Showing posts with label Sejarah Peradaban Islam. Show all posts
Showing posts with label Sejarah Peradaban Islam. Show all posts

Friday, 2 September 2016

KISAH SEJARAH FIR’AUN

KISAH SEJARAH FIR’AUN

Image result for fir'aun
Pyramida Mesir - source:  www.republika.co.id

Fir'aun (Arab: فرعون Firʻawn; bahasa Ibrani: פַּרְעֹה, paroh; bahasa Inggris: Pharaoh) adalah gelar yang dalam diskusi dunia modern digunakan untuk seluruh penguasa Mesir kuno dari semua periode. Dahulu, gelar ini mulai digunakan untuk penguasa yang merupakan pemimpin keagamaan dan politik kesatuan Mesir kuno, hanya selama Kerajaan Baru, secara spesifik, selama pertengahan dinasti kedelapanbelas. Untuk penyederhanaan, terdapat kesepakatan umum di antara penulis modern untuk menggunakan istilah ini untuk merujuk penguasa Mesir semua periode. (Wikipedia)

Etimologi
Firaun diyakini berasal dari kata Ibrani Paroh. Sedangkan kata "Firaun" dalam bahasa Indonesia adalah bentuk dalam bahasa Arab dari kata ini. Kata Ibrani aslinya berasal dari bahasa Mesir Pr-Aa yang artinya adalah "Rumah Besar". Pertama-pertama ini adalah istilah untuk istana kerajaan, tetapi lama-lama artinya adalah penghuni istana ini, yaitu sang raja.

Gelar firaun
Asal mula gelar Firaun terjadi pada masa awal-awal perkembangan masyarakat lembah Sungai Nil yang sangat subur yang bercorak pertanian. Untuk pengairan, masyarakat mesir kuno pada awalnya mengandalkan musim banjir dan kemudian dilengkapi dengan irigasi teknis pada masa-masa berikutnya. Karena tanah dan batas-batas tanah sangat penting dalam struktur masyarakat mesir kuno saat itu, maka diangkatlah tokoh masyarakat yang dihormati untuk mengatur batas-batas tanah dan segala hal yang menyangkut tata kehidupan masyarakat. Tetua masyarakat itu diberi gelar pharao (firaun) yang karena berkembangnya sistem kemasyarakatan dan negara, Pharao ini diangkat menjadi raja yang pada masa itu sebagai pemimpin negara dan pemimpin keagamaan.
Pada awal perkembangannya, masyarakat Mesir kuno terbagi atas Mesir hulu dan Mesir hilir yang memiliki firaun dan lambang mahkota sendiri sendiri. Raja Menes dari Thebes akhirnya menyatukan kedua daerah menjadi satu kesatuan kekuasaan. Mahkota yang digunakan adalah mahkota rangkap.

Kisah Firaun
Pada suatu ketika, Nabi Musa menyampaikan pesan dari Allah kepada Firaun dan pengikutnya. Mereka diminta untuk menyembah Allah. Apabila mereka tidak mau, Allah akan menurunkan azab. Namun mereka tidak takut dengan ancaman Allah. Setelah itu, Allah mendatangkan musim kemarau yang panjang, Sungai Nil menjadi kering dan tanaman tidak tumbuh. Pengikut Firaun tetap tidak mau beriman. Mereka beranggapan bahwa bencana tersebut disebabkan  oleh Nabi Musa. Akhirnya, Allah menurunkan hujan setelah Nabi Musa berdoa. Dengan demikian, tanaman dapat tumbuh lagi Firaun dan pengikutnya merasa hal itu adalah hasil usahanya.

kisah-azab-firaun-dan-pengikutnya
Ilustrasi - berbagai sumber

             Kemudian, Allah menurunkan topan yang dahsyat. Tanaman mereka rusak. Para pengikut Firaun pun mendatangi Nabi Musa. Mereka meminta bencana topan dihentikan. Mereka juga berjanji akan menerima ajaran Nabi Musa. Setelah itu, Allah menghentikan bencana topan dan tanaman tumbuh subur kembali. Namun, mereka ingkar terhadap janji mereka. Berulang kali Allah menurunkan azab. Berulang kali pula mereka meminta bantuan Nabi Musa dan mengingkari janji mereka sendiri. Hanya sedikit pengikut Firaun yang beriman kepada Allah swt.
Kisah azab Allah kepada Firaun dan pengikutnya ada dalam Al-Quran Surat Al-Araaf ayat 130-131.


وَلَقَدْ أَخَذْنَا آلَ فِرْعَوْنَ بِالسِّنِينَ وَنَقْصٍ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ
Artinya:
130. “Dan Sesungguhnya kami Telah menghukum (Fir'aun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pelajaran”

فَإِذَا جَاءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ قَالُوا لَنَا هَٰذِهِ ۖ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَطَّيَّرُوا بِمُوسَىٰ وَمَنْ مَعَهُ ۗ أَلَا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
131.  “Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: "Itu adalah Karena (usaha) kami". dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, Sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak Mengetahui” (QS. Al-Araaf ayat 130-131).

Dalam ayat 133-134 Surat Al-A”raaf dijelaskan tentang azab Allah kepada kaum Firaun.

فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمُ الطُّوفَانَ وَالْجَرَادَ وَالْقُمَّلَ وَالضَّفَادِعَ وَالدَّمَ آيَاتٍ مُفَصَّلَاتٍ فَاسْتَكْبَرُوا وَكَانُوا قَوْمًا مُجْرِمِينَ
Artinya:
133. “Maka kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah[558] sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa”.

وَلَمَّا وَقَعَ عَلَيْهِمُ الرِّجْزُ قَالُوا يَا مُوسَى ادْعُ لَنَا رَبَّكَ بِمَا عَهِدَ عِنْدَكَ ۖ لَئِنْ كَشَفْتَ عَنَّا الرِّجْزَ لَنُؤْمِنَنَّ لَكَ وَلَنُرْسِلَنَّ مَعَكَ بَنِي إِسْرَائِيلَ
134. “Dan ketika mereka ditimpa azab (yang Telah diterangkan itu) merekapun berkata: "Hai Musa, mohonkanlah untuk kami kepada Tuhamnu dengan (perantaraan) kenabian yang diketahui Allah ada pada sisimu[559]. Sesungguhnya jika kamu dapat menghilangkan azab itu dan pada kami, pasti kami akan beriman kepadamu dan akan kami biarkan Bani Israil pergi bersamamu" (QS. Al-Araaf ayat 133-134).

[558]  Maksudnya: air minum mereka beubah menjadi darah.
[559]  Maksudnya: Karena Musa a.s. Telah dianugerahi kenabian oleh Allah, sebab itu mereka meminta dengan perantaraan kenabian itu agar Musa a.s.memohon kepada Allah.

Allah menghilangkan azab mereka. Namun, mereka mengingkari janji mereka.

فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُمُ الرِّجْزَ إِلَىٰ أَجَلٍ هُمْ بَالِغُوهُ إِذَا هُمْ يَنْكُثُونَ
Artinya:
135. “Maka setelah kami hilangkan azab itu dari mereka hingga batas waktu yang mereka sampai kepadanya, tiba-tiba mereka mengingkarinya” (QS. Al-Araaf ayat 135).

Sikap Firaun Yang Angkuh

Firaun risau dengan pernyataan Nabi Musa bahwa ada tuhan yang lain selain dia. Ia menganggap dirinya sebagai tuhan. Rakyatnya diminta menyembah dirinya. Kemudian, ia mengumpulkan rakyatnya. Dia antara yang hadir terdapat Haman. Haman adalah salah seorang menteri Firaun. Firaun memerintahkan kepada Haman, “Aku ingin kau membangun bangunan tinggi pencakar langit. Tingginya harus mencapai pintu-pintu langit. Aku akan naik dan melihat wajah Tuhannya Musa. Bukankah Tuhannya Musa berada di atas langit?”. Haman menyanggupinya. Ia mengumpulkan ribuan tukang batu dan tukang kayu.
Pada akhirnya, bangunan telah selesai dibangun. Puncak bangunan tidak kelihatan karena sangat tinggi. Firaun pun segera naik di bagian puncak yang paling tinggi. Di tempat itu. ia mengarahkan anak panahnya ke langit. Dengan izin Allah, anak panah jatuh di hadapan Firaun. Anak panahnya berlumuran darah karena sebelumnya telah dicelupkan ke dalam darah. Firaun menyombongkan diri dan berkata. “Lihatlah, aku telah membunuh Tuhannya Musa.”
Firaun memandang baik perbuatan buruknya. Semua tipu dayanya akan membawa kerugian. Kisah ini diceritakan dalam Surat Al-Mukmin ayat 36-37.

وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَا هَامَانُ ابْنِ لِي صَرْحًا لَعَلِّي أَبْلُغُ الْأَسْبَابَ
Artinya:
36.“Dan berkatalah Fir'aun: "Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang Tinggi supaya Aku sampai ke pintu-pintu”,

أَسْبَابَ السَّمَاوَاتِ فَأَطَّلِعَ إِلَىٰ إِلَٰهِ مُوسَىٰ وَإِنِّي لَأَظُنُّهُ كَاذِبًا ۚ وَكَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِفِرْعَوْنَ سُوءُ عَمَلِهِ وَصُدَّ عَنِ السَّبِيلِ ۚ وَمَا كَيْدُ فِرْعَوْنَ إِلَّا فِي تَبَابٍ
37.“(yaitu) pintu-pintu langit, supaya Aku dapat melihat Tuhan Musa dan Sesungguhnya Aku memandangnya seorang pendusta". Demikianlah dijadikan Fir'aun memandang baik perbuatan yang buruk itu, dan dia dihalangi dari jalan (yang benar); dan tipu daya Fir'aun itu tidak lain hanyalah membawa kerugian” (QS. Al-Mu’min ayat 36-37).

Firaun merupakan Penguasa Zalim

وَإِنَّ فِرْعَوْنَ لَعَالٍ فِي الْأَرْضِ وَإِنَّهُ لَمِنَ الْمُسْرِفِينَ
Artinya:
 “Dan sesungguhnya Fir’aun itu berbuat sewenang-wenang di muka bumi. Dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang melampaui batas “ (Yunus: 83).

Fir’aun adalah Penguasa zalim yang namanya diabadikan dalam al-Qur’an oleh Allah SWT. Karena kezhalimannya sebagai Pemimpin hingga mengaku sebagai Tuhan, akhirnya ia ditenggelamkan Allah. Tak hanya itu, Bangkainya menjadi awet sampai sekarang dan menjadi pelajaran bagi orang-orang sesudahnya. Ada pelajaran yang dapat diambil manusia sesudahnya, Jangan berlaku zalim ketika jadi Pemimpin.
Kisah Firaun dalam kutipan ayat dimaksud adalah gambaran sosok Pemimpin zalim yang Allah murkai. Dalam diri Fir’aun terakumulasi semua sifat dan juga sikap yang merusak. Sikap sewenang-wenang yang melampaui batas adalah karakter merusak. Kesombongan, keangkuhan meliliti jiwanya.
Allah berfirman :

وَأَضَلَّ فِرْعَوْنُ قَوْمَهُ وَمَا هَدَىٰ
 Artinya:
“Dan Fir’aun telah menyesatkan kaumnya dan tidak memberi petunjuk “ (Thaha : 79).

Penguasa yang zalim yang Allah murka akan memiliki pemikiran pendek dan picik. Sebagaimana yang disebutkan dalam Alquran tentang Fir’aun:

وَاسْتَكْبَرَ هُوَ وَجُنُودُهُ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ إِلَيْنَا لَا يُرْجَعُونَ
Artinya:
 “Dan berlaku angkuhlah Fir’aun dan bala tentaranya di bumi (Mesir) tanpa alasan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka tidak akan dikembalikan kepada Kami” (Al-Qashash : 39).

Singkat cerita, Nabi Musa AS berdoa kepada Allah SWT untuk membinasakan Fir’aun Si Penguasa yang Zalim dan bala tentaranya dengan diaminkan oleh Nabi Harun AS. Kemudian Allah SWT mengabulkan doa keduanya.

وَقَالَ مُوسَىٰ رَبَّنَا إِنَّكَ آتَيْتَ فِرْعَوْنَ وَمَلَأَهُ زِينَةً وَأَمْوَالًا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا رَبَّنَا لِيُضِلُّوا عَنْ سَبِيلِكَ ۖ رَبَّنَا اطْمِسْ عَلَىٰ أَمْوَالِهِمْ وَاشْدُدْ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُوا حَتَّىٰ يَرَوُا الْعَذَابَ الْأَلِيمَ
Artinya:
88.”Musa berkata: "Ya Tuhan kami, Sesungguhnya Engkau Telah memberi kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, Ya Tuhan kami - akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, Maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih."

قَالَ قَدْ أُجِيبَتْ دَعْوَتُكُمَا فَاسْتَقِيمَا وَلَا تَتَّبِعَانِّ سَبِيلَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
89.”AlIah berfirman: "Sesungguhnya Telah diperkenankan permohonan kamu berdua, sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus dan janganlah sekali-kali kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak Mengetahui". (QS. Yunus: 88-89)

Fir’aun sebagai Pemimpin yang angkuh dihinakan oleh Allah. Atas petunjuk Allah SWT, Nabi Musa AS pergi meninggalkan kota Memphis menuju ke Laut Merah. Fir’aun dan bala tentara menyusul dari belakang. Setibanya di tepi Laut Merah, Allah perintahkan kepada Musa ‘alaihi salam untuk memukulkan tongkatnya ke laut, secepat kilat laut pun terbelah, bukan surut. Seketika itu juga, Nabi Musa dan pengikutnya menyeberang lautan yang terus terbelah sampai mereka semua selamat tiba di seberang. Setelah itu laut menutup menenggelamkan sang raja besar yang sombong.

Bani Israil Meninggalkan Mesir

Pada masa pemerintahan Firaun, kaum Bani Israel telah menjadi pengikut Nabi Musa. Mereka percaya bahwa nabi Musa adalah utusan Allah. Firaun sangat tidak senang dengan keadaan demikian. Oleh karena itu, Firaun berkeinginan menghancurkan kaum Bani Israel dan Nabi Musa. Nabi Musa dan kaum bani Israel merencanakan untuk pergi meninggalkan negeri Mesir. Pada suatu malam, mereka berkumpul di suatu tempat yang telah ditentukan. Mereka pergi meninggalkan tanah Mesir menuju ke negeri Palestina. Mereka pergi secara diam-diam karena khawatir diketahui oleh Firaun dan tentaranya.
Bani Israel melewati padang pasir hingga sampai ditepi laut. Sementara itu, tentara Firaun melakukan pengejaran kepada mereka. Bani Israel kebingungan karena mereka tidak tahu cara untuk menyeberangi lautan. Bala tentara Firaun semakin dekat dengan kaum Bain Israel. Kaum bani Israel  dalam kondisi mulai panik. Mereka marah dan menyesal telah menjadi pengikut Nabi Musa. Salah seorang pengikut Musa mengatakan bahwa mereka  benar-benar akan tersusul oleh tentara Firaun. Kemudian, nabi Musa berkata, “Kita tidak akan tersusul.
Sesungguhnya Tuhanku besertaku. Allah akan memberi petunjuk kepadaku. Perjalanan kita ini diperintahkan oleh Allah kepadaku. Dialah yang akan menyelamatkan kita.
فَلَمَّا تَرَاءَى الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَىٰ إِنَّا لَمُدْرَكُونَ
Artinya:
61.”Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: "Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul".

قَالَ كَلَّا ۖ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ
62.”Musa menjawab: "Sekali-kali tidak akan tersusul; Sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak dia akan memberi petunjuk kepadaku"  (QS. Asy-Syau’ara ayat 61-62).

Kematian Firaun

Mereka terlihat panik karena tentara Firaun semakin dekat dengan mereka. Dalam kondisi yang genting itu. Allah memerintahkan Nabi Musa untuk segera memukulkan tongkatnya ke laut. Setelah memukulkan tongkatnya, terbelahlah lautan hingga terbentuk dua belas lorong yang lurus. Kaum Bani Israel segera berlari di jalan tersebut menuju seberang laut. Melalui jalan itu juga, Firaun dan tentaranya mengejar mereka.
Nabi Musa dan kaum Bani Israel telah sampai di seberang laut. Sementara itu, Firaun dan tentaranya masih berada ditengah laut. Pada saat itulah, Allah memerintahkan laut untuk kembali pada keadaan semula. Firaun dan tentaranya pun tenggalam. Firaun menjadi lemas. Ia berkata, “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israel, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. Namun Allah telah menutup pintu tobat bagi Firaun. Firaun mati lemas di tengah laut.
Menurut ahli sejarah, jasad Firaun terdampar dipantai dan ditemukan oleh orang-orang Mesir. Jasadnya dibalsem dan masih utuh hingga sekarang. Kisah  kematian Firaun diantaranya dalam Surat Yunus ayat 90-92.

وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُ بَغْيًا وَعَدْوًا ۖ حَتَّىٰ إِذَا أَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ آمَنْتُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا الَّذِي آمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Artinya:
90.”Dan kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir'aun dan bala tentaranya, Karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir'aun itu Telah hampir tenggelam berkatalah dia: "Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)".

آلْآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ
91.”Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal Sesungguhnya kamu Telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.

فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً ۚ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ
92.”Maka pada hari Ini kami selamatkan badanmu[704] supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan Sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan kami” (QS. Yunus ayat 90-92)

[704]  yang diselamatkan Allah ialah tubuh kasarnya, menurut sejarah, setelah Fir'aun itu tenggelam mayatnya terdampar di pantai diketemukan oleh orang-orang Mesir lalu dibalsem, sehingga utuh sampai sekarang dan dapat dilihat di musium Mesir, Berhias, atau bepergian, atau menerima pinangan.

Kaum Bani Israil Tidak Bersyukur

Nabi Musa dan kaum Bani Israel telah selamat dari kejaran Firaun dan tentaranya. Mereka berada di seberang lautan. Selanjutnya, mereka melanjutkan perjalanan. Dalam Surat Al-A”raaf ayat 38 dikisahkan bahwa dalam perjalanan kaum Bani Israel melihat sekelompok orang yang menyembah berhala. Kemudian mereka meminta Nabi Musa membuat patung berhala. Nabi Musa menjawab, “Sungguh kamu orang-orang yang bodoh. Pantaskah aku mencari tuhan untukmu selain Allah, padahal Allah yang telah melebihkanmu dari umat yang lain.”

قَالَ ادْخُلُوا فِي أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ فِي النَّارِ ۖ كُلَّمَا دَخَلَتْ أُمَّةٌ لَعَنَتْ أُخْتَهَا ۖ حَتَّىٰ إِذَا ادَّارَكُوا فِيهَا جَمِيعًا قَالَتْ أُخْرَاهُمْ لِأُولَاهُمْ رَبَّنَا هَٰؤُلَاءِ أَضَلُّونَا فَآتِهِمْ عَذَابًا ضِعْفًا مِنَ النَّارِ ۖ قَالَ لِكُلٍّ ضِعْفٌ وَلَٰكِنْ لَا تَعْلَمُونَ
Artinya:
38.  Allah berfirman: "Masuklah kamu sekalian ke dalam neraka bersama umat-umat jin dan manusia yang Telah terdahulu sebelum kamu. setiap suatu umat masuk (ke dalam neraka), dia mengutuk Kawannya (menyesatkannya); sehingga apabila mereka masuk semuanya berkatalah orang-orang yang masuk kemudian[538] di antara mereka kepada orang-orang yang masuk terdahulu[539]: "Ya Tuhan kami, mereka Telah menyesatkan kami, sebab itu datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka". Allah berfirman: "Masing-masing mendapat (siksaan) yang berlipat ganda, akan tetapi kamu tidak Mengetahui" (QS. Al-‘Araaf ayat 38)

Pada saat mereka sampai di Gunung Sinai, mereka kepanasan. Allah pun menciptakan awan. Dengan demikian, mereka dapat terlindung dari panas matahari. Allah juga memberikan makanan kepada mereka saat persediaan makanan mereka telah habis. Ketika air telah habis, Allah mewahyukan kepada Nabi Musa untuk memukulkan tongkatnya pada batu. Air pun keluar  dari batu tersebut.
Allah telah memberikan karunia yang melimpah pada kaum Bani Israel. Namun, mereka belum merasa puas. Mereka menginginkan makanan yang lain. Kemudian, Nabi Musa menyindir mereka dengan berkata, “Pergilah ke Mesir ! Disana kamu akan mendapatkan apa yang kalian inginkan.”
Al-Quran mengisahkan nikmat Allah yang diberikan kepada kaum bani Israel. Di antaranya adalah dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 57, “dan Kami naungi kamu dengan awan, dan Kami turunkan kepadamu “Manna” dan “salwa”. Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah kami berikan kepadamu dan tidaklah mereka menganiaya Kami, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” Manna adalah makanan manis sejenis madu, sedangkan Salwa adalah burung sebangsa burung puyuh.
Demikianlah kaum Bani Israel yang tidak bersyukur dan tidak bersabar. Sesungguhnya Allah Maha Kaya dan Maha Terpuji. Allah tidak memerlukan syukur dari hamba-hamba-Nya.


Source:


1. http://iswahyudi-wahyu.top/2016/09/kisah-sejarah-firaun.html
2. https://id.wikipedia.org/wiki/Firaun
3. http://dunia-nabi.blogspot.co.id/2015/04/kisah-azab-firaun-dan-pengikutnya.html
4. http://webislami.com/kisah-firaun/


Tuesday, 8 December 2015

Sejarah Peradaban Islam di Indonesia


BAB I
PENDAHULUAN
       I.            Latar belakang Masalah
Hadirnya Islam di muka bumi merupakan sebuah anugrah yang di berikan pencipta kepadan umat manusia, sehingga dapat membenahi kesemerawutan, dan kebobrokan umat manusia pada saat itu.
Kejahiliahan masyarakat pada saat itu sedikit demi sedikit dapat ditangani oleh Islam melalui penyebaran ajarannya, walaupun hal tersebut mulanya di tentang oleh masyarakat. Berkat ketekunan, ketangguhan, dan kesabaran Nabi Muhammad dan sahabat, Islam dapat tersebar luas hingga ke plosok dunia, Indonesia merupakan salah satu didalamnya.
Sejak zaman pra sejarah, penduduk kepulauan Indonesia dikenal sebagai pelayar yang sanggup mengarungi lautan lepas. Sejak awal abad Masehi sudah ada rute-rute pelayaran dan perdagangan antar kepulauan Indonesia dengan  berbagai daerah didataran Asia Tenggara.
Wilayah barat Nusantara dan sekitar malaka sejak masa kuno merupakan wilayah yang menjadi titik perhatian, terutama karena hasil bumi yang dijual disana menarik para pedagang, serta menjadi daerah lintasan penting antara cina dan india. Pelabuhan-pelabuhan penting di Sumatra dan Jawa antara abad ke 1 dan ke 7 M sering disinggahi pedagang asing.
Pedagang muslim asal Arab, Persia, dan India juga ada yang sampai ke kepulauan Indonesia untuk berdagang. Berawal dari situlah islam mulai dikenal dan tersebar secara luas di Indonesia. Untuk memperjelas hal tersebut, makalah ini berusaha menguak sejarah awal masuk dan berkembangnya islam di Indonesai, mulai dari teorinya, cara mengislamkan penduduk Indonesia, hingga perkembangannya di Nusantara.

    II.            RUMUSAN MASALAH
1.      Apasaja yang menjadi dasar teori masuknya Islam di Indonesia?
2.      Bagaimana Cara-cara dan Saluran Islamisasi di Indonesia?
3.      Seperti apa perkembangan Islam di Nusantara?


BAB II
PEMBAHASAN

1.      Teori Masuknya Islam di Indonesia
Lahirnya agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW, pada abad ke-7 M, menimbulkan suatu tenaga penggerak yang luar biasa, yang pernah dialami oleh umat manusia. Islam merupakan gerakan raksasa yang telah berjalan sepanjang zaman dalam pertumbuhan dan perkembangannya. 
Masuk dan berkembangnya Islam ke Indonesia dipandang dari segi historis dan sosiologis sangat kompleks dan terdapat banyak masalah, terutama tentang sejarah perkembangan awal Islam.
Suatu kenyataan bahwa kedatangan Islam ke Indonesia dilakukan secara damai. Islam dalam batas-batas tertentu disebarkan oleh pedagang, kemudian dilanjutkan oleh para guru agama dan pengembara sufi. Orang yang terlibat dalam penyebaran islam tidak bertendensi, mereka hanya melakukan kewajiban tanpa pamrih, sehingga nama-nama mereka berlalu begitu saja. Dampaknya ialah terjadi perbedaan pendapat mengenai kedatangan islam pertama kali di Indonesia. (Musyrifah Sunanto, Sejarah Peradaban Islam Indonesia, (Jakarta: Rajawali Pers, 2010), hlm.,7.)
Secara garis besar perbedaan pendapat itu dapat dibagi sebagai berikut:
·         Dipelopori oleh sarjana-sarjana orientalis Belanda, diantaranya Snouck Hurgronje yang berpendapt bahwa Islam datang ke Indonesia pada abad ke-13 M dari Gujarat dengan bukti ditemukannya makam sultan yang beragama Islam pertama Malik as-Sholeh, raja pertama kerajaan samudra pasai yang dikatakan berasal dari gujarat.
·         Dikemukakan oleh sarjana-sarjana Muslim, diantaranya Prof. Hamka, yang mengadakan “Seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia” di Medan tahun 1963. Hamka dan teman-temannya berpendapat bahwa islam sudah datang ke Indonesia pada abad pertama Hijriyah (± abad ke-7 sampai 8 M) langsung dari Arab dengan bukti jalur pelayaran yang ramai dan bersifat internasional sudah dimulai jauh sebelum abad ke-13 melalui selat malaka tang menghubungkan Dinasti Tang di Cina (Asia Timur), Sriwijaya di Asia Tenggara dan Bani Umayyah di Asia Barat.
Sarjana Muslim kontemporer seperti Taufik Abdullah mengkompromikan kedua pendapat tersebut. Menurutnya memang benar Islam sudah datang ke indonesia sejak abad pertama Hijriyah atau abad ke-7 M, tetapi baru dianut oleh pedagang Timur Tengah di pelabuhan-pelabuhan. Barulah Islam masuk secara besar-besaran dan mempunyai kekuatan politik pada abad ke-13 dengan berdirinya Kerajaan Samudra Pasai. (Musyrifah Sunanto, Sejarah Peradaban Islam Indonesia, hlm.,8-9).

2.      Sejarah Masuknya Islam di Indonesia
Sejak zaman prasejarah, penduduk kepulauan indonesia dikenal sebagai pelayar-pelayar  yang sanggup mengarungi lautan lepas. Sejak awal abad masehi sudah ada rute-rute pelayaran dan perdagangan antara kepulauan indonesia dengan berbagai daerah daratan asia tenggara. Wilayah barat nusantara dan sekitar malaka sejak masa kuno merupakan wilayah yang menjadi titik perhatian, terutama karena hasil bumi yang dijual disana menarik bagi para pedagang dan menjadi daerah lintasan penting antara cina dan india. Sementara itu, pala dan cenkeh yang berasal dari maluku, dipasarkan dijawa dan sumatra, untuk kemudian dijual pada pedagang asing. Pelabuhan-pelabuhan penting disumatra dan jawa antara abad ke-1 dan ke-7 M sering disinggahi pedagang asing, seperti lamuri (Aceh) Barus dan Palembang di Sumatera, (Sunda Kelapa dan Gresik di Jawa). (Badriyatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003), hlm., 200).
Pedagang-pedagang Muslim asal Arab, Persia, dan India juga ada yang sampai ke kepulauan Indonesia untuk berdagang sejak abad ke-7M (abad I H), islam pertama kali berkmbang di Timur Tengah. Malaka, jauh sebelum ditaklukkan portugis (1511), merupakan pusat utama lalu lintas perdagangan dan pelayaran. Melalui Malaka, hasil hutan dan rempah-rempah dari seluruh plosok Nusantara dibawa ke Cina dan India., terutama Gujarat, yang melakukan hubungan dagang langsung dengan Malaka pada waktu itu. Dengan demikian , Malaka menjadi mata rantai pelayaran yang penting. Lebih ke Barat lagi dari Gujarat, perjalanan laut melintasi Laut Arab. Dari sana perjalanan bercabang dua. Jalan pertama di sebelah Utara menuju teluk Oman, melalui selat Ormuz ke Teluk Persia. Jalan kedua melalui Teluk Aden dan Laut Merah, dan dari kota Suez jalan perdagangan harus melalui daratan ke kairo dan Iskandariah. Melalui jalan pelayaran tersebut, kapal-kapal Arab, Persia dan India mondar mandir dari Barat ke Timur dan terus ke negri Cina dengan menggunakan angin musim untuk pelayaran pulang perginya.
Ada indikasi bahwa kapal-kapal Cina pun mengikuti jalan tersebut sesudah abad ke-9M tetapi tidak lama kemudian kapal-kapal tersebut hanya sampai di pantai barat India, karena barang-barang yang di perlukan sudah dapat di beli di sini. Kapal-kapal indonesia juga mengambil bagian dalam perjalanan niaga tersebut. Pada Zaman Sriwijaya, pedagang-pedagang Nusantara mengunjug pelabuhan-pelabuhan Cina dan Pantai Timur Afrika.
Menurut J.C. van Leur, berdasarkan berbagai cerita perjalanan dapat diperkirakan sejak 674M ada koloni-koloni Arab di Barat Laut Sumatra, yaitu di Barus, daerah penghasil kapur barus terkenal. Dari berita Cina bisa diketahui bahwa dimasa dinssti Tang( abad 9-10M) orang-orang Ta-shih sudah ada di kanton (Kan-fu) dan Sumatra. Ta-shih adalah sebutan untuk orang-orang Arab dan Persia, yang ketika itu jelas sudah menjadi muslim. Perkembangan pelayaran dan perdagangan yang bersifat internasional antara negri-negri di Asia bagian Barat dan Timur mungkin disebabkan oleh kegiatan kerajaan islam dibawah bani Umayyah dibagian barat dan kerajaan Cina zaman dinasti Tang  akan tetapi, menurut Taufik Abdullah , belum ada bukti bahwa pribumi indonesia di tempat-tempat yang disinggahi oleh para pedagang Muslim itu beragama Islam. Adanya koloni itu , diduga sejauh yang paling bisa dipertanggung jawabkan ialah para pedagang arab tersebut , hanya berdiam untuk menunggu muslim yang baik bagi pelayaran.
Baru pada zaman-zaman berikutnya, penduduk kepulauan ini masuk islam, bermula dari penduduk pribumi koloni-koloni pedagang muslim itu. Menjelang abad ke- 13M, masyarakat muslim sudah ada di Samudra Pasai, Perlak dan Palembang di Sumatra. Di Jawa, makam Fatimah Binti Maimun di leran (Gresik) yang berangka tahun 475H (1082M), dan makam-makam islam di Tralaya yang berasal dari abad ke-13M merupakan bukti berkembangnya komunitas islam, termasuk di pusat kekuasaan Hindu-Jawa ketika itu, Majapahit. Namun, sumber sejarah yang sahih yang meberikan kesaksian sejarah yang dapat dipertanggung jawabkan tentang perkembangan masyarakat islam di Indonesia, baik berupa prasasti dan historiografi tradisional maupun berita asing, baru terdapat ketika “komunitas islam” berubah menjadi pusat kekuasaan.
Sampai berdirinya kerajaan-kerajaan islam itu, perkembangan agama islam di indonesia dapat dibagi menjadi tiga fase. (1) Singgahnya pedagang-pedagang islam di pelabuhan-pelabuhan Nusantara. Sumbernya adalah berita luar negri,terutama Cina, (2) Adanya   komunitas-komunitas islam dibeberapa daerah di kepulauan Indonesia. Sumbernya, di samping berita-berita asing juga makanan-makanan Islam, dan (3) berdirinya kerajaan-kerajaan islam.

3.      Kondisi dan Situasi Politik Kerajaan-kerajaan di Indonesia
Cikal bakal kekuasaan islam telah dirintis pada periode abad 1-5H/7-8M, tetapi semua tenggelam dalam hegemoni maritm Sriwijaya yang erpusat di Palembang dan Majapahit di jawatimur . pada periode ini para pedagang dan mubaligh muslim membentuk komunitas-komunitas islam. Mereka memperkenalkan islam yang mengajarkan toleransi dan kesamaan derajat di antara sesama, sementara ajaran Hindu-Jawamenekankan prbedaan derajat manusia. Ajaran islam ini sangat menarik perhatian penduduk setempat. Karena itu, islam tersebar di kepulauan Indonesia terhitung cepat, meski dengan damai. (Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Amzah, 2009), hal 309).
Masuknya islam ke daerah-daerah di indonesia tidak dalam waktu yang bersamaan. Di samping itu, keadaan politik dan sosial budaya daerah-daerah ketika datang islam juga berlainan. Pada abad ke-7 sampai ke-10M, kerajaan Sriwijaya meluaskan kekuasaanya ke daerah Semenanjung Malaka sampai Kedah. Hal itu erat hubunganyaa dengan usaha penguasaan selat Malakayang merupakan kunci bagi pelayaran dan perdagangan internasional. Datangnya orang-orang muslim kedaerah itusama sekali belum memperhatikan dampak-dampak politik., karena mereka datang hanya memang untuk usaha pelayaran dan perdagangan. Keterlibatan orang-orang islam dalam bidang poitik terlihat pada abad ke-9M, ketika mereka terlibat dalam pemberotakanpetani Cina terhadap kekuasaan T’ang pada masa pemerintahan kaisar Hi-Tsung (878-889M). Akibat pemberontakan itu, kaum muslimin banyak yang dibunuh. Sebagian lainya ke Kedah, wilayah yang masuk ke kekuasaan Sriwijaya, bahkan ada yang ke Palembang dan membuat perkampungan Muslim disini. Kerajaan-kerajaan Sriwijaya pada waktu itu memang melindungi orang-orang muslimdi wilayah kekuasaanya.
Kemajuan politik dan ekonomi Sriwijaya berlangsung sampai abad ke-12M, kerajaan ini mulai masuki masa kemunduranya. Untuk mempertahankan posisi ekonominya, kerajaan sriwijaya membuat peraturan cukai yang lebh berat dari kapal-kapal dagang yang singgah ke pelabuhan-pelabuhanya. Akan tetapi, usaha itu tidak mendatangkan keuntungan bagi kerajaan, bahkan justru karesabaliknya kapal-kapal dagang asing sering kali menyingkir. Kemunduran ekonomi ini membawa dampak terhadap perkembangan politik.
Kemudian politik dan ekonomi Sriwijaya dipecat oleh usaha-usaha kerajaan Singasari yang sedang bangkit di Jawa. Kerajaan di jawa ini melakukan ekspedisi Pamalayu tahun 1275 dan berhasil mengalahkan kerajaan melayu di Sumatra. Keadaan it mendorong daerah-daerah di Selat Malaka yang dikuasai oleh kerajaan Sriwijaya melepaskan diri dari kekuasaan kerajaan tersebut.
Kelemahan Sriwijaya dimanfaatka pula oleh pedagang-pedagang muslim untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan politik dan perdagangan. Mereka mendukung daerah-daerah yang muncul dan daerah yang menyatakan diri sebagai kerajaan yang bercorak islam, yaitu kerajaan Pasai di pesisir Timur Laut Aceh. Daerah ini sudah di singgahi pedagang-pedagang  muslim sejak abad ke-7 dan ke-8 M. Proses islamisasi tentu berjalan disana sejak abad tersebut. Kerajaan Samudra Pasai dengan segera berkembang baik dalam bidang politik maupun perdagangan. (Badriyatim, Sejarah Peradaban Islam)
Karena kekacauan-kekacauan dalam negri sendiri akibat perebutan kekuasaan di istana, kerajaan Singasari, juga pelanjutnya, Majapahit, tidak mampu mengontrol daerah melayu dan selat malaka dengan baik, sehingga kerajaan Samudra Pasai dan Malaka dapat berkembang dan mencapai puncak kekuasaanya hingga abad ke-16M.
Di kerajaan Majapahit, ketika Hayam Wuruk dengan Patih Gajah Mada masih berkuasa, situasi politik pusat kerajaan memang tenang, sehingga banyak daerah dikepulauan Nusantara mengakui berada dibawah perlindunganya. Tetapi sejak Gajah Mada meninggal dunia (1364M) dan di susul Hayam Wuruk (1389M), situasi Majapahit kembali mengalami kegoncangan. Perebutan kekuasaan anara Wikramawhardana da Bhre Wirabumi berlangsung lebih dari sepuluh aun. Setelah Bhre Wirabumi meninggal, perebutan kekuasaan dikalangan istana kembali muncul dan berlarut-larut. Pada tahun 1468M Maja Pahit di serang Girindrawardhana dari Kediri. Sejak itu, kebesaran Majapahit dapat di katakan sudah habis. Tome Pires (1512-1515M), dalm tulisanyasuma oriental, tidak lagi menyebut-nyebut nama Majapahit. Kelemahan-kelemahan yang semakin lama semakin memuncak akhirnya menyebabkan keruntuhannya.

4.      Munculnya pemukiman-pemukiman muslim di kota-kota pesisir
Seperti disebutkan di atas, menjelang abad ke-13M, pesisir aceh sudah ada pemukiman muslim. Persentuhan antara penduduk pribumi dengan pedagang muslim dari Arab, Persia, dan India memang pertama kali terjadi didaerah ini. Karena itu, diprkirakan, proses islamisasi sudah berlangsung sejak persentuhan itu terjadi. Dengan demikian, dapat dipahami mengapa kerajaan islam pertama di Kepulauan Nusantara ini berdiri di Aceh, yaitu kerajaan Pasai yang didirikan pada pertengahan abad ke-13M, setelah kerajaan islam ini berdiri, perkembangan masyarakat muslim di Malaka makn lama makin meluas dan pada awal abad ke-15M, di daerah ini lahir kerajaan islam kedua di asia tenggara. Kerajaan ini cepat berkembang, bahkan dapat mengambi alih dominasi pelayaran dan perdagangan dari kerajaan Samudra Pasai yang kalah bersaing. Lajunya perkembangan masyarakat Muslim ini berkaitan erat dengan keruntuhan Sriwijaya.
Setelah malaka jatuh ke tangan portugis (1511 M), mata rantai penting pelayaran beralih ke Aceh, kerajaan islam yang melanjutkan kejayaan Samudra pasai. Dari sini, proses islamisasi di kepulauan Nusantara berlangsung lebih cepat dari sebelumnya. Untuk menghindari gangguan portugis yang menguasai Malaka, untuk sementara waktu kapal-kapal pemilih berlayar menelusuri pantai Barat Sumatra. Aceh kemudian berusaha melebarkan kekuasaanya ke Selatan sampai ke Pariaman dan Tiku. Dari pantai Sumatra, kapal-kapal memasuki selat Sunda menuju pelabuhan-pelabuhan di pantai Utara Jawa. (Badriyatim, Sejarah Peradaban Islam)
Berdasarkan berita Tome Pires (1512-1511), dalam suma oriental-nya, dapat diketahui bahwa daerah-daerah dibagian pesisir Sumatra Utara dan Timur selat Malakayaitu dari Aceh sampai Palembang sudah banyak terdapat masyarakat dan kerajaan-kerajaan islam. Akan tetapi,  menurut berita itu, daerah-darah yang belum islam juga masih banyak, yaitu palembang dan daerah-daerah pedalaman. Proses islamisasi ke daerah-daerah pedalaman aceh, Sumatra Barat, terutama terjadi sejak aceh mlakukan ekspansi politiknya pada abad ke-16 dan ke-17M.
Sementara itu, di Jawa, proses islamisasi sudah berlangsung, sejak abad ke-11M, meskipun belum meluas; terbukti dengan di temukanya makam Fatimah binti Maimun di Leran Gresik yang berangka tahun 475H (1082M). Berita tentang islam di Jawa pada abad ke-11 dan 12M memang masih sangat langka. Akan tetapi, sejak akhir abad ke-13M dan abad-abad berikutnya, terutama ketika Majapahit mencapai puncak kebesaranya, bukti-bukti adanya proses islamisasi sudah banyak, dengan ditemukanya beberapa puluh nisan kubur di Troloyo, Trowulan dan Gresik. Bahkan, menurut berita Ma-huan tahun 1416M, di pusat Majapahit maupun dipesisir, terutama dikota-kota pelabuhan, telah terjadi proses islamisasi dan sudah pula terbentuk masyarakat muslim.
Pertumbuhan masyarakat islam disekitar Majapahit dan terutama di beberapa kota pelabuhan di Jawa  erat hubunganya dengan perkembangan pelayaran dan perdagangan yang dilakukan orang-orang islam yang telah mempunyai kekuasaan ekonomi dan politik di Samudra Pasai,Malaka dan Aceh.
Tome Pires juga menyebutkan bahwa di Jawa sudah ada kerajaan yang bercorak Islam, yaitu Demak, dan kerajaan-kerajaan di daerah pesisir Utara Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat, di samping masih ada kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu. (Badriyatim, Sejarah Peradaban Islam)
Melihat makam-makam muslim yang terdaoat di situs-situs Majapahit, diketahui bahwa islam sudah hadir di ibu kota Majapahit sejak kerajaan itu sudah mencapai puncaknya. Meskipun demikian, lazim dianggap bahwa islam di Jawa pada mulanya menyebar selama periode merosotnya kerajaan Hindu-Budhis. Islam menyebar ke posisi pulau jawa melalui hubungan perdagangan, kemudian dari pesisir ini, agak belakang menyebar ke pedalaman pulau itu. Tome pires memberi gambaran tentang bagaimana wilayah-wilayah di pesisir Jawa berada di bawah pengaruh muslim:
Pada waktu terdapat orang-orang kafir di sepanjan pesisir Jawa, banyak pedagang yang biasa datang : orang persia, Arab, Gujarat, Bengali, Melayu dan bangsa-bangsa lain. Mereka mulai berdagang di negri itu dan berkembang menjadi kaya. Mereka berhasil mendirikan masjid-masjid dan mullah-mullah datang dari luar. Oleh karena iti, mereka datang dengan jumlah yang terus meningkat. Anak-anak orang kaya muslim sudah menjadi orang Jawa dan kaya, Karena mereka telah menetap di daerah ini sekitar 70 tahun. Di beberapa tempat, raja-raja jawa yang kafir menjadi muslim, sementara para mullah dan para pedagang muslim mendapat posisi di sana. Yang lain mengambil jalan membangun benteng di sekitar tempat-tempat mereka tinggal dan mengambil masyarakat-masyarakat pribuminya, yang berlayar di kapal-kapal mereka. Mereka membunuh raja-raja jawa serta menjadikan diri mereka sebagai raja. Dengan cara ini . mereka menjadikan diri mereka sebagai tuan-tuan di pesisir itu serta mengambil alih perdagangan dan kekuasaan di Jawa.
Perkembangan islam di pulau jawa bersamaan waktunya dengan melemahnya posisi raja Majapahit. Hal itu memberi peluan kepada raja-raja islam pesisir untuk membangun pusat-pusat kekuasaan yang independen. Di bawah bimbingan spiritual Sunan Kudus, meskipun bukan tang tertua dari wali songo, Demak akhirnya berhasil menggantikan Majapahit sebagai kraton pusat.
Pengaruh islam masuk ke Indonesia bagian timur, khususnya daerah Maluku, tidak dapat dipisahkan dari jalur perdagangan yang terbentang pada pusat lalulintas pelayaran internasional di Malaka, Jawa dan Maluku. Menurut tradisi setempat, sejak abad ke-14M, islam datang ke daerah Maluku. Raja ternate yang ke duabelas, Molomatea (1350-1357M) bersahabat karib dengan orang Arab yang memberinya petunjuk dalam pembuatan kapal-kapal, tetapi agaknya bukan dalam kepercayaan. Hal ini menunjukkan bahwa di Ternate sudah ada masyarakat islam sebelum rajanya masuk islam. Demikian juga di Banda, Hitu, Makyan, dan Bacan. Menurut TomePires, orang masuk islam di Maluku kira-kira tahun 1460-1465M. Hal itu sejalan dengan berita Antonio Galvao. Orang-orang islam datang ke maluku tidak menghadapi kerajaan-kerajaan yang sedang mengalami perpecahan sebagaimana halnya di Jawa. Mereka datang dan menyebarkan agama Islam melalui perdagangan, dakwah dan perkawinan.
Kalimantan timur pertama kali di selamatkan oleh Datuk Ri Bandung dan Tunggang Parangan. Kedua mubaligh itu datang ke Kutai seelah orang-orang Makasar masuk islam. Proses islamisasi di Kutai dan daerah sekitarnya di perkirakan terjadi sekitar tahun 1575.
Sulawesi, terutama bagian Selatan, sejak abad ke-15M sudah didatangi oleh pedagang-pedagang muslim, mungkin dari Malaka, Sumatra dan Jawa. Pada awal abad ke-16M, di Sulawesi masih banyak kerajaan yang masih beragama berhala. Akan tetapi, pada abad ke-16 di bagian Gowa, sebuah kerajaan terkenal di daerah itu, telah terdapat masyarakat muslim. Di Gowa dan tallo raja-rajanya masuk islam secara rresmi pada tanggal 22 September 1605 M. (Badriyatim, Sejarah Peradaban Islam)
Proses islamisasi pada taraf pertama di kerajaan Gowa di lakukan dengan cara damai, oleh Dato’ Ri Bandung dan Dato’ Sulaeman keduanya memberikan ajaran-ajaran islam kepada masyarakat dan raja. Setelah secara resmi memeluk agama islam, Gowa melancarkan perang terhadap Soppeng. Wajo, dan terakhir Bone. Kerajaan-kerajaan itupun masuk islam, Wajo, 10 Mei 1610M dan Bone, 23 November 1611 M.
Proses islamisasi tidak berhenti sampai berdirinya kerajaan-kerajaan islam tetapi terus berlangsung intensif dengan berbagai cara dan saluran.

5.      Cara-cara dan Saluran Islamisasi di Indonesia
Kedatangan Islam dan penyebarannya kepada golongan bangsawan dan rakyat umum dilakukan secara damai, apabila situasi politik kerajaan mengalami kekacauan dan kelemahan, disebabkan perebutan kekuasaan dikalangan keluarga istana, maka Islam dijadikan alat politik bagi pihak-pihak yang menghendaki kekuasaan itu. Mereka berhubungan dengan pedagang–pedagang muslim yang posisi ekonominya kuat karena menguasai pelayaran dan perdagangan. (Badriyatim, Sejarah Peradaban Islam)
Menurut Uka Tjandrasasmita, saluran-saluran islamisasi yang berkembang ada enam yaitu:
1.      Saluran perdagangan
Pada taraf permulaan, saluran islamisasi adalah perdagangan. Kesibukan lalulintas perdagangan pada abad ke-7 hingga ke-16 M. Membuat pedagang-pedagang muslim (Atab,Persia dan India) turut ambil bagian dalam perdagangan dari negri-negri bagian barat, tenggara dan Timur Benua Asia. Saluran islamisasi melalui perdagangan ini sangat menguntungkan karena para raja dan bangsawan turut serta dalam kegiatan perdagangan, bahkan mereka menjadi pemilik kapal dan saham. Mengutip pendapat Tome Pires berkenaan dengan saluran islamisasi melalui perdagangan ini di pesisir pulau jawa yang penduduknya ketika itu masih kafir. Mereka berhasil mendirikan masjid-masjid dan mendatangkan mullah-mullah sehingga jumlah mereka menjadi banyak, dan karenanya itu anak-anak muslim itu menjadi orang jawa dan kaya-kaya. Di beberapa tempat, penguasa-penguasa jawa, yang menjabat sebagai bupati-bupati majapahit yang di tempatkan di pesisir utara jawa banyak yang masuk islam, bukan hanya karena faktor politik dalam negara yang sedang goyah, tetapi terutama karena faktor hubungan ekonomi dengan pedagang-pedagang Muslim. Dalam perkembangan selanjutnya, mereka kemudian mengambil alih perdagangan dan kekuasaan di tempat-tempat tinggalnya.
2.      Saluran perkawinan
Dari sudut ekonomis, para pedagang muslim memiIiki setatus sosaial yang lebih baik dari pada kebanyakan pribumi, sehingga penduduk pribumi, terutama putri-putri bangsawan, tertarik untuk menjadi istri saudagar-saudagar itu. Sebelum kawin, merekaa diislamkan lebih dahulu, setelah mereka mempunyai keturunan, lingkungan mereka makin luas. Akhirnya, timbul kampung-kampung, daerah-daerah dan kerajaan-kerajaan Muslim. Dalam perkembangan berikutnya, adapula wanita muslim yang dikawini oleh keturunan bangsawan, tentu saja setelah yang terakhir ini masuk islam terlebih dahulu. Jalur perkawinan ini lebih menguntungkan apabila terjadi antara saudagar muslim dengan anak bangsawan atau anak raja dan anak adipati, karena raja, adipati atau bangsawan itu turut mempercepat proses islamisasi. Demikianlah yang terjadi antara Raden Rahmat atau Sunan Ngampel dengan Nyai Manila, Sunan Gunung Jati dengan PutrinKawunganten, Brawijaya dengan putri Campa yang menurunkan Raden Patah (Raja pertama Demak ) dan lain-lain.
3.      Saluran Tasawuf
Pengajar-pengajar tasawuf atau para Sufi, mengajarkan teosofi yang bercampur dengan ajaran yang sudah luas di kenal oleh masyarakat indonesia. Mereka mahir dalam soal-soal magis dan mempunyai kekuatan-kekuatan menyembuhkan. Di antara mereka ada yang mengawini putri-putri bangsawan setempat. Dengan tasawuf “bentuk” islam yang di ajarkan kepada penduduk pribumi mempunyai kesamaan dengan alam pemikiran mereka yang sebelumnya menganut agama Hindu, sehingga agama baru itu mudah di mengerti dan mudah diterima. Di antara ahli-ahli tasawuf yang memberikan ajaran yang mengandung persamaan dengan alam pikiran Indonesia pra-islam itu adalah Hamzah Fansuri di Aceh,  Syaikh Lemah Abang, Dan Sunan Panggung di Jawa. Ajaran mistik seperti ini masih berkembang di abad ke-19 M bahkan di abad ke-20 M.
4.      Saluran Pendidikan
Islamisasi juga dilakukan melalui pendidikan, baik pesantren maupun pondok yang di selenggarakn oleh guru-guru agama, kiai-kiai, dan ulama-ulama. Di pesantren atau pondok itu, calon ulama, guru agama, dan kiai mendapat pendidikan agama. Setelah keluar dari pesantren, mereka pulang ke kampung masing-masing kemudian berdakwah ketempat tertentu mengajarkan islam. Misalnya, pesantren yang didirikan oleh Raden Rahmatdi Ampel Denta Surabaya dan Sunan Giri di Giri. Keluaran pesantren Giri ini banyak yang di undang ke Maluku untuk mengajarkan agama islam.
5.      Saluran Kesenian
Saluran islamisasi melalui kesenian yang paling tekenal adalah pertunjukan wayang. Dikatakn, Sunana Kalijaga adalah tokoh yang paling mahir dalam mementaskan wayang. Dia tidak pernah meminta upah pertunjukan, tetapi ia meminta para penonton untuk mengikutinya mengucapkan kalimat syahadat. Sebagian cerita wayang masih di petik dari cerita Mahabarata dan Ramayana, tetapi di cerita itu disisipkan ajaran dan nama-nama pahlawan islam. Kesenian-kesenian lain juga dijadikan alat Islamisasi, seperti sastra ( hikayat, babad dan sebagainya) seni bangunan dan seni ukir.
6.      Saluran Politik
Di Maluku dan Sulawesi selatan, kebanyakan semua rakyatnya masuk islam setelah rajanya masuk islam terlebih dahulu. Pengaruh politik raja sangat membantu tersebarnya islam didaerah ini. Di samping itu, baik di Sumatra dan Jawa maupun di Indonesia bagian timur, demi kepentingan politik, kerajaan-kerajaan islam memerangi kerajaan-kerajaan non-muslim. Kemenangan kerajaan islam secara politis banyak menarik penduduk kerajaan bukan islam itu masuk islam.
Para sufi menyebarkan Islam melalui dua cara:
1.      Dengan membentuk kader mubaligh, agar mampu menyebarkan agama Islam di daerah asalnya.
2.      Melalui karya-karya tulis yang tersebar dan dibaca diberbagai tempat. Di abad ke 17, Aceh adalah pusat perkembangan karya-karya keagamaan yang ditulis para ulama dan para sufi.

6.      Perkembangan Islam di Nusantara
Islam di Indonesia (Asia Tenggara) merupakan salah satu dari tujuh cabang peradaban Islam (sesudah hancurnya persatuan peradaban islam yang berpusat di Baghdad tahun 1258). Ketujuh cabang perdaban Islam itu secara lengkap adalah peradaban Islam Arab, Islam Persi, Islam Turki, Islam Afrika Hitam, Islam anak benua India, Islam Arab Melayu, dan Islam Cina. Kebudayaan yang disebut Arab Melayu tersebar di wilayah Asia Tenggara memiliki ciri-ciri yang universal.
Kemunculan dan perkembangan Islam di kawasan itu menimbulkan transformasi kebudayaan (peradaban) lokal, dari sistem keagamaan lokal kepada sistem keagamaan Islam yang bisa disebut revolusi agama. Transformasi masyarakat melayu kepada Islam terjadi bebarengan dengan “masa perdagangan,” masa ketika Asia Tenggara mengalami peningkatan posisi dalam perdagangan Timur-Barat. Masa ini mengantarkan wilayah nusantara kedalam internasionalisasi perdagangan dan kosmopolitanisme kebudayaan yang tidak pernah dialami masyarakat di kawasan ini pada masa-masa sebelumnya. (Musyrifah Sunanto, Sejarah Peradaban Islam Indonesia)


BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1.      Mengenai dasar teori masuknya Islam di Indonesia terdapat beberapa pendapat:
·         Dipelopori oleh sarjana-sarjana orientalis Belanda, diantaranya Snouck Hurgronje yang berpendapt bahwa Islam datang ke Indonesia pada abad ke-13 M dari Gujarat dengan bukti ditemukannya makam sultan yang beragama Islam pertama Malik as-Sholeh, raja pertama kerajaan samudra pasai yang dikatakan berasal dari gujarat.
·         Dikemukakan oleh sarjana-sarjana Muslim, diantaranya Prof. Hamka, yang mengadakan “Seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia” di Medan tahun 1963. Hamka dan teman-temannya berpendapat bahwa islam sudah datang ke Indonesia pada abad pertama Hijriyah (± abad ke-7 sampai 8 M) langsung dari Arab dengan bukti jalur pelayaran yang ramai dan bersifat internasional sudah dimulai jauh sebelum abad ke-13 melalui selat malaka tang menghubungkan Dinasti Tang di Cina (Asia Timur), Sriwijaya di Asia Tenggara dan Bani Umayyah di Asia Barat.
·         Sarjana Muslim kontemporer seperti Taufik Abdullah mengkompromikan kedua pendapat tersebut. Menurutnya memang benar Islam sudah datang ke indonesia sejak abad pertama Hijriyah atau abad ke-7 M, tetapi baru dianut oleh pedagang Timur Tengah di pelabuhan-pelabuhan. Barulah Islam masuk secara besar-besaran dan mempunyai kekuatan politik pada abad ke-13 dengan berdirinya Kerajaan Samudra Pasai.
2.      Cara-cara dan Saluran Islamisasi di Indonesia:
A.    Cara-cara Islamisasi di Indonesia:
·         Dengan membentuk kader mubaligh, agar mampu menyebarkan agama Islam di daerah asalnya.
·         Melalui karya-karya tulis yang tersebar dan dibaca diberbagai tempat. Di abad ke 17, Aceh adalah pusat perkembangan karya-karya keagamaan yang ditulis para ulama dan para sufi
B.     Saluran Islamisasi di Indonesia:
·         Saluran perdagangan
·         Saluran perkawinan
·         Saluran tasawuf
·         Saluran pendidikan
·         Saluran kesenian
·         Saluran politik
3.      Perkembangan Islam di Nusantara
Islam di Indonesia (Asia Tenggara) merupakan salah satu dari tujuh cabang peradaban Islam (sesudah hancurnya persatuan peradaban islam yang berpusat di Baghdad tahun 1258). Ketujuh cabang perdaban Islam itu secara lengkap adalah peradaban Islam Arab, Islam Persi, Islam Turki, Islam Afrika Hitam, Islam anak benua India, Islam Arab Melayu, dan Islam Cina. Kebudayaan yang disebut Arab Melayu tersebar di wilayah Asia Tenggara memiliki ciri-ciri yang universal.

Kemunculan dan perkembangan Islam di kawasan itu menimbulkan transformasi kebudayaan (peradaban) lokal, dari sistem keagamaan lokal kepada sistem keagamaan Islam yang bisa disebut revolusi agama. Transformasi masyarakat melayu kepada Islam terjadi bebarengan dengan “masa perdagangan,” masa ketika Asia Tenggara mengalami peningkatan posisi dalam perdagangan Timur-Barat. Masa ini mengantarkan wilayah nusantara kedalam internasionalisasi perdagangan dan kosmopolitanisme kebudayaan yang tidak pernah dialami masyarakat di kawasan ini pada masa-masa sebelumnya.

DAFTAR PUSTAKA
Sunanto Musyrifah, Sejarah Peradaban Islam Indonesia, (Jakarta: Rajawali Pers, 2010)
Badriyatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003)
Amin Samsul Munir, sejarah peradaban islam, (Jakarta: Amzah, 2009)
loading...