehidupan salah seorang panglima Islam pada zaman awal Islam. Memang pantaslah kalau kaum Muslim pada waktu itu sering mendapat bantuan dan pertolongan Allah sehingga umat Islam benar-benar memimpin dunia dalam segala bidang kehidupan. Tetapi sebaliknya, kaum Muslim pada zaman sekarang ini. Kita melihat kemewahan berada dimana-mana dinegeri Muslim. Kekayaan bertumpuk-tumpuk pada diri para pemimpin Islam, namun kemajuan Islam dan kaum Muslim tidak tampak. Kekayaan disini tidak ada berkahnya, karena boleh jadi kekayaan itu didapat dengan cara tidak wajar atau tidak halal, sedangkan Allah Maha Mengetahui segala-galanya.
Semoga Allah berkenan menurunkan taufik dan hidayah-Nya kepada kita khususnya kepada para pemimpin kita.

#Source:
H. M. Ali Usman, Rezeki dalam al-Qur’an, 2010 (Bandung: PT. Kiblat Buku Utama)

Monday, 13 February 2017

SEJARAH HARI VALENTINE, MAKSIAT BERBUNGKUS KASIH SAYANG - Oleh: Ummi, Hj. Irena Handono


Image result for sejarah valentine oleh irene handono
Keterangan gambar : Ritual Upacara Lupercalia, cikal bakal Valentine Day

SEJARAH VALENTINE DAY, MAKSIAT BERBUNGKUS KASIH SAYANG
Oleh: Ummi, Hj. Irena Handono

Meski nasihat-nasihat, imbauan-imbauan para ulama, ustadz-ustadzah tentang Valentine selalu didengungkan tiap bulan Pebruari, tapi ternyata masih banyak orang tua para remaja yang masih berpemahaman salah tentang Valentine’s Day. Valentine hanya dianggap sebagai budaya remaja modern saja. Padahal ada bahaya besar di balik Valentine yang siap menerkam para remaja. Ini yang tidak disadari para orang tua.
Tiap bulan Februari remaja yang notabene mengaku beragama Islam ikut-ikutan sibuk mempersiapkan perayaan Valentine. Walau banyak ustad-ustazah memperingatkan nilai-nilai akidah Kristen yang dikandung dalam peringatan tersebut, namun hal itu tidak terlalu dipusingkan mereka. "Aku ngerayain Valentine kan buat fun-fun aja...." begitu kata mereka.
Tanggal 14 Februari dikatakan sebagai ‘Hari Kasih Sayang’. Apa benar? Mari kita tilik sejarahnya.

Siapakah Valentine?
Tidak ada kejelasan, siapakah sesungguhnya yang bernama Valentine. Beragam kisah dan semuanya hanyalah dongeng tentang sosok Valentine ini. Tetapi setidaknya ada tiga dongeng yang umum tentang siapa Valentine.
Pertama, St Valentine adalah seorang pemuda bernama Valentino yang kematiannya pada 14 Pebruari 269 M karena eksekusi oleh Raja Romawi, Claudius II (265-270). Eksekusi yang didapatnya ini karena perbuatannya yang menentang ketetapan raja, memimpin gerakan yang menolak wajib militer dan menikahkan pasangan muda-mudi, yang hal tersebut justru dilarang. Karena pada saat itu aturan yang ditetapkan adalah boleh menikah jika sudah mengikuti wajib militer.
Kedua, Valentine seorang pastor di Roma yang berani menentang Raja Claudius II dengan menyatakan bahwa Yesus adalah Tuhan dan menolak menyembah dewa-dewa Romawi. Ia kemudian meninggal karena dibunuh dan oleh gereja dianggap sebagai orang suci.
Ketiga, seorang yang meninggal dan dianggap sebagai martir, terjadi di Afrika di sebuah provinsi Romawi. Meninggal pada pertengahan abad ke-3 Masehi. Dia juga bernama Valentine.

Ucapan ”Be My Valentine”
Ken Sweiger dalam artikel “Should Biblical Christians Observe It?” mengatakan kata “Valentine” berasal dari Latin yang berarti : “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. Maka disadari atau tidak, -tulis Ken Sweiger- jika kita meminta orang menjadi “to be my Valentine”, hal itu berarti melakukan perbuatan yang dimurkai Tuhan (karena memintanya menjadi “Sang Maha Kuasa”) dan menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala. Dalam Islam hal ini disebut syirik, artinya menyekutukan Allah Subhannahu wa Ta’ala. Adapun Cupid (berarti: the desire), si bayi bersayap dengan panah adalah putra Nimrod “the hunter” dewa Matahari. Disebut Tuhan Cinta, karena ia rupawan sehingga diburu wanita bahkan ia pun berzina dengan ibunya sendiri!

Tradisi penyembah berhala
Pada masa Yunani dan Romawi, masyarakat pada saat itu beragama pagan yakni menyembah banyak Tuhan atau Paganis-polytheisme. Mereka memiliki perayaan/pesta yang dilakukan pada pertengahan bulan Pebruari yang sudah menjadi tradisi budaya mereka. Dan gereja menyebut mereka sebagai kaum kafir.
Di zaman Athena Kuno, tersebut disebut sebagai bulan GAMELION. Yakni masa menikahnya ZEUS dan HERA. Sedangkan di zaman Romawi Kuno, disebut hari raya LUPERCALIA sebagai peringatan terhadap Dewa LUPERCUS, dewa kesuburan yang digambarkan setengah telanjang dengan pakaian dari kulit domba.
Perayaan ini berlangsung dari 13 hingga 18 Pebruari, yang berpuncak pada tanggal 15. Dua hari pertama (13-14 Februari) dipersembahkan untuk Dewi Cinta (Queen of Feverish Love) Juno Februata. Di masa ini ada kebiasaan yang digandrungi yang disebut sebagai Love Lottery/Lotre pasangan, di mana para wanita muda memasukkan nama mereka dalam sebuah bejana kemudian para pria mengambil satu nama dalam bejana tersebut yang kemudian menjadi kekasihnya selama festival berlangsung. Seiring dengan invasi tentara Roma, tradisi ini menyebar dengan cepat ke hampir seluruh Eropa.
Ritual pagan ini diubah pada tahun 469 M menjadi Saint Valentine's Day. Jelas sudah, Hari Valentine sesungguhnya berasal dari tradisi masyarakat di zaman Romawi Kuno, masyarakat kafir yang menyembah banyak Tuhan juga berhala.

Valentine di Indonesia
Valentine’s Day disebut ‘Hari Kasih Sayang’, disimbolkan dengan kata ‘LOVE’. Padahal kalau kita mau jeli, kata ‘kasih sayang’ dalam bahasa inggris bukan ‘love’ tetapi ‘Affection’. Tapi mengapa di negeri-negeri muslim seperti Indonesia dan Malaysia, menggunakan istilah Hari Kasih Sayang. Ini penyesatan.
Makna ‘love’ sesungguhnya adalah sebagaimana sejarah GAMELION dan LUPERCALIA pada masa masyarakat penyembah berhala, yakni sebuah ritual seks/perkawinan. Jadi Valentine’s Day memang tidak memperingati kasih sayang tapi memperingati love/cinta dalam arti seks. Atau dengan bahasa lain, Valentine’s Day adalah HARI SEKS BEBAS.
Dan pada kenyataannya tradisi seks bebas inilah yang berkembang saat ini di Indonesia. Padahal di Eropa sendiri tradisi ini mulai ditinggalkan. Maka, semua ini adalah upaya pendangkalan akidah generasi muda Islam.


#source: fb Ummi, Hj. Irena Handono

Saturday, 21 May 2016

Kisah Hakim Bijaksana (Muhammad bin Harb al-Hilali dengan Seorang Pemerah Susu Yang Qona'ah)

Akhlaq Karimah


Seorang hakim, Muhammad bin Harb al-Hilali menuturkan bahwa seorang pemerah susu dihadapkan kepadanya di pengadilan dengan suatu tuduhan kejahatan. Lalu, ia memberi hukuman tujuh puluh cambukan.
Setelah waktu berlalu beberapa hari, ternyata tuduhan itu terbukti tidak benar. Oleh karena itu, tukang pemerah susu itupun dipanggil kembali untuk menghadap hakim. Selanjutnya, Muhammad bin Harb meminta agar hukuman yang terlanjur salah itu dibalaskan pada dirinya. Namun, lelaki pemerah susu itu menjawab, “Jangan tergesa-gesa, biarkan simpan saja hukuman itu untukku karena aku akan banyak datang ketempatmu ini. Setiap kali aku melakukan suatu pelanggaran yang hukumannya harus aku jalani, ambilkan saja dari hukuman yang salah terlanjur aku terima itu, yaitu sepuluh, lima, atau berapa saja sesuai dengan jumlah yang ditetapkan atas pelanggaranku hingga hukuman yang aku titipkan padamu terpenuhi.

Kisah yang dapat diambil hikmah dari cerita ini adalah seorang hakim Muhammad bin Harb yang sangat bijaksana (bertanggung jawab) atas keputusannya dan juga seorang pemerah sapi yang qonaah menerima apa adanya yang diputuskan pada dirinya dengan kerelaan nya menerima hukuman tersebut. Dan pelajaran bagi kita semua adalah bagi seorang penegak hukum hendaklah berhati-hati dalam memutuskan suatu perkara sesuai dengan bukti-bukti valid dan saksi yang kuat, yang wajib dibentengi dengan iman dan taqwa. Kemudian untuk kita semua hendaklah kita selalu waspadai dan memfilter diri atau berhati-hati didalam mengambil keputusan atau bertindak didalam melakukan segala perbuatan didalam hidup ini dan tentunya didalam hidup ini selalu Qonaah menerima apa yang telah kita perbuat, atas hasil kerja keras kita dan Taqdir Allah atas diri kita.

Tuesday, 10 May 2016

Ketika Menjadi Khalifah - Pengalaman Menyentuh Hati Khalifah Umar (Akhlaq Karimah)

Akhlaq Karimah


Image result for khalifah umar


Ketika menjadi Khalifah, Umar bin Khattab pernah mengalami pengalaman sangat menyentuh hatinya. Ketika itu ditengah malam, ia melihat sebuah keluarga dengan seorang ibu dan beberapa anak-anaknya. Anak-anaknya menangis karena kelaparan dan sang ibu yang tidak punya makanan menghiburnya dengan pura-pura memasak sesuatu. Padahal, yang didalam kualinya hanyalah batu yang tidak pernah akan masak dan tidak dapat dimasak. Melihat hal itu, Khalifah Umar yang terkejut, lantas segeralah ia mengambil sekantung gandum dan minyak untuk diberikan kepada keluarga miskin tersebut.

Hikmah yang terkandung dari cerita diatas, yakni jadilah selalu pribadi yang dermawan, baik hati selalu saling membantu dan tolong menolong sesama umat manusia.

Dari kisah diatas, kita tahu bahwa menjadi pemimpin yang memikul amanah untuk umat/orang 
banyak, tidaklah mudah dan bukan sebuah nikmat, melainkan tanggung jawab yang berat dan seringkali menimbulkan fitnah


 لاَ اِيْمَنَ لِمَنْ لاَ اَمَا نَةَ لَهُ , وَلاَدِيْنَ لِمَنْ لاَ عَهْدَلَهُ  
(رواه احمد)

Tidak beriman seorang yang tidak amanah dan tidak (ada) agama bagi orang yang tidak menepati janji. (H.R. Ahmad: 12108)

Monday, 9 May 2016

Kisah Singkat Sha 'sha 'ah Melamar 'Ammrah (Akhlaq Karimah)


Akhlaq Karimah
Image result for Cinta wanita bercadar
Kisah Sha'sha 'ah Melamar Ammrah

Sha 'sha 'ah melamar 'Ammrah, putri 'Amir bin az-Zarb. Ayah gadis itu, yakni 'Amir berkata, "Wahai Sha 'Sha 'ah, engkau datang untuk membeli/melamar buah hatiku. Oleh karena itu, sayangilah anakku itu, aku terima ataupun tolak. Orang terhormat padanan untuk yang terhormat; suami yang shaleh lebih dari sekedar seorang ayah. Aku terima pernikahanmu karena khawatir tidak menemukan orang sepertimu, aku lari dari yang tidak aku ketahui menuju kepada yang nyata, yang aku ketahui. Yang terhormat telah keluar dari dalam diri kalian tanpa didorong ataupun dipaksa." 


Dari kisah diatas bahwa dapat diambil hikmah bahwa keshalehan seorang lelaki yang melamar wanita dengan mendatangi walinya, dengan didasari akhlak baik atau keshalihan, dan sang walinya menerimanya dengan ikhlas tanpa paksa, sebab agamanya baik dan shaleh, sehingga lelaki tersebut mampu menggantikan peran ayah gadis tersebut untuk menjadi imam yang baik untuk wanita yang akan dinikahi tersebut,
dan yang pasti jodoh itu adalah yang baik lelaki shaleh akan mendapatkan yang baik juga yaitu wanita shalehah begitu pula sebaliknya

Oleh karena itu, mari kita sama-sama memperbaiki akhlak kita dan selalu meningkatkan Taqwa kita pada Allah SWT.

Mutiara Hikmah

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

30. Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat".

Tuesday, 28 July 2015

Keutamaan Sifat Tawadhu' (Rendah Hati)

Keutamaan Sifat Tawadhu’


Allah Ta’ala berfirman:

تِلْكَ الدَّارُ الآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الأَرْضِ وَلا فَسَادًا وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

“Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Qashash: 83)

Allah Ta’ala berfirman:

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, dari kalangan orang-orang yang beriman.” (QS. Asy-Syu’ara`: 215)

Dari Iyadh bin Himar radhiallahu anhu bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

وَإِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلَا يَبْغِ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ

“Dan Allah mewahyukan kepadaku agar kalian saling merendah diri agar tidak ada seorang pun yang berbangga diri pada yang lain dan agar tidak seorang pun berlaku zhalim pada yang lain.” (HR. Muslim no. 2865)

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ

“Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Tidak ada orang yang memberi maaf kepada orang lain, melainkan Allah akan menambah kemuliaannya. Dan tidak ada orang yang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim no. 2588)

Dari Al-Aswad rahimahullah dia berkata: Aku pernah bertanya kepada ‘Aisyah tentang apa yang dikerjakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika berada di rumah. Maka ‘Aisyah menjawab,

كَانَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ تَعْنِي خِدْمَةَ أَهْلِهِ فَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ

“Beliau selalu membantu pekerjaan keluarganya, dan jika datang waktu shalat maka beliau keluar untuk melaksanakan shalat.” (HR. Al-Bukhari no. 6939)

Penjelasan ringkas:

Tawadhu’ dan rendah hati kepada kaum mukminin merupakan sifat terpuji yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Karenanya barangsiapa yang tawadhu niscaya Allah akan mengangkat kedudukannya di mata manusia di dunia dan di akhirat dalam surga. Karenanya tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan sekecil apapun, karena negeri akhirat beserta semua kenikmatannya hanya Allah peruntukkan bagi orang yang tidak tinggi hati dan orang yang tawadhu’ kepada-Nya.

Dan dalam hal ini -sebagaimana dalam sifat terpuji lainnya-, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam merupakan suri tauladan terbaik. Bagaimana tidak sementara Allah Ta’ala telah memerintahkan beliau untuk merendah kepada kaum mukminin. Karenanya beliau senantiasa tawadhu’ dan bergaul dengan kaum mukminin dari seluruh lapisan, dari yang kaya sampai yang miskin, dari orang kota sampai arab badui. Beliau duduk berbaur bersama mereka, menasehati mereka, dan memerintahkan mereka agar juga bersifat tawadhu’. Kedudukan beliau yang tinggi tidak mencegah beliau untuk melakukan amalan yang merupakan kewajibannya sebagai kepala rumah tangga. Karenanya sesibuk apapun beliau, beliau tetap menyempatkan untuk mengerjakan pekerjaan keluarganya di rumah.

Ilmu Menumbuhkan Sifat Tawadhu’

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,
“Salah satu tanda kebahagiaan dan kesuksesan adalah tatkala seorang hamba semakin bertambah ilmunya maka semakin bertambah pula sikap tawadhu’ dan kasih sayangnya. Dan semakin bertambah amalnya maka semakin meningkat pula rasa takut dan waspadanya. Setiap kali bertambah usianya maka semakin berkuranglah ketamakan nafsunya. Setiap kali bertambah hartanya maka bertambahlah kedermawanan dan kemauannya untuk membantu sesama. Dan setiap kali bertambah tinggi kedudukan dan posisinya maka semakin dekat pula dia dengan manusia dan berusaha untuk menunaikan berbagai kebutuhan mereka serta bersikap rendah hati kepada mereka.”

Beliau melanjutkan,
“Dan tanda kebinasaan yaitu tatkala semakin bertambah ilmunya maka bertambahlah kesombongan dan kecongkakannya. Dan setiap kali bertambah amalnya maka bertambahlah keangkuhannya, dia semakin meremehkan manusia dan terlalu bersangka baik kepada dirinya sendiri. Semakin bertambah umurnya maka bertambahlah ketamakannya. Setiap kali bertambah banyak hartanya maka dia semakin pelit dan tidak mau membantu sesama. Dan setiap kali meningkat kedudukan dan derajatnya maka bertambahlah kesombongan dan kecongkakan dirinya. Ini semua adalah ujian dan cobaan dari Allah untuk menguji hamba-hamba-Nya. Sehingga akan berbahagialah sebagian kelompok, dan sebagian kelompok yang lain akan binasa. Begitu pula halnya dengan kemuliaan-kemuliaan yang ada seperti kekuasaan, pemerintahan, dan harta benda. Allah ta’ala menceritakan ucapan Sulaiman tatkala melihat singgasana Ratu Balqis sudah berada di sisinya (yang artinya),

“Ini adalah karunia dari Rabb-ku untuk menguji diriku. Apakah aku bisa bersyukur ataukah justru kufur.” (QS. An Naml : 40).”

Kembali beliau memaparkan,
“Maka pada hakekatnya berbagai kenikmatan itu adalah cobaan dan ujian dari Allah yang dengan hal itu akan tampak bukti syukur orang yang pandai berterima kasih dengan bukti kekufuran dari orang yang suka mengingkari nikmat. Sebagaimana halnya berbagai bentuk musibah juga menjadi cobaan yang ditimpakan dari-Nya Yang Maha Suci. Itu artinya Allah menguji dengan berbagai bentuk kenikmatan, sebagaimana Allah juga menguji manusia dengan berbagai musibah yang menimpanya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya),

“Adapun manusia, apabila Rabbnya mengujinya dengan memuliakan kedudukannya dan mencurahkan nikmat (dunia) kepadanya maka dia pun mengatakan, ‘Rabbku telah memuliakan diriku.’ Dan apabila Rabbnya mengujinya dengan menyempitkan rezkinya ia pun berkata, ‘Rabbku telah menghinakan aku.’ Sekali-kali bukanlah demikian…” (QS. Al Fajr : 15-17).

Artinya tidaklah setiap orang yang Aku lapangkan (rezkinya) dan Aku muliakan kedudukan (dunia)-nya serta Kucurahkan nikmat (duniawi) kepadanya adalah pasti orang yang Aku muliakan di sisi-Ku. Dan tidaklah setiap orang yang Aku sempitkan rezkinya dan Aku timpakan musibah kepadanya itu berarti Aku menghinakan dirinya.” (Al Fawa’id, hal. 149).

Ketawadhu’an ‘Umar bin Al Khaththab radhiyallahu’anhu

Disebutkan di dalam Al Mudawwanah Al Kubra, “Ibnul Qasim mengatakan, Aku pernah mendengar Malik membawakan sebuah kisah bahwa pada suatu ketika di masa kekhalifahan Abu Bakar ada seorang lelaki yang bermimpi bahwa ketika itu hari kiamat telah terjadi dan seluruh umat manusia dikumpulkan. Di dalam mimpi itu dia menyaksikan Umar mendapatkan ketinggian dan kemuliaan derajat yang lebih di antara manusia yang lain. Dia mengatakan: Kemudian aku berkata di dalam mimpiku,
‘Karena faktor apakah Umar bin Al Khaththab bisa mengungguli orang-orang yang lain?”
Dia berkata: Lantas ada yang berujar kepadaku,
‘Dengan sebab kedudukannya sebagai khalifah dan orang yang mati syahid, dan dia juga tidak pernah merasa takut kepada celaan siapapun selama dirinya tegak berada di atas jalan Allah.’
Pada keesokan harinya, laki-laki itu datang dan ternyata di situ ada Abu Bakar dan Umar sedang duduk bersama. Maka dia pun mengisahkan isi mimpinya itu kepada mereka berdua. Ketika dia selesai bercerita maka Umar pun menghardik orang itu seraya berkata kepadanya,
“Pergilah kamu, itu hanyalah mimpi orang tidur!”
Lelaki itupun bangkit meninggalkan tempat tersebut. Ketika Abu Bakar telah wafat dan Umar memegang urusan pemerintahan, maka beliau pun mengutus orang untuk memanggil si lelaki itu. Kemudian Umar berkata kepadanya,
“Ulangi kisah mimpi yang pernah kamu ceritakan dahulu.”
Lelaki itu menjawab,
“Bukankah anda telah menolak cerita saya dahulu?!”
Umar mengatakan,
“Tidakkah kamu merasa malu menyebutkan keutamaan diriku di tengah-tengah majelis Abu Bakar sementara pada saat itu dia sedang duduk di tempat itu?!”
Syaikh Abdul Aziz As Sadhan mengatakan,
“Umar radhiyallahu ‘anhu tidak merasa ridha keutamaan dirinya disebutkan sementara di saat itu Ash Shiddiq (Abu Bakar) -dan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu jelas lebih utama dari beliau- hadir mendengarkan kisah itu. walaupun sebenarnya dia tidak perlu merasa berat ataupun bersalah mendengarkan hal itu, akan tetapi inilah salah satu bukti kerendahan hati beliau radhiyallahu ‘anhu.”

(lihat Ma’alim fi Thariq Thalabil ‘Ilmi, hal. 103-104)

Sudahkah Kita Meneladani Akhlak Salafus Shalih?

Tauhid dan keimanan yang benar pasti akan membuahkan amal nyata. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ

”Iman itu terdiri dari tujuh puluh atau enam puluh lebih cabang. Yang tertinggi adalah ucapan la ilaha illallah dan yang terrendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu juga termasuk cabang keimanan” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairairah radhiyallahu’anhu ini lafaz Muslim).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

”Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Dan ikutilah perbuatan dosa dengan perbuatan baik niscaya akan menghapuskannya. Dan pergaulilah orang dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi dari Abu Dzar radhiyallahu’anhu, hadits hasan sahih).

Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah mengatakan,
”Rasulullah menyebutkan perintah berakhlak secara terpisah (padahal ia termasuk bagian dari takwa, pen) dikarenakan kebanyakan orang mengira bahwa ketakwaan itu hanya berkutat dengan masalah pemenuhan hak-hak Allah dan tidak berurusan dengan pemenuhan hak hamba-hamba-Nya…”. “Dan orang yang menunaikan hak-hak Allah sekaligus hak-hak sesama hamba dengan baik adalah sesuatu yang sangat jarang ditemukan, kecuali pada diri para nabi dan orang-orang yang shidiq/benar…” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, hal. 237).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang sebab paling banyak yang mengakibatkan orang masuk surga? Beliau menjawab,
“Takwa kepada Allah dan akhlaq mulia”. Beliau juga ditanya tentang sebab paling banyak yang mengakibatkan orang masuk neraka, maka beliau menjawab, “Mulut dan kemaluan” (HR. Tirmidzi, dia berkata : ‘Hadits hasan shahih).

Dua Macam Akhlak Mulia

Imam an-Nawawi rahimahullah membuat sebuah bab khusus di dalam kitab Riyadhush shalihin yang berjudul : Bab Husnul khuluq (Akhlak mulia). Maksud penyusunan bab ini oleh beliau ialah dalam rangka memotivasi agar kita memiliki akhlak yang mulia. Di dalam bab ini beliau juga hendak menerangkan keutamaan-keutamaannya serta siapa sajakah di antara hamba-hamba Allah yang memiliki sifat-sifat mulia itu. Husnul khuluq meliputi berakhlaq mulia kepada Allah dan berakhlaq mulia kepada hamba-hamba Allah.
Berakhlaq mulia kepada Allah
yaitu : senantiasa ridha terhadap ketetapan hukum-Nya, baik yang berupa aturan syari’at maupun ketetapan takdir, menerimanya dengan dada yang lapang tanpa keluh kesah, tidak berputus asa ataupun bersedih. Apabila Allah menakdirkan sesuatu yang tidak disukai menimpa seorang muslim maka hendaknya dia ridha terhadapnya, pasrah dan sabar dalam menghadapinya. Dia ucapkan dengan lisan dan hatinya, Radhiitu billaahi rabban ‘Aku ridha Allah sebagai Rabb’. Apabila Allah menetapkan keputusan hukum syar’i kepadanya maka dia menerimanya dengan ridha dan pasrah, tunduk patuh melaksanakan syari’at Allah ‘Azza wa Jalla dengan dada yang lapang dan hati yang tenang, inilah makna berakhlak mulia terhadap Allah ‘Azza wa Jalla.
Adapun berakhlak mulia kepada sesama hamba
Ialah dengan menempuh cara sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian ulama, yaitu yang tercakup dalam tiga ungkapan berikut ini :

1. Kafful adza (menahan diri dari mengganggu)
2. Badzlu nada (memberikan kebaikan yang dipunyai)
3. Thalaqatul wajhi (bermuka berseri-seri, ramah).

Kafful adza : yaitu dengan tidak mengganggu sesama baik melalui ucapan maupun perbuatannya.

Badzlu nada : yaitu rela memberikan apa yang dimilikinya berupa harta atau ilmu atau kedudukan dan kebaikan lainnya.

Thalaqatul wajhi adalah : dengan cara memasang wajah berseri apabila berjumpa dengan sesama, tidak bermuka masam atau memalingkan pipi, inilah husnul khuluq.

Orang yang dapat melakukan ketiga hal ini niscaya dia juga akan bisa bersabar menghadapi gangguan yang ditimpakan manusia kepadanya, sebab bersabar menghadapi gangguan mereka termasuk husnul khuluq juga. Bahkan jika dia mengharapkan pahala dari Allah atas kesabarannya tentulah itu akan membuahkan kebaikan di sisi Allah Ta’al.

(semua paragraf di atas disarikan dari Syarah Riyadhush Shalihin Syaikh al-Utsaimin, II/387)

Bagaimana berakhlak mulia kepada sesama ?

Di dalam sebuah ayat Allah telah menghimpun beberapa kunci pokok untuk bisa meraih akhlak yang mulia kepada sesama. Barangsiapa mempraktekkannya niscaya akan merasakan kenikmatan buahnya. Allah Ta’ala berfirman,

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

“Jadilah Engkau Pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh” (QS. al-A’raaf : 199)

Ayat yang mulia ini telah merangkum kandungan makna-makna husnul khuluq kepada sesama serta apa saja yang sepantasnya dilakukan oleh seorang hamba dalam hal mu’amalah dan pergaulan hidup mereka. Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk melakukan tiga hal :
1. Menjadi pema’af
2. Menyuruh orang agar mengerjakan yang ma’ruf
3. Berpaling dari orang-orang yang bodoh

Pengertian pema’af di sini luas. Ia mencakup segala bentuk perbuatan dan akhlak yang dapat membuat hati mereka lapang dan memberikan kemudahan untuk orang lain. Sehingga dia tidak membebankan perkara-perkara sulit yang tidak sesuai dengan tabi’at mereka. Bahkan dia mampu mensyukuri (berterima kasih) terhadap apa saja yang mereka berikan baik berwujud ucapan maupun perbuatan yang santun atau bahkan yang lebih rendah darinya. Hal itu juga disertai dengan sikap memaklumi kekurangan dan kelemahan yang ada pada diri orang lain. Dia tidak menyombongkan diri di hadapan yang kecil dan yang lemah akalnya karena kelemahan-kelemahan mereka.

Begitu pula, dia tidak sombong kepada orang yang miskin disebabkan kemiskinannya. Bahkan dia mampu berinteraksi dengan semuanya dengan lemah lembut dan melapangkan dada-dada mereka. Ia memilih sikap yang tepat menurut situasi dan kondisi yang ada.

Pengertian mengerjakan yang ma’ruf adalah : segala ucapan dan perbuatan yang baik, budi pekerti yang sempurna, terhadap orang yang memiliki hubungan dekat maupun jauh. Hendaknya kamu bersikap baik kepada mereka dengan mengajarkan ilmu yang kamu miliki, menganjurkan kebaikan, menyambung tali silaturahim, berbakti kepada kedua orang tua, mendamaikan persengketaan yang terjadi di antara sesama, atau menyumbangkan nasihat yang bermanfaat, pendapat yang jitu, memberikan bantuan demi kebaikan dan takwa, menghalangi terjadinya suatu keburukan atau dengan memberikan arahan untuk meraih kebaikan diniyah (agama) maupun duniawiyah (dunia).

Berpaling dari orang-orang yang bodoh artinya tidak melayani atau ikut larut dalam kebodohan mereka. Jika mereka mengusik anda dengan kata-kata atau dengan tindakan bodoh maka menyingkirlah. Anda tidak perlu membalas dendam dengan mengganggu mereka pula. Barangsiapa yang memutuskan hubungan dengan anda maka sambunglah hubungan dengannya. Dan barangsiapa yang menzhalimi anda maka berbuat adillah kepadanya. Dengan cara itulah anda akan memperoleh limpahan pahala dari Allah, hati menjadi tentram dan tenang, bebas dari ulah orang-orang bodoh, bahkan dengan cara itu dapat merubah orang yang semula musuh menjadi teman.

(diramu dari Taisir al-Karim ar-Rahman hal. 313 dan Taisir Lathif al-Mannan hal.83-84)

Orang yang paling dekat dengan Nabi di hari kiamat

Diriwayatkan dari Jabir radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَيَّ وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ وَالْمُتَفَيْهِقُونَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ عَلِمْنَا الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ فَمَا الْمُتَفَيْهِقُونَ قَالَ الْمُتَكَبِّرُونَ

“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat kedudukannya denganku di hari kiamat kelak adalah orang yang terbaik akhlaqnya. Dan orang yang paling aku benci dan paling jauh dariku pada hari kiamat kelak adalah tsartsarun, mutasyaddiqun dan mutafaihiqun”. Sahabat berkata : “Ya Rasulullah…kami sudah tahu arti tsartsarun dan mutasyaddiqun, lalu apa arti mutafaihiquun?” Beliau menjawab, “Orang yang sombong” (HR. Tirmidzi, ia berkata ‘hadits ini hasan gharib’. Hadits ini dishahihkan oleh al-Albani dalam kitab Shahih Sunan Tirmidzi)

Di dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan bahwa orang yang paling dekat dengan beliau adalah orang-orang yang paling baik akhlaknya. Maka apabila akhlak anda semakin mulia niscaya kedudukan anda di hari kiamat kelak akan semakin dekat dengan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dibandingkan selain anda. Sedangkan orang yang terjauh posisinya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari kiamat kelak adalah tsartsarun, mutasyaddiqun dan mutafaihiqun. (Syarh Riyadhush Shalihin, hal. 396-397).

Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan
bahwa makna tsartsarun adalah orang yang banyak bicara dan suka menyerobot pembicaraan orang lain. Apabila dia duduk ngobrol dalam suatu majelis dia sering menyerobot pembicaraan orang lain, sehingga seolah-olah tidak boleh ada yang bicara dalam majelis itu selain dia. Dia berbicara tanpa membiarkan orang lain leluasa berkata-kata. Perbuatan seperti ini tidak diragukan lagi termasuk kesombongan. Yang dimaksud majelis dalam konteks ini adalah pembicaraan-pembicaraan sehari-hari bukan majelis ilmu atau pengajian, sebab jika suatu saat anda mendapat kesempatan untuk memberikan nasihat atau mengisi kajian di depan mereka lalu anda sendirian yang lebih banyak berbicara maka hal ini tidaklah mengapa. (lihat Syarh Riyadhush Shalihin, hal. 397).

Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan
bahwa makna mutasyaddiqun adalah orang yang suka berbicara dengan gaya bicara yang meremehkan orang lain seolah-olah dia adalah orang paling fasih, itu dilakukannya karena kesombongan dan bangga diri yang berlebihan. Seperti contohnya berbicara dengan menggunakan bahasa Arab di hadapan orang-orang awam, sebab kebanyakan orang awam tidak paham bahasa Arab. Seandainya anda mengajak bicara mereka dengan bahasa Arab maka tentulah hal itu terhitung sikap berlebihan dan memaksa-maksakan dalam pembicaraan. Adapun jika anda sedang mengajar di hadapan para penuntut ilmu maka biasakanlah berbicara dengan bahasa Arab dalam rangka mendidik dan melatih mereka agar sanggup berbicara dengan bahasa Arab. Adapun terhadap orang awam maka tidak selayaknya anda berbicara dengan mereka dengan bahasa Arab, tetapi bicaralah dengan mereka dengan bahasa yang mereka pahami dan jangan banyak memakai istilah-istilah asing, artinya janganlah anda menggunakan kata-kata asing yang sulit mereka mengerti, karena hal itu termasuk berlebihan dan angkuh dalam pembicaraan. (lihat Syarh Riyadhush Shalihin, hal. 397).

Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan
Makna mutafaihiqun : Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkannya yaitu orang-orang yang sombong. Orang sombong ini bersikap angkuh di hadapan orang-orang. Jika berdiri untuk berjalan seolah-olah dia berjalan di atas helaian daun (dengan langkah kaki yang dibuat-buat –pent) karena adanya kesombongan di dalam dirinya.

Perilaku ini tak diragukan lagi termasuk akhlak yang sangat tercela, wajib bagi setiap orang untuk menghindarinya. Karena yang namanya orang tetap saja manusia biasa, maka hendaklah dia mengerti ukuran dirinya sendiri. Meskipun dia telah dikaruniai sekian banyak harta, kedalaman ilmu atau kedudukan yang tinggi oleh Allah, seyogyanya dia merendahkan diri (tawadhu’).

Sikap tawadhu’ orang-orang yang telah mendapat anugerah harta, ilmu, atau kedudukan tentu lebih utama nilainya daripada tawadhu’nya orang-orang yang tidak seperti mereka. Oleh sebab itu terdapat dalam sebuah hadits yang memberitakan orang-orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah dan tidak disucikan-Nya pada hari kiamat, diantara mereka adalah : “Orang miskin yang sombong” Sebab orang miskin tidak mempunyai faktor pendorong (modal) untuk sombong. … Sudah semestinya orang-orang yang diberi anugerah nikmat oleh Allah semakin meningkatkan syukurnya kepada Allah serta semakin tambah tawadhu’ kepada sesama,

semoga Allah memberikan taufiq kepada saya dan seluruh umat Islam untuk memiliki akhlak yang mulia dan amal yang baik, dan semoga Allah menjauhkan kita dari akhlak-akhlak yang buruk dan amal-amal yang jelek, sesungguhnya Dia Maha dermawan lagi Maha mulia.

(lihat Syarah Riyadhush Shalihin, hal. 397-398)

Semoga artikel diatas bermanfaat buat kita semua.

Diambil dari beberapa sumber:
Artikel: Keutamaan Sifat Tawadhu’
http://al-atsariyyah.com/keutamaan-sifat-tawadhu.html

Artikel tiga sumber dibawah, penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/ilmu-menumbuhkan-sifat-tawadhu.html
http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/sombong-vs-tawadhu.html
http://abumushlih.com/sudahkah-kita-meneladani-akhlak-salafus-shalih.html/
___________________________

Artikel terkait:
Jauhilah Sikap Sombong
http://www.facebook.com/note.php?note_id=485544671688

Kiat Menggapai Akhlak Mulia
http://www.facebook.com/note.php?note_id=485498646688

Sifat Ujub
http://www.facebook.com/note.php?note_id=413842546688

Zuhud
http://www.facebook.com/note.php?note_id=411836601688

Obat Penyakit Riya'
http://www.facebook.com/note.php?saved&&suggest&note_id=422894181688

Renungan Kejujuran
http://www.facebook.com/note.php?note_id=482500136688

Renungan Kehidupan Dunia
http://www.facebook.com/note.php?note_id=484927541688

Syukur
http://www.facebook.com/photo.php?pid=212883&id=100000454734476

Rahasia Syukur, Sabar Dan Istighfar
http://www.facebook.com/note.php?note_id=480918596688

Meraih Iman yang Sempurna
http://www.facebook.com/note.php?note_id=483271466688

Menyucikan Jiwa
http://www.facebook.com/notes/faisal-choir/menyucikan-jiwa-pilihan-mutiara-nasihat-ibnu-qayyim-al-jauziyyah-rhmh-allh-/418908846688

Intropeksi Diri (Muhasabah an-Nafs)
http://www.facebook.com/note.php?note_id=467501911688
loading...