Showing posts with label Ulumul Qur'an. Show all posts
Showing posts with label Ulumul Qur'an. Show all posts

Saturday, 16 January 2016

OBJEK PEMBAHASAN DAN TUJUAN MEMPELAJARI ‘ULUMUL QUR’AN

Objek Pembahasan dan Tujuan Mempelajari 'Ulumul Qur'an
Oleh: Jamiatul Husnaini, Leni Apriani & Litundzira


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Ulumul Qur’an adalah ilmu yang membahas mengenai semua aspek yang terkandung dalam Al-Qur’an, yang memuat aspek ilmu Asbabun Nuzul, Nasikh-Mansukh, ayat-ayat Makkiyyah dan Madaniyyah, Muhkam-Mutasyabih, dan sebagainya.
Dalam ‘Ulumul Qur’an terdapat banyak objek pembahasan yang dipelajari dan dikaji agar umat Muslim lebih memahami Al-Qur’an serta dapat menjadikan Al-Qur’an sebagai Pedoman hidup yang Kaffah, Syamil dan Mutakamil. Objek-objek pembahasan itu dikaji oleh para Ulama, sehingga menghasilkan suatu disiplin ilmu yang sangat bermanfaat dalam kehidupan manusia.
Objek-objek pembahasan yang terdapat dalam ‘Ulumul Qur’an adalah sebagai berikut: Ilmu Adab Tilawah Al-Qur’an, Ilmu Tajwid, Ilmu Mawathin An-nuzul, Ilmu Tawarikh An-Nuzul, Ilmu Asbab An-Nuzul, Ilmu Qira’at, Ilmu Gharib Al-Qur’an, Ilmu I’rab Al-Qur’an, Ilmu Wujuh wa An-Nazha’I, Ilmu Ma’rifat Al-Muhkam wa Al-Mutasyabih, Ilmu Nasikh wa Al-Mansukh, Ilmu Badai’u Al-Qur’an, Ilmu I’jaz Al-Qur’an, Ilmu Tanasub Ayat Al-Qur’an, Ilmu Aqsam Al-Qur’an, Ilmu Amtsal Al-Qur’an dan Ilmu Jadal Al-Qur’an.
Objek-objek pembahasan tersebut akan dibahas dalam makalah ini secara rinci, begitupun mengenai tujuan mempelajari ‘Ulumul Qur’an. ‘Ulumul Qur’an adalah ilmu yang sangat urgen untuk dipelajari, oleh karena itu dibutuhkan kesungguhan dan pemahaman dalam mempelajarinya.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan Latar Belakang masalah yang telah diuraikan di atas, Rumusan Masalah yang akan di bahas dalam Makalah ini, yaitu:
1.      Apa Pengertian ‘Ulumul Qur’an?
2.      Apa sajakah objek-objek pembahasan yang dipelajari dalam ‘Ulumul Qur’an?
3.      Apa tujuan mempelajari ‘Ulumul Qur’an?


BAB II
PEMBAHASAN
OBJEK PEMBAHASAN DAN TUJUAN MEMPELAJARI ULUMUL QUR’AN

A.    Pengertian Ulumul Qur’an
Ulumul Qur’an berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kata, yaitu “’Ulum” dan “Al-Qur’an”. Kata ‘Ulum adalah bentuk jamak dari kata “’Ilmu” yang artinya ilmu atau sejumlah materi pembahasan yang dibatasi kesatuan tema atau tujuannya. Sedangkan Al-Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Melalui Malaikat Jibril, yang lafazh-lafazhnya mengandung mukjizat, membacanyabernilai ibadah, yang diturunkan secara mutawatir, dan yang ditulis dalam mushaf, mulai dari surat Al-Fatihah sampai surat An-Nas.[1] Dengan demikian, secara bahasa, ‘Ulumul Qur’an adalah ilmu (pembahasan-pembahasan) yang berkaitan dengan Al-Qur’an.
Adapun definisi ‘Ulumul Qur’an secara Istilah, para ulama memberikan redaksi yang berbeda-beda, sebagaimana dijelaskan berikut ini.
1.      Menurut Manna’ Al-Qaththan:[2]
اَلْعِلْمُ الَّذِيْ يَتَنَاوَلُ الْاَبْحَاثَ الْمُتَعَلِّقَةَ بِالْقُرْآنِ مِنْ حَيْثُ مَعْرِفَةِ اَسْبَابِ النُّزُوْلِ وَجَمْعِ الْقُرْآنِ وَتَرْتِيْبِهِ وَمَعْرِفَةِ الْمَكِّيِّ وَالْمَدَنِيِّ وَالنَّا سِخِ وَالْمَنْسُوْخِ وَالْمُحْكَمِ وَالْمُتَشَا بِهِ اِلَى غَيْرِ ذَالِكَ مِمَّا لَهُ صِلَةٌ بَالْقُرْآنِ
“Ilmu yang mencakup pembahasan-pembahasan yang berkaitan dengan Al-Qur’an dari sisi informasi tentang Asbabun Nuzul, kodifikasi dan tertib penulisan Al-Qur’An, ayat-ayat Makkiyyah dan Madaniyyah, Nasikh-Mansukh, Muhkam-Mutasyabih, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan Al-Qur’an”.
2.      Menurut Az-Zarqani:[3]
مَبَاحِثُ تَتَعَلُّقُ بِالْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ مِنْ نَاحِيَةِ نُزُوْلِهِ وَتَرْتِيْبِهِ وَجَمْعِهِ وَكِتَابَتِهِ وَقِرَاءَتِهِ وَتَفْسِيْرِهِ وَاِعْجَازِهِ وَنَاسِخِهِ وَمَنْسُوْخِهِ وَدَفْعِ الشُّبَهِ عَنْهُ وَنَحْوِ ذَالِكَ
“Beberapa pembahasan yang berkaitan dengan Al-Qur’an, dari sisi turun, urutan penulisan, kodifikasi, cara membaca, kemukjizatan, Nasikh, Mansukh, dan penolakan hal-hal yang bisa menimbulkan keraguan terhadapnya, serta hal-hal lain.”
3.      Menurut Abu Syahbah:[4]
عِلْمٌ ذُوْمَبَاحِثَ تَتَعَلَّقُ بِالْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ مِنْ حَيْثُ نُزُوْلِهِ وَتَرْتِيْبِهِ وَكِتَابَتِهِ وَجَمْعِهِ وَقِرَاءَتِهِ وَتَفْسِيْرِهِ وَاِعْجَازِهِ وَنَاسِخِهِ وَمَنْسُوْخِهِ وَمُحْكَمِهِ وَمُتَشَابِهِهِ اِلَى غَيْرِ ذَالِكَ مِنَ الْمَبَاحِثِ الَّتِيْ تُذْكَرُ فِى هَذَا الْعِلْمِ
“Sebuah ilmu yang memiliki banyak objek pembahasan yang berhubungan dengan Al-Qur’an, mulai proses penurunan, urutan penulisan, penulisan, kodifikasi, cara membaca, penafsiran, kemukjizatan, Nasikh-Mansukh, Muhkam-Mutasyabih, sampai pembahasan-pembahasan lain.”
B.     Ruang Lingkup Pembahasan Ulumul Qur’an
M. Hasbi Ash-Shiddieqy berpendapat bahwa ruang lingkup pembahasan Ulumul Qur’an terdiri dari enam hal pokok berikut;[5]
1. Persoalan Turunnya Al-Qur’an
Ø  Waktu dan tempat turunnya Al-Qur’an (Auqat Nuzul wa Mawathin An-Nuzul)
Ø  Sebab-sebab turunnya Al-Qur’an (Asbabun Nuzul)
Ø  Sejarah turunnya Al-Qur’an (Tarikh An-Nuzul)
2. Persoalan Sanad (rangkaian para periwayat)
Ø  Riwayat Mutawatir
Ø  Riwayat Ahad
Ø  Riwayat Syadz
Ø  Macam-macam Qira’at Nabi
Ø  Para perawi dan penghapal Al-Qur’an
Ø  Cara-cara penyebaran riwayat
3. Persoalan Qira’at (cara pembacaan Al-Qur’an)
Ø  Cara berhenti (waqaf)
Ø  Cara memulai (ibtida’)
Ø  Imalah
Ø  Bacaan yang dipanjangkan (mad)
Ø  Meringankan bacaan hamzah
Ø  Memasukkan bunyi huruf yang sukun atau tanwin kepada bunyi sesudahnya (idgham)
4. Persoalan Kata-kata Al-Qur’an
Ø  Kata-kata Al-Qur’an yang asing (gharib)
Ø  Kata-kata Al-Qur’an yang berubah-ubah harakat akhirnya (mu’rab)
Ø  Kata-kata Al-Qur’an yang mempunyai makna serupa (homonim)
Ø  Padanan kata-kata Al-Qur’an (sinonim)
Ø  Isti’arah
Ø  Penyerupaan (tasybih)
5. Persoalan makna-makna Al-Qur’an yang berkaitan dengan Hukum
Ø  Makna global (Mujmal)
Ø  Makna yang diperinci (Mufashshal)
Ø  Nash yang petunjuknya tidak melahirkan keraguan (Muhkam)
Ø  Nash yang musykil ditafsirkan karena terdapat kesamaran di dalamnya (Mutasyabih)
Ø  Nash yang maknanya tersembunyi karena suatu sebab yang terdapat pada kata itu sendiri (Musykil)
Ø   Ayat yang menghapus dan dihapus (Nasikh-Mansukh)
Ø  Yang didahulukan (Muqaddam)
Ø  Yang diakhirkan (Mu’akhakhar)
6. Persoalan Makna-makna Al-Qur’an yang berpautan dengan kata-kata Al-Qur’an
Ø  Berpisah (Fashl)
Ø  Bersambung (Washl)
Ø  Uraian singkat (I’jaz)
Ø  Uraian panjang (Ithnab)
Ø  Uraian seimbang (Musawah)
Ø  Pendek (Qashr)

C.    Objek Pembahasan Ulumul Qur’an
Diantara objek pembahasan ‘Ulumul Qur’an adalah sebagai berikut:[6]
1.      Ilmu Adab Tilawah Al-Qur’an yaitu ilmu-ilmu yang menerangkan tata cara atau aturan-aturan dan kesopanan dalam pembacaan Al-Qur’an.
2.      Ilmu Tajwid, yaitu ilmu yang menerangkan cara-cara membaca Al-Qur’an, tempat memulai, atau tempat berhenti (Waqaf).
3.      Ilmu Mawathin An-nuzul, yaitu ilmu yang menerangkan tempat-tempat, musim, awal dan akhir turun ayat.
4.      Ilmu Tawarikh An-Nuzul, yaitu ilmu yang menerangkan masa dan urutan turun ayat , satu demi satu hingga akhir turunnya dan tertib turun surat dengan sempurna.
5.      Ilmu Asbab An-Nuzul, yaitu ilmu yang mepelajari sebab-sebab turun ayat.
6.      Ilmu Qira’at, yaitu ilmu yang menerangkan ragam Qira’at (pembacaan Al-Qur’an) yang telah diterima Rasulullah SAW.
7.      Ilmu Gharib Al-Qur’an, yaitu ilmu yang menerangkan makna kata-kata yang ganjil yang tidak terdapat dalam kitab-kitab konvensional, atau tidak terdapat dalam percakapan sehari-hari. Ilmu ini menerangkan kata-kata yang halus, tinggi dan pelik.
8.      Ilmu I’rab Al-Qur’an, yaitu ilmu yang menerangkan harakat Al-Qur’an dan kedudukan sebuah kata dalam kalimat.
9.      Ilmu Wujuh wa An-Nazha’ir, yaitu ilmu yang menerangkan kata-kata Al-Qur’an yang mempunyai makna lebih dari satu.
10.  Ilmu Ma’rifat Al-Muhkam wa Al-Mutasyabih, yaitu ilmu yang menerangkan ayat-ayat yang dipandang Muhkam dan yang dipandang Mutasyabih.
11.  Ilmu Nasikh wa Al-Mansukh, yaitu ilmu yang menerangkan ayat-ayat yang Mansukh oleh sebagian mufassir.
12.  Ilmu Badai’u Al-Qur’an, yaitu ilmu yang menerangkan keindahan susunan bahasa al-qur’an dari sudut kesusasteraan, keanehan-keanehan dan ketinggian Balaghahnya.
13.  Ilmu I’jaz Al-Qur’an, yaitu ilmu yang menerangkan segi-segi kekuatan Al-Qur’an sehingga dipandang sebagai suatu mukjizat dan dapat melemahkan  penantang-penantangnya.
14.  Ilmu Tanasub Ayat Al-Qur’an, yaitu ilmu yang menerangkan persesuaian dan keserasian antara suatu ayat dengan ayat sebelum dan sesudahnya.
15.  Ilmu Aqsam Al-Qur’an, yaitu ilmu yang menerangkan arti dan maksud-maksud sumpah allah yang terdapat di dalam Al-Qur’an.
16.  Ilmu Amtsal Al-Qur’an, yaitu ilmu yang menerangkan perumpamaan-perumpamaan Al-Qur’an, yakni menerangkan ayat-ayat perupamaan yang dikemukakan Al-Qur’an.
17.  Ilmu Jadal Al-Qur’an, yaitu ilmu yang menerangkan macam-macam, bentuk-bentuk dan cara-cara perdebatan dan bantahan yang telah dihadapkan Al-Qur’an kepada segenap kaum musyrikin dan kelompok lainnya yang tidak menerima kebenaran.

D.    Tujuan Mempelajari Ulumul Qur’an
Tujuan mempelajari ‘Ulumul Qur’an yaitu:
1.      Mengetahui segala persoalan seputar Al-Qur’an.
2.      Memahami kalam Allah sejalan dengan keterangan Rasulullah Saw., para Sahabat dan Tabi’in.
3.      Mengetahui metode yang digunakan oleh para penafsir dalam menafsirkan Al-Qur’an dan mengenal sosok mereka.
4.      Mengetahui persyaratan-persyaratan dalam menafsirkan Al-Qur’an.
5.      Membantah Orientalis, Atheis dan setiap orang yang berusaha merusak kemurnian Al-Qur’an.[7]


BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Berdasarkan penjelasan rinci tentang objek pembahasan dan tujuan mempelajari ‘Ulumul Qur’an di atas, dapat disimpulkan:
Ø  ‘Ulumul Qur’an adalah ilmu-ilmu yang membahas dan mempelajari Al-Qur’an dengan lebih mendalam, mulai dari cara penulisan, kodifikasi, Asbabun Nuzul, ayat-ayat Makkiyyah dan Madaniyyah, Nasikh-Mansukh, Muhkam-Mutasyabih, dan sebagainya.
Ø  Objek pembahasan ‘Ulumul Qur’an meliputi: Ilmu Adab Tilawah Al-Qur’an, Ilmu Tajwid, Ilmu Mawathin An-nuzul, Ilmu Tawarikh An-Nuzul, Ilmu Asbab An-Nuzul, Ilmu Qira’at, Ilmu Gharib Al-Qur’an, Ilmu I’rab Al-Qur’an, Ilmu Wujuh wa An-Nazha’I, Ilmu Ma’rifat Al-Muhkam wa Al-Mutasyabih, Ilmu Nasikh wa Al-Mansukh, Ilmu Badai’u Al-Qur’an, Ilmu I’jaz Al-Qur’an, Ilmu Tanasub Ayat Al-Qur’an, Ilmu Aqsam Al-Qur’an, Ilmu Amtsal Al-Qur’an dan Ilmu Jadal Al-Qur’an.
Ø  Tujuan mempelajari ‘Ulumul Qur’an:
ü  Mengetahui segala persoalan seputar Al-Qur’an.
ü  Memahami kalam Allah sejalan dengan keterangan Rasulullah Saw., para Sahabat dan Tabi’in.
ü  Mengetahui metode yang digunakan oleh para penafsir dalam menafsirkan Al-Qur’an dan mengenal sosok mereka.
ü  Mengetahui persyaratan-persyaratan dalam menafsirkan Al-Qur’an.
ü  Membantah Orientalis, Atheis dan setiap orang yang berusaha merusak kemurnian Al-Qur’an.


DAFTAR PUSTAKA

Muhammad bin Muhammad Abu Syahbah. 1992. Al-Madkhal li Dirasat Al-Qur’an Al-Karim. Maktabah Al-Sunnah. Kairo. 1992.
Manna’ Al-Qaththan. 1973. Mabahits fi ‘Ulum Al-Qur’an, Mansyurat Al-‘Ashr Al-Hadits, ttp.
Muhammad ‘Abd Al-‘Azhim Al-Zarqani, Manhil Al-‘Irfan, Dar Al-Fikr, Bairut, t.t.
T.M. Hasbie Ash-Shiddieqy. 1994.  Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an. Jakarta: Bulan Bintang.
Halimatussa’diyah. 2006.  ’Ulumul Qur’an. Palembang: Raden Fatah Press, 2006.




[1]كَلَامُ اللهِ (مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ) الْمُعْجِزُ بِتِلاَوَتِهِ الْمَنْقُوْلُ بِالتَّوَاتُرِ الْمَكْتُوْبُ فِى الْمَصَا حِفِ مِنْ اَوَّلِ سُوْرَةِ الْفَاتِحَةِ اِلَى آخِرِ سُوْرَةِ النَّاسِ
 Muhammad bin Muhammad Abu Syahbah, Al-Madkhal li Dirasat Al-Qur’an Al-Karim, (Kairo: Maktabah Al-Sunnah, 1992), hlm. 18-20.
[2] Manna’ Al-Qaththan, Mabahits fi ‘Ulum Al-Qur’an, Mansyurat Al-‘Ashr Al-Hadits, ttp., 1973, hlm. 15-16.
[3] Muhammad ‘Abd Al-‘Azhim Al-Zarqani, Manhil Al-‘Irfan, Dar Al-Fikr, Bairut, t.t., jilid I, hlm. 27.
[4] Syahbah, op. cit., hlm. 25.
[5] Hasbie Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an, (Jakarta: bulan bintang,1994), hlm. 100-102.
[6] Hasbie Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an, (Jakarta: Bulan Bintang, 1994), hlm. 102-107.
[7] Halimatussa’diyah, ’Ulumul Qur’an, (Palembang: Raden Fatah Press, 2006), hlm.35-36.

#makalah_prodi_perbandingan mazhab dan hukum_angkatan2012 2016_syariahdanhukum_UIN_Raden_fatah_palembang

Monday, 16 November 2015

Pengertian Ulumul Quran, Sejarah Muncul dan Berkembangnya Ulumul Quran

Pengertian Ulumul Qur'an, Sejarah Muncul dan Berkembangnya Ulumul Qur'an
Oleh: Iswahyudi

BAB 1
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Al-Qur’an adalah kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dengan perantara malaikat Jibril sebagai mu’jizat. Al-Qur’an adalah sumber ilmu bagi kaum muslimin yang merupakan dasar-dasar hukum yang mencakup segala hal.
وَيَوْمَ نَبْعَثُ فِي كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيدًا عَلَيْهِمْ مِنْ أَنْفُسِهِمْ ۖ وَجِئْنَا بِكَ شَهِيدًا عَلَىٰ هَٰؤُلَاءِ ۚ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ
dan kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri . (Q.S. An-Nahl : 89).
Mempelajari isi Al-Qur’an akan menambah perbendaharaan baru, memperluas pandangan dan pengetahuan, meningkatkan perspektif baru dan selalu menemui hal-hal yang selalu baru. Lebih jauh lagi, kita akan lebih yakin akan keunikan isinya yang menunjukkan Maha Besarnya Allah sebagai penciptanya.
Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab. Oleh karena itu, ada anggapan bahwa setiap orang yang mengerti bahasa Arab dapat mengerti isi Al-Qur’an. Lebih dari itu, ada orang yang merasa telah dapat memahami dan menafsirkan Al-Qur’an dengan bantuan terjemahnya, sekalipun tidak mengerti bahasa Arab. Padahal orang Arab sendiri banyak yang tidak mengerti kandungan Al-Qur’an. Maka dari itu, untuk dapat mengetahui isi kandungan Al-Qur’an diperlukanlah ilmu yang mempelajari bagaimana tata cara menafsiri Al-Qur’an yaitu Ulumul Qur’an dan juga terdapat faedah-faedahnya. Dengan adanya pembahasan ini, kita sebagai generasi islam supaya lebih mengenal Al-Qur’an, khususnya tentang pengertian Ulumul Qur’an, sejarah dan perkembangannya.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas ditemukan beberapa permasalahan, diantarannya Sebagai berikut:
1.      Apa Pengertian dari Ulumul Qur’an?
2.      Bagaimanakah sejarah muncul dan berkembangnya Ulumul Qur’an?


BAB 2
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Ulumul Qur’an
Secara etimologi, kata Ulumul Qur’an berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kata, yaitu “Ulum” dan “Al-Qur’an”. Kata ulum adalah bentuk jamak dari kata “ilmu” yang berarti ilmu-ilmu. Kata ulum yang disandarkan pada kata Al-Qur’an telah memberikan pengertian bahwa ilmu ini merupakan kumpulan sejumlah ilmu yang berhubungan dengan Al-Qur’an, baik dari segi keberadaanya sebagai Al-Qur’an maupun dari segi pemahaman terhadap petunjuk yang terkandung di dalamnya.[1]

Ta’rif atau pengertian Ulumul Qur’an yang dikemukakan oleh para ahli tidak sedikit jumlahnya. Di sini tidak semua pendapat para ulama dikemukakan, tapi hanya sebagaian dari pendapat tersebut yang dapat dikemukakan, antara lain:

1.      Al- Zarqoni
Imam Al- Zarqoni menyatakan bahwa:
علوم القزان هو مبا حث تتعلق با لقران الكريم من نا حية تروله وترتيبه وجمعه وكتا بته وقراء ته وتفسيره وا عجا زه ونا سخه ومنسوخه ودفع الشه عنه ونحو ذلك
Ulumul Qur’an adalah ilmu-ilmu yang membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan Al-Quranul kariim, yaitu dari aspek turun, susunan, pengumpulan, tulisan bacaan, penjelasan (tafsir), mukjizat, nasikh, mansuknya, serta menolah terhadap hal-hal yang dapat mendatangkan keraguan terhadapnya (Al-Qur’an).[2]

2.      As- Suyuthi
Imam As- Suyuthi menyatakan bahwa Ulumul Qur’an adalah:    
علم بحث فيه عن احوال الكتاب العزيزمن جهة تروله وسنده وأدابه والفا ظه ومعا نيه ا لمتعلقة با لأحكا م وغيرذلك
Ilmu yang membahas seluk-beluk Al-Qur’an. Diantaranya, yaitu yang membicarakan aspek turunya, sanadnya, bacaanya, lafaznya, maknanya yang berhubungan dengan hukum, dan lain sebabainya.[3]

3.      Muhammad Ali Ash- Shobuni
Muhammad Ali Ash- Shobuni menyatakan bahwa Ulumul Qur’an adalah:

يقصد بعلوم القرآن الأ جا ث التي تتعلق بهذا الكتاب المجيد الخا لد من حيث النزول والجمع والتراترا تيب والتدوين ومعر فة أسباب النزول والمكيٌ والمدني ومعر فة النا سخ والمنسوخ والمحكموالمتشا به وغير ذلك من الأ جا ث الكثيرة التي تتعلق بالقرآن العظيمم.
ILmu-ilmu yang membahas tentang turunya Alquran, pengumpulannya, makkiyah dan madaniyahnya serta mengenai nasikh dan mansukhnya, muhkam dan mutasybihnya, dan lain-lain yang sehubungan dengan Alqur’an. [4]

Dari pengertian di atas ada dua hal penting yang dapat di tangkap. Pertama, bahwa pembicaraan mengenai Ulumul Quran banyak aspek yang dilihat, yaitu seluruh aspek yang berhubungan dengan Alquranul Karim. Kedua, jika diperhatikan dengan  teliti dari konsep-konsep diatas, kelihatan bahwa Ulumul Quran dapat diketahui dengan berpegang pada dua hal, yaitu riwayat dan rasional (naqal dan akal; riwayah dan dirayah).

Ilmu-ilmu yang diperoleh melalui riwayat atau naqal adalah ilmu-ilmu yang berhubungan hanya denagn riwayat saja ( naqal), seperti ilmu qira’at dan ilmu nuzul Al-Qur’an. Ilmu yang kedua ini mempunyai tiga cabang, yaitu ilmu mawathin an-Nuzul, ilmu tawarikh an-Nuzul, dan ilmu asbab an-Nuzul.

Ilmu Qira’ah adalah ilmu Alquran yang membicarakan segala sesuatu yang berhubungan dengan bacaan. Ilmu Nuzul Alquran adalah ilmu Alquran yang membahas segala sesuatu yang berkaitan dengan turunya Al-Qur’an, yaitu yang biasanya meliputi tempat turunya, waktu turunya, dan sebab-sebab turunya Alquran.

Sedangkan ilmu-ilmu yang berdasarkan dirayah atau rasional adalah ilmu-ilmu Alquran yang diperoleh melalui tafakkur dan ta’ammul (penelahaan secara mendalam), seperti nasakh dan mansukh, muhkam dan mutasyabih, munasabah, fawatih al-suwar, mukjizat dan lain-lain,

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Ulumul Quran adalah ilmu-ilmu yang membahas segala sesuatu yang berhubungan dengan berbagai aspek-aspeknya itu sangat luas maka ilmu yang berhubungan dengan Ulumul Quran ini sangat banyak jenis dan macamnya,

Jika dicermati konsep-konsep tersebut, maka terlihatlah bahwa munculnya ilmu-ilmu Alquran bersumber pada dua hal:
1.      Naqal (riwayat)
2.      Tafakkur dan ta’ammul (dirayat; rasional)
Jadi, Ulumul Quran adalah ilmu-ilmu yang berhubungan dengan berbagai aspek yang terkait dengan keperluan membahasa Alqur’an.[5]

B.     Sejarah Muncul dan Berkembangnya Ulumul Qur’an

1.      Munculnya Ulumul Qur’an

Ulama berbeda pendapat mengenai kapan mulai munculnya istilah Ulumul Quran. Untuk menjawab pertanyaan itu perlu dikemukakan pendapat-pendapat dari berbagai ahli. Dari pendapat-pendapat yang ada tentang Ulumul Qur’an itu tidak sama, misalnya:
1.      Mu’arrikhin (ahli sejarah) menyatakan bahwa munculnya istilah Ulumul Quran pertama kali adalah pada abad ke-7 H. Sayangnya pendapat ini tidak diiringi dengan alasan.
2.      Imam Al-Zarqoni berpendapat bahwa istilah Ulumul Qur’an ini muncul bersamaan dengan munculnya kitab Al-Burhan fi Ulumul Quran karya Ali Ibrahim Ibnu Sa’id yang terkenal dengan sebutan al-Khufi (w. 430 H). Kitab tersebut ada 30 jilid. Kitab ini ditulis pada abad ke-5 H. Berdasarkan hal ini Al-Zarqoni berpendapat bahwa istilah Ulumul Quran lahir pada abad ke-5 H.
3.      Subhi Sholih tidak setuju terhadap dua pendapat tersebut. Menurutnya orang yang pertama kali menggunakan istilah Ulumul Quran adalah Ibnu Al-Murzaban (w. 309 H). Pendapat ini didasarkan pada penemuannya terhadap beberapa kitab yang membicarakan tentang kajian-kajian Al-Qur’an dengan menggunakan istilah Ulumul Quran, tepatnya pada abad ke-3 H. Hasbi Ash-Shiddiqi sependapat dengan Shubhi Sholih.[6]
4.      Thobaa’ thoba’I menayatakan bahwa munculnya istilah tersebut adalah sejak awal turunya Alquran yaitu pada masa yaitu pada masa Rasulullah. Karena para sahabat dan Tabi’in telah mengenal ilmu ini pada Abad ke-1 H, sekalipun hal itu belum sistematis. Pendapat ini didasari dengan adanya larangan untuk membukukan Al-Qur’an dengan segala cabangnya.

2.      Perkembangan Ulumul Qur’an

Pada masa Nabi dan masa sahabat tidak ada kebutuhan sama sekali untuk menulis atau mengarang buku-buku yang berhubungan dengan ilmu ini.[7] Karena sebagian besar sahabat orang-orang yang buta huruf, dan alat-alat tulis sangat sulit diperoleh, tambah lagi rasul sendiri melarang para sahabat menulis sesuatu yang bukan Alquran.

لاتكتبواعني شيأالاّ القزآن فمن كتب عني شيأغيرابقرآن ان فليمحه    
 (مسلم عن ابن سعيد الخدري)
Mereka orang-orang Arab murni (sahabat), mampu ,mencerna kesustraan yang bermutu tinggi. Mereka dapat memahami ayat-ayat Alquran yang diturunkan kepada rasul. Jika mereka mengalami kesulitan dalam memahami ayat yang turun itu, mereka langsung menanyakan kepada rasul.
Pada masa Abu Bakar dan Umar, ilmu ini belum ditulis, ilmu ini diriwayatkan melalui lisan atau ucapan, misalnya membaca dan menghafal Alquran. Pada masa Usman, orang Arab mulai bergaul dengan non-Arab maka pada masa ini Alquran dibukukan, khalifah memerintahkan agar membahas semua mushaf lain yang ditulis sahabat dengan caranya masing-masing. Perintah penulisan dan pembukuan Alquran adalah sebagai dasar peletak utama bagi muncul dan berkembangnya ilmu Alquran, yang dikenal pada waktu itu dengan علم رسم القران  
Alquran yang ditulis dan dicetak pertama kali di zaman Usman ada lima buah, yaitu:
1.      Ditinggal di Madinah.
2.      Dikirim ke Kufah.
3.      Dikirim ke Basrah.
4.      Dikirim ke Damaskus.
5.      Dikirim ke Mekkah.
Pada masa Ali diperintahkan pula Abu Al-Aswad Al-Du’ali (w. 69 H) untuk meletakan kaidah Pramasastra bahasa Arab guna menjaga keaslian Alquran. Ilmu ini dikenal dengan علم أِعراب القرآن
Tokoh atau perintis ilmu Al-Qur’an ini terdiri dari beberapa golongan, yaitu:
1.      Dari golongan sahabat
·         Khulufaur-Rasyidin
·         Ibnu Abbas
·         Ibnu Mas’ud
·         Zaid bin Tsabit
·         Ubai bin Ka’ab
·         Abu Musa Al-Asy’ari
·         Abdullah bin Zubair
2.      Dari golongan tabi’in Madinah
·         Mujahid
·         Atha’ bin Yasar
·         Ikhrimah
·         Qatadah
·         Hasan Basri
·         Sa’id bin Zubair
·         Zaid bin Aslam

3.      Generasi ketiga kaum muslim (Tabi’ tabi’in)
Malik bin Anas (dia mendapatkan dari Zaid bin Aslam) Ilmu Alquran diatas disebut dengan ilmu tafsir  ( (علم التفسيز.
Ilmu Tafsir ini berada diatas segala ilmu Alquran, Ilmu ini di atas segala ilmu Alquran, ilmu ini dipandang sebagai induk dari Ilmu Al-Qur’an.

Pada abad kedua Hijiriah, ilmu ini mulai berkembang, dan muncul pula ulama yang peka dalam ilmu ini, mereka adalah Syu’bah bin Al-Hajjaj, Sufyan bin Uyainah, dan Waki’ bin  Jarrah.
Buku-buku tafsir yang mereka tulis pada umumnya memuat tentang pendapat-pendapat para sahabat dan tabi’in pada abad yang sama ( 2H ). Kemudian muncul pula Ibnu Jarrir At- Tobari (w. 310 H) yang menulis tafsir Al-Tobari.

Pada abad yang ketiga muncul pula:
1.      Ali bin Al-Madani, guru Imam Bukhari, menulis kitab Asbab al-Nuzul.
2.      Abu Ubaid Al-Qosim Ibnu Salam, Nasakh Mansukh Alquran dan keutamaan dan keistemewaan Alquran.
3.      Muhammad Ibnu Ayyub Adh-Dhoris (w. 294 H) menulis kitab tentang Kandungan ayat-ayat AlMadani dan Al-Makiy.
4.      Muhammad Ibnu Khalaf Ibnu Murzaban (w. 309 H) menulis kitab Al-Khawi fii Ulumul Quran.

Pada abad keempat muncul pula:
1.      Abu Bakar Ibnu Qosim Al-Bari (w. 328 H), menulis kitab Ajaib Ulumul Quran (keajaiban ilmu-ilmu Al-Qur’an).
2.      Abu Hasan Al-Asyari (w. 395 M) menulis kitab Al-Mukhtazan fi Ulumul Quran (yang tersimpan dalam ilmu-ilmu Al-Qur’an).
Selanjutnya bermunculan lebih banyak pada abad IV Hijiriah ini.

Pada abad kelima muncul tokoh, diantaranya adalah Ali bin Ibrahim bin Sa’id al-Khufi (w. 430) yang menulis kitab Al-Burhan fu Ulumul Quran dan I’rab Alquran.

Pada abad keenam muncul pula tokoh yang terkenal, diantaranya adalah Abu Al-Qosim Abdur-Rahman Al-Suhaili (w. 581 H) menulis kitab Mubhamat Alquran (masalah-masalah yang samar dengan Alquran). Ibnu Al-Jauzi (w. 597 H) menulis kitab Funun Al-Afnan fi ‘Aja’ib Alquran.

Pada abad ketujuh muncul tokoh Ulumul Alquran yang lain, seperti:
1.      Ibnu Abdus Salam yang terkenal dengan panggilan Al-‘Izz (w. 660 H), menulis kitab Majaz Alquran kata piruratif dalam Alquran.
2.      Alamu Ad-Din As-Sakhawi (w. 643 H) menulis kitab Qiro’at.

Pada abad kedelapan muncul pula tokoh-tokoh atau ulama yang tidak kalah tenarnya dengan yang lainnya, di antaranya adalah Badar Ad-Din Az-Zarkasyi (w. 794 H), menulis kitab Al-Burhan fi Ulum Alquran. Ibnu Abi Ishba’ menulis kitab Bada’ Al-Quran. Dalam kitab ini membahas tentang keindahan bahasa Alquran. Ibnu Qayyim (w. 752 H) menulis kitab Asqam Alquran. Dalam kitab Najamuddin Thufy (w. 716 H) menulis kitab Hujaj Alquran. Di dalamnya membahas tentang bukti-bukti yang dipergunakan dalam menetapkan suatu hukum.

Pada abad kesembilan Ulumu Quran muncul jauh lebih baik dan banyak dari sebelumnya, diantara penulisannya adalah:
1.      Jalal al-Din Al-Bulqoini (w. 824 H), menulis kitab mawaqi’ Al-Ulum min Mawaqi’ Al-Nujum. Menurut As. Suyuthi, al-Buqoini dipandang sebagai ulama yang mempelopori penyusunan Ulumul Quran yang lengkap. Alasannya adalah karena dalam kitab tersebut dibahas 50 cabang Ulumul Quran.
2.      Muhammad ibn Sulaiman Al-Kafiaji (w. 879 H), mengarang kitab At-Tafsir fi Qawa’id at-Tafsir. Di dalamnya dibicarakan tentang tafsir, takwil Alquran, surah, dan ayat. Di samping itu, juga diterangkan tentang syarat-syarat menafsirkan ayat-ayat Alquran.

Pada abad kesepuluh muncul ulama moderat dalam Ulumul Quran, seperti As-Suyuthi (w. 991 H), menulis kitab Takhbir fi Ulum At-Tafsir dan Al-Itqan fi Ulumul Quran.

Pada tiga abad berikutnya bermacam-macam buku Ulumul Quran diantaranya adalah:
1.      Syekh Tohir Al-Jazairi. Menulis kitab At-Tibyan liba’ dh Al-Mabahis Al-Muta’alliqoh bi Al-quran.
2.      Syekh Muhammad Jalaluddin Al-Qosimi (w. 1332 H), menulis kitab Mukhasin Al-Ta’wil.
3.      Syekh Muhammad Abdul Az-‘Azim al-Zarqoni, menulis kitab Manahil al-Irfan fi Ulumul Quran.
4.      Syekh Muhammad Ali-Salamah, menulis kitab Minhaj al-Furqon fi Ulumul Quran.

Dan sebenarnya masih banyak lagi yang belum sempat dikemukakan dalam makalah ini. Dan yang terahir muncul kitab yang bersikan pandangan modern tentang Alquran yang ditulis oleh Muhammad Abdul Adh-Darosi dengan judul An-Naba’ Al-‘Azim.[8]

BAB 3
PENUTUP

A.    Kesimpualan
Dari pembahasan makalah pengertian, sejarah munculnya dan berkembangnya Ulumul Quran, dapat di tarik kesimpulan sebagai berikut:
1.      Menurut bahasa kata Ulumul Qur’an berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kata, yaitu “Ulum” dan “Al-Qur’an”. Kata ulum adalah bentuk jamak dari kata “ilmu” yang berarti ilmu-ilmu. Kata ulum yang disandarkan pada kata Al-Qur’an telah memberikan pengertian bahwa ilmu ini merupakan kumpulan sejumlah ilmu yang berhubungan dengan Al-Qur’an.  Sedangkan menurut istilah, Ulumul Quran adalah ilmu-ilmu yang berhubungan dengan berbagai aspek yang terkait dengan keperluan membahasa Alqur’an.

2.      Dalam munculunya Ulumul Quran banyak pandangan pendapat ahli Ulumul Quran yang berbeda-beda pendapat seperti pada  abad ke-1 H/ke-3 H/ke-5 H dan ke-7 H.


3.      Di dalam perkembangan  ilmu-ilmu Alquran atau Ulumul Quran, tokoh atau perintis ilmu Al-Qur’an ini terdiri dari beberapa golongan seperti dari golongan sahabat, khulufaur rasyidin, dari golongan tabi’in Madinah, dan Generasi ketiga kaum muslim (Tabi’ tabi’in), kemudian Ulumul Quran berkembang lagi dari abad kedua sampai abad kesembilan dengan berbagai karangan kitab dari para ahli Ulumul Quran, dan pada abad kesepuluh muncul ulama moderat dalam Ulumul Quran, seperti As-Suyuthi (w. 991 H), menulis kitab Takhbir fi Ulum At-Tafsir dan Al-Itqan fi Ulumul Quran. Kemudian Pada tiga abad berikutnya bermacam-macam buku Ulumul Quran


DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Abu. 2012. Ulumul Quran Sebuah Pengantar. Pekan Baru: Amzah.

Ali-Shobuni. 1981. At-Tibyan fi Ulumul Quran. Beirut: , Dar Al-Fikr.

Ash-Shiddiqi, Hasbi. 1972. Ilmu-Ilmu Alquran. Jakarta: Bulan Bintang.

As-Suyuthi. Itmam Al-Dirayah. Mesir : Isa Al-Bab Al-Habibi.

Az- Zarqoni. Manahil Al-‘Irfan. Beirut: Dar Al-Fikr.

Sholeh, Subhi. 1991. Mabahits fi Ulum al-Qur’an. Jakarta: Pustaka Firdaus.



#makalah_s1_syariah_dan_hukum


[2] Az- Zarqoni, Manahil Al-‘Irfan, Jilid I, Dar Al-Fikr, Beirut, tt., hlm 79.
[3] As- Suyuthi, Itmam Al-Dirayah, Mesir: Isa Al-Bab Al-Habibi, hlm. 47.
[4] Ali-Shobuni. At-Tibyan fi Ulumul Quran, 1981. hlm.8.
[5] Abu Anwar, Ulumul Qur’an, 2012, Pekan Baru: Amzah, hlm.4-6.
[6] Hasbi Ash-Shiddiqi, Ilmu-Ilmu Alquran, Jakarta: Bulan Bintang, 1972, hlm 7.
[7] [7] Subhi Sholeh, Mabahits fi Ulum al-Qur’an, Pustaka Firdaus, Jakarta. Cet 2, 1991, hlm. 143.
[8] Ibid 5, hlm 7-11.
loading...