Showing posts with label Filsafat Ilmu. Show all posts
Showing posts with label Filsafat Ilmu. Show all posts

Thursday, 7 April 2016

FILSAFAT DAN RUANG LINGKUP (Filsafat Pendidikan Islam)

FILSAFAT DAN RUANG LINGKUP (Filsafat Pendidikan Islam)
Makalah Filsafat Pendidikan Islam
Oleh: Wiji Lestari, Yuhana & Yuni Nopita Sari
(Tarbiyah PAI-Fiqh) UIN Raden Fatah Palembang

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Dunia pendidikan Islam di Indonesia khususnya, dan dunia Islam pada umumnya masih dihadapkan pada berbagai persoalan mulai dari soal rumusan tujuan pendidikan yang kurang sejalan dengan tuntutan masyarakat, sampai kepada persoalan guru, metode, kurikulum dan sebagainya. Upaya untuk mengatasi masalah tersebut masih terus dilakukan dengan berbagai upaya. Penataran guru, pelatihan tenaga pengelola pendidikan dan lain sebagainya harus dilakukan, namun masalah pendidikan terus bermunculan.
Upaya untuk memperbaiki kondisi kependidikan yang demikian itu tampaknya perlu dilacak pada akar permasalahannya yang bertumpu pada pemikiran filosofis. Filsafat pendidikan islam secara umum akan mengkaji berbagai masalah yang terdapat dalam bidang pendidikan,mulai dari visi misi,dan tujuan pendidikan,dasar-dasar dan asas-asas pendidikan islam,konsep manusia,guru,anak didik,kurikulum,dan metode sampai dengan evaluasi dalam pendidikan secara filosofis. Dengan kata lain, ilmu ini akan mencoba mempergunakan jasa pemikiran. Kenyataan menunjukan adanya kiblat-kiblat pendidikan islam yang belum jelas.
 Pendidikan Islam masih belum menemukan format dan bentuknya yang khas sesuai dengan agama islam hal ini selain karena banyaknya konsep pendidikan yang ditawarkan para ahli yang belum jelas keislamannya,juga karena belum banyak pakar pendidikan islam yang merancang pendidikan islam secara seksama.
Dengan demikian dalam makalah ini akan dibahas lebih rinci tentang pengertian dan ruang lingkup pendidikan Islam
1.2   Rumusan masalah
a.       Apakah yang dimaksud dengan filsafat, pendidikan dan Islam?
b.       Apakah yang dimaksud dengan filsafat pendidikan Islam?
c.       Apakah ruang lingkup Filsafat Pendidikan Islam?

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Filsafat, Pendidikan dan Islam
Filsafat Pendidikan Islam mengandung 3 (tiga) komponen kata, yaitu filsafat, pendidikan dan Islam. Untuk memahami pengertian filsafat pendidikan Islam akan lebih baik jika dimulai dari memahami makna masing-masing komponen kata untuk selanjutnya secara menyeluruh dari keterpaduan ketiga kata tadi dengan kerangka pikir sebagai berikut: Filsafat menurut Sutan Zanti Arbi (1988) berasal dari kata benda Yunani Kuno philosophia yang secara harpiah bermakna “kecintaan akan kearifan”. Makna kearifan melebihi pengetahuan, karena kearifan mengharuskan adanya pengetahuan dan dalam kearifan terdapat ketajaman dan kedalaman. Sedangkan John S. Brubacher (1962) berpendapat filsafat dari kata Yunani filos dan sofia yang berarti “cinta kebijaksanaan dan ilmu pengetahuan”.[1]
Secara istilah, filsafat mengandung banyak pengertian sesuai sudut pandang para ahli bersangkutan, diantaranya:
a. Mohammad Noor Syam (1986) merumuskan pengertian filsafat sebagai aktifitas berfikir murni atau kegiatan akal manusia dalam usaha mengerti secara mendalam segala sesuatu.
b. Menurut Hasbullah Bakry (dalam Prasetya, 1997) filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta dan manusia sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakekatnya sejauh yang dapat dicapai akal manusia dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya setelah mengetahui pengetahuan itu. (Syar’I,2005)
c. Harun Nasution (1973), menyatakan bahwa inti sari dari filsafat itu sendiri adalah berpikir menurut tata tertib (logika) dengan bebas (tidak terikat pada tradisi, dogma dan agama) dan dengan sedalam-dalamnya sehingga sampai kedasar-dasarnya.
d. Menurut Jujun S Suriasumantri (1982), berpikir filsafat merupakan berpikir yang mendasar, menyeluruh, dan spekulatif.
Kajian dan telaah filsafat memang sangat luas, karena itu filsafat merupakan sumber pengetahuan. Namun paling tidak, ada 2 hal pokok yang dapat kita mengerti dari istilah filsafat, yaitu : Pertama, aktivitas berfikir manusia secara menyeluruh, mendalam dan spekulatif terhadap sesuatu baik mengenai ketuhanan, alam semesta maupun manusia itu sendiri guna menemukan jawaban hakikat sesuatu itu. Kedua, ilmu pengetahuan yang mengkaji, menelaah atau menyelidiki hakikat sesuatu yang berhubungan dengan ketuhanan, manusia dan alam semesta secara menyeluruh, mendalam dan spekulatif dalam rangka memperoleh jawaban tentang hakikat sesuatu itu yang akhirnya temuan itu menjadi pengetahuan.
Pendidikan adalah ikhtiar atau usaha manusia dewasa untuk mendewasakan peserta didik agar menjadi manusia mandiri dan bertanggung jawab baik terhadap dirinya maupun segala sesuatu di luar dirinya, orang lain, hewan dan sebagainya. Ikhtiar mendewasakan mengandung makna sangat luas, transfer pengetahuan dan keterampilan, bimbingan dan arahan penguasaan pengetahuan, keterampilan dan pembinaan kepribadian, sikap moral dan sebagainya. Demikian pula peserta didik, tidak hanya diartikan manusia muda yang sedang tumbuh dan berkembang secara biologis dan psikologis tetapi manusia dewasa yang sedang mempelajari pengetahuan dan keterampilan tertentu guna memperkaya kemampuan, pengetahuan dan keterampilan dirinya juga dikualifikasikan sebagai peserta didik.
Menurut Hadari Nawawi (1988), menyatakan bahwa pendidikan sebagai usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan manusia, baik di dalam maupun di luar sekolah. Dengan reaksi yang berbeda, Hasan Langgulung (1986) mengartikan pendidikan sebagai usaha untuk mengubah dan memindahkan nilai kebudayaan kepada setiap individu dalam suatu masyarakat Islam.  Menurut Harun Nasution (1979) adalah segala agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul. Islam adalah agama yang seluruh ajarannya bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Hadis dalam rangka mengatur dan menuntun kehidupan manusia dalam hubungannya dengan Allah, sesama manusia dan dengan alam semesta. (Syar’I,2005)
Islam akan dilihat dari dua sudut pengertian. Pertama dari makna kata (etimologi). Kedua dari kata Islam sebagai agama Allah (din Allah). Melalui kedua pendekatan ini diharapkan akan lebih mempermudah pemahaman terhadap hubungan antara Islam sebagai agama, sebagai system nilai, dan juga sebagai pandangan hidup.
Secara etimologis, Islam memiliki sejumlah derivasi (kata turunan), antara lain: (Jalaludin,2011)
a.    Aslama, yang berarti menyerahkan diri, taat, tunduk, dan patuh sepenuhnya.
b.    Salima,berarti selamat, sejahtera, sentosa, bersih dan bebas dari cacat atau cela.
c.    Salam, berarti damai, aman,dan tentram.
d.   Sullam, yang artinya tangga (alat bantu untuk naik ke atas).
Berdasarkan pengertian etimologi ini, maka secara garis besarnya Islam mengandung makna penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah yang dibuktikan dengan sikap taat, tunduk, dan patuh terhadap ketentuannya, guna terwujudnya suatu yang selamat, sejahtera, sentosa, bersih dan bebas dari cacat atau cela dalam kondisi damai, aman, dan tentram, serta berkualitas.

2.2 Pengertian Filsafat Pendidikan Islam
Menurut Arifin (1992), Filsafat Pendidikan Islam pada hakekatnya adalah konsep berpikir tentang kependidikan yang bersumberkan ajaran Islam tentang hakikat kemampuan manusia untuk dapat dibina dan dikembangkan serta dibimbing menjadi manusia muslim yang seluruh pribadinya dijiwai oleh ajaran Islam, serta mengapa manusia harus dibina menjadi hamba Allah swt. yang berkepribadian demikian. Sarana dan upaya apa sajakah yang dapat mengantarkan pencapaian cita-cita demikian, dan sebagainya.
Menurut Zuhairini, dkk (1955), Filsafat Pendidikan Islam adalah studi tentang pandangan filosofis dan sistem dan aliran filsafat dalam islam terhadap masalah-masalah kependidikan dan bagaimana pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan perkembangan manusia muslim dan umat islam. Selain itu Filsafat Pendidikan Islam mereka artikan pula sebagai penggunaan dan penerapan metode dan sistem filsafat Islam dalam memecahkan problematika pendidikan umat islam yang selanjutnya memberikan arah dan tujuan yang jelas terhadap pelaksanaan pendidikan umat Islam. (Maulana,2013)
Sementara itu, Hasan Langgulung (1992), mengemukakan bahwa Filsafat Pendidikan Islam adalah sejumlah prinsip kepercayaan dan premis yang diambil dari ajaran Islam atau sesuai dengan semangatnya dan mempunyai kepentingan terapan dan bimbingan dalam usaha pendidikan.
Ahmad D. Marimba (1989), Filsafat Pendidikan Islam adalah perenungan-perenungan mengenai apa sesungguhnya Pendidikan Islam itu dan bagaimana usaha-usaha pendidikan dilaksanakan agar berhasil sesuai dengan hukum-hukum Islam.
Sedangkan Abuddin Nata[2] mendefinisikan Filsafat Pendidikan Islam sebagai suatu kajian filosofis mengenai berbagai masalah yang terdapat dalam kegiatan pendidikan yang didasarkan pada al-Qur’an dan al-Hadis sebagai sumber primer, dan pendapat para ahli khususnya filosof muslim sebagai sumber sekunder. Selain itu, Filsafat Pendidikan Islam dikatakan Abuddin Nata suatu upaya menggunakan jasa filosofis, yakni berfikir secara mendalam, sistematik, radikal dan universal tentang masalah-masalah pendidikan, seperti masalah manusia (anak didik), guru, kurikulum, metode dan lingkungan dengan menggunakan al-Qur’an dan al-Hadis sebagai dasar acuannya.
Tanpa mempersoalkan apakah Filsafat Pendidikan Islam itu sebagai aktifitas berfikir mendalam, menyeluruh dan spekulatif atau ilmu pengetahuan yang melakukan kajian menyeluruh, mendalam dan spekulatif mengenai masalah-masalah pendidikan dari sumber wahyu Allah, baik al-Qur’an maupun al-Hadis, paling tidak terdapat 2 hal pokok yang patut diperhatikan dari pengertian Filsafat Pendidikan Islam:
a.       Kajian menyeluruh, mendalam dan spekulatif terhadap kandungan al-Qur’an dan Al-hadis dalam rangka merumuskan konsep dasar pendidikan islam. Artinya, Filsafat Pendidikan Islam memberikan jawaban bagaimana pendidikan dapat dilaksanakan sesuai dengan tuntunan nilai-nilai Islam.
b. Kajian menyeluruh, mendalam dan spekulatif dalam rangka mengatasi berbagai probelam yang dihadapi pendidikan islam. Misalnya ketika suatu konsep pendidikan islam diterapkan dan ternyata dihadapkan kepada berbagai problema, maka ketika itu dilakukan kajian untuk mengatasi berbagi problema tadi. Aktivitas melakukan kajian menghasilkan konsep dan prilaku mengatasi problem pendidikan islam  tersebut merupakan makna dari Filsafat Pendidikan Islam.
Sebenarnya antara kajian mendalam, menyeluruh dan spekulatif merumuskan konsep dasar pendidikan islam dengan pikiran mengatasi problematika pendidikan Islam sulit untuk dapat dipisahkan secara tegas, sebab ketika suatu problem pendidikan islam dipecahkan melalui hasil sebuah kajian mendasar menyeluruh,  maka hasil tersebut sesungguhnya menjadi konsep dasar pelaksanaan pendidikan islam selanjutnya. Sebaliknya ketika suatu rumusan pemikiran pendidikan islam dibuat, misalnya konsep pendidikan di era globalisasi yang penuh persaingan kualitatif maka sebetulnya konsep yang dihasilkan tadi merupakan antisipatif menghadapi problem pendidikan islam di era millenium III yang di tandai globalisasi informasi dan persaingan kualitatif. (Syar’I,2005)
Perpaduan antara agama dan akal fikiran membuat kita untuk menjelaskan persoalan khusus (misalnya tentang universalisme), pemikiran pengakuan, dan menjawab keberatan-keberatan utama yang ditujukan pada solusi Aristotealismenya, yaitu dengan menyempurnakan metode skolastiknya.
Jadi dapat disimpulkan bahwa Filsafat Pendidikan Islam adalah suatu ilmu yang mengkaji, mencari, menganalisa, membahas secara filosofis tentang hakikat pendidikan Islam, baik secara konseptual, maupun operasional, serta menggunakan jasa Filosofis dalam mencari alternatif paling efektif bagi pemecahan problema pendidikan islam yang berdasar dan bersandar pada sistem kebenaran yang mutlak yaitu al-Qur'an dan al-Hadits serta pandangan filosofis muslim sehingga dapat memberikan perbaikan dan pengembangan terhadap pendidikan Islam.

2.3 Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan Islam
            Pemikiran dan kajian tentang Filsafat Pendidikan Islam menyangkut 3 hal pokok, yaitu: penelaahan tentang filsafat, pendidikan dan penelaahan tentang Islam. Karena itu, setiap orang yang berminat dan menerjunkan diri dalam dunia Filsafat Pendidikan Islam seharusnya memahami dan memiliki modal dasar tentang filsafat, pendidikan dan Islam.
            Kajian dan pemikiran mengenai pendidikan pada dasarnya menyangkut aspek yang sangat luas dan menyeluruh bahkan seluruh aspek kebutuhan dan atau kehidupan umat manusia, khususnya umat Islam. Ketika dilakukan kajian dan dirumuskan pemikiran mengenai tujuan Pendidikan Islam, maka tidak dapat dilepaskan dari tujuan hidup umat manusia. Karena tujuan pendidikan Islam pada hakekatnya dalam rangka mencapai tujuan hidup umat manusia, sehingga esensi dasar tujuan pendidikan islam sebetulnya sama dengan tujuan hidup umat manusia. Menurut Ahmad D. Marimba (1989) sesungguhnya tujuan pendidikan islam identik dengan tujuan hidup setiap muslim.
Sebagaimana filsafat pendidikan pada umumnya, maka filsafat pendidikan islam juga menyangkut pemikiran-pemikiran yang terkait dengan masalah pendidikan, yakni pendidikan Islam. Filsafat pendidikan islam adalah pedoman bagi perancang dan orang-orang yang berkerja dalam bidang pendidikan dan pengajaran. (Omar Mohammad al-Toumy al-Syaibany,1973)
Filsafat pendidikan Islam yang bertumpu pada pemikiran mengenai masalah pendidikan tak dapat dilepaskan dari tugas dan misi kerasulan, yakni untuk menyempurnakan akhlak. Kemudian penyempurnaan akhlak terkait pula dengan hakikat penciptaan manusia, yakni menjadi pengabdi Allah yang setia, maka manusia juga tak dapat melepaskan statusnya selaku khalifah Allah di muka bumi.[3]
Filsafat pendidikan Islam pada hakikat berada pada permasalahan-permasalahan dari ketiga factor yaitu: (1) hakikat penciptaan, (2) akhlak mulia, dan (3) tugas khalifah yang diamatkan pada manusia. Disini terlihat, bahwa filsafat pendidikan Islam tak dapat dilepaskan kaitannya dengan nilai-nilai ajaran Islam itu sendiri. Menurut Khursyid Ahmad, pendidikan adalah suatu bagian yang tak dapat dipisahkan dari kebudayaan masyarakat dan sebagai alat untuk memajukan masyarakat itu sendiri. Pada dasarnya setiap system pendidikan terdiri dari seperangkat cita-cita kemasyarakatan, norma dan nilai-nilai tertentu, dan didasarkan pada pandangan hidup dan kebudayaan tertentu.
Dalam pandangan Omar Mohammad al-Toumy al-Syaibany, filsafat pendidikan ialah pelaksanaan pandangan filsafat dan kaidah filsafat dalam pendidikan. Titik berat filsafat pendidikan adalah pada pelaksanaan prinsip-prinsip dan kepercayaan-kepercayaan yang menjadi dasar filsafat dalam menyelesaikan masalah-masalah pendidikan secara praktis. Dengan demikian ruang lingkup kajian filsafat pendidikan Islam mencakup prinsip dan kepercayaan yang menjadi dasar filsafat itu sendiri, serta faktor-faktor yang berhubungan dengan upaya penyelesaian pendidikan Islam.
Selanjuatnya Omar Mohhammad al-Toumy al-Syaibany (1979), mengemukakan lima prinsip dasar dalam kajian filsafat pendidikan Islam. Kelima prinsip dasar tersebut mencakup:
1.      Pandangan Islam terhadap jagat raya.
2.      Pandangan Islam terhadap manusia.
3.      Pandangan Islam terhadap masyarakat.
4.      Pandangan Islam terhadap pengetahuan manusia.
5.      Pandangan Islam terhadap akhlak.
Ruang lingkup kajian filsafat pendidikan Islam juga meliputi masalah-masalah yang berhubungan dengan sistem pendidikan itu sendiri. Adapun komponen-komponen yang termasuk dalam sistem pendidikan Islam itu, antara lain dasar yang melandasi pembentukan sistem tersebut. Lalu tujuan yang akan dicapai oleh pendidikan Islam. Untuk mencapai tujuan dimaksud, maka perlu ada rumusan mengenai siapa yang dididik, siapa pelaksannya, bagaimana cara penyelengaraannya, sarana dan prasarana apa yang diperlukan, materi apa yang diberikan, bagaimana caranya, kondisi apa yang perlu diciptakan, serta bagaimana mengukur tingkat pencapainya.
Dengan demikian ruang lingjup kajian filsafat pendidikan Islam adalah identik dengan Islam itu sendiri. Mencakup semua aspek kehidupan manusia secara menyeluruh yang terkait dengan maslah pendidikan.


BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Filsafat adalah proses perpikir yang mendalam, menyeluruh tentang suatu  gejala dan tanda yang terjadi di lingkungan hidup manusia. Kajian dan telaah filsafat sangat luas, karena itu filsafat disebut sebagai pokok pangkalnya ilmu pengetahuan. Pada dasarnya setiap orang memiliki filsafat tapi mungkin ia tidak menyadari akan hal itu. Berpikir filsafat berusaha memecahkan suatu persoalan dan memandang persoalan dari ensensinya.
Pendidikan ialah usaha sadar yang dilakukan oleh orang yang lebih tua kepada orang yang lebih muda atau orang yang belum bisa berpikir secara dewasa. Melalui proses suatu pendidikan perserta didik akan bisa berpikir secara mandiri dan diharapkan dapat terbentuk suatu karakter akhlak yang mulia.
Agama merupakan suatu kepercayaan yang dianut oleh setiap individu. Jika kita berbicara agama maka menyangkut kebenaran, karena agama adalah kebenaran yang paling tua. Islam merupakan agama dari Allah. Dalam Islam kita berpegang pada Al-Qur’an dan Hadits.
Dari arti kata filsafat, pedidikan, dan Islam maka dapat disimpulkan bahwa filsafat pendidikan Islam adalah suatu ilmu yang mengkaji, mencari, menganalisa, membahas secara filosofis tentang hakikat pendidikan islam, baik secara konseptual, maupun operasional, serta menggunakan jasa filosofis dala mencari alternatif paling efektif bagi pemecahan problema pendidikan islam yang berdasar dan bersandar pada sistem kebenaran yang mutlak yaitu al-Qur'an dan al-Hadits serta pandangan filosofis muslim sehingga dapat memberikan perbaikan dan pengembangan terhadap pendidikan Islam.
Ruang lingkup kajian filsafat pendidikan Islam juga meliputi masalah-masalah yang berhubungan dengan sistem pendidikan itu sendiri, yaitu pendidikan Islam. Pemikiran-pemikiran mengambarkan cakupan teori mengambarkan rumusan mengenai perserta didik, pendidik, manajemen, institusi, kurikulum, metode, alat, evaluasi pendidikan.


DAFTAR PUSTAKA

Abdulloh, N. (2010). Filsafat Pendidikan Islam. Retrieved Oktober Jumad, 2013, from wordpress.com
Jalaludin. (2011). Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia.
Nasution, H. (1973). Falsafat dan Mistisisme dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang.
Syar'I, A. (2005). Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Pustaka Firdaus.

Hasbullah. 2005. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Oliver Leaman. 2000. Pengantar Filsafat Islam. Jakarta : CV Rajawali.
Haidar Putra Daulay. 2014. Pendidikan Islam dalam Perspektif Filsafat. Jakarta: Kencana Prenadamedia Group.
Tedd Beavers. 2001. Paradigma Filsafat Pendidikan Islam Kontribusi Filosof Muslim. Jakarta: Katalog Dalam Terbitan.
Rusmaini. 2013. Ilmu Pendidikan. Yogjakarta: Pustaka Felicha.
Bernadib, 1982.  Imam. Filsafat Pendidikan.Yogjakarta: IKIP Yogjakarta.
Merimba, Ahmad. 1962. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: Al-Ma’arif.
Syar’i A. 2005. Filsafat Islam. Jakarta: Pustaka Firdaus.
Susanto. 2011. Filsafat Ilmu, Suatu Kajian Dalam Dimensi Ontologis, Epistomologi dan Aksiologi. Jakarta: Bumi Aksara.
Jalaluddin, dkk. 1998. Filsafat Islam Metoda dan Penerapan. Jakarta: Bulan Bintang.
Samsul Nizar. Pengantar Dasar-dasar Pemikiran Pendidikan Islam. Jakarta: Gaya Media Pertama
Sajuddin Zar. 2010. Filsafat Islam.Jakarta: Raja Grafindo Persada.




[1] Syar'i, A. (2005). Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Pustaka Firdaus.Hlm. 4
[2] Abuddin Nata. (2010). Filsafat Pendidikan Islam. Retrieved Oktober Jumad, 2013, from wordpress.com
[3] Jalaludin. (2011). Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia.

Friday, 15 January 2016

Ontologi Ilmu, Metafisika dan Asumsi - Filsafat Ilmu

Ontologi Ilmu, Metafisika dan Asumsi
Oleh: Jamiatul Husnaini, Mawardi Naim & Riki Oktavianus


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Secara etimologi, Filsafat berasal dari bahasa yunani, yang terdiri dari dua kata, yaitu “philein” artinya cinta dan “shopia” artinya kebijaksanaan. Filsafat berarti cinta kebijaksanaan, cinta adalah Hasrat yang besar atau berkobar-kobar atau yang sungguh-sungguh. Kebijaksaan adalah kebenaran sejati atau kebenaran yang sesungguhnya. Jadi, filsafat adalah hasrat atau keinginan sungguh-sungguh akan kebenaran sejati.
Secara terminology, filsafat adalah sistem kebenaran tentang segala sesuatu yang dipersoalkan secara radikal, sistematik dan universal (Sidi Gazalba). Filsafat adalah refleksi menyeluruh tentang segala sesuatu yang disusun secara sistematis, diuji secara kritis demi hakikat kebenaran yang terdalam serta demi makna kehidupan manusia di tengah-tengah alam semesta (Dmardjati Supadjar).
Dari pengertian filsafat tersebut, para filosof  berusaha memecahkan masalah-masalah melalui pengujian yang kritis untuk  mengevaluasi informasi-informasi dan kepercayaan-kepercayaan tentang alam semesta serta kesibukan dunia manusia. Filosof mencoba membuat generalisasi, sistematika, dan gambaran-gambaran yang konsisten tentang semua hal tanpa melihat tujuan, pekerjaan, dan latar belakang pendidikan sosialnya, para filosof telah menyumbangkan keyakinan mengenai pentingnya pengujian dan analisis yang kritis terhadap pandangan-pandangan manusia.
Filosof cenderung untuk tidak menjadi spesialis seperti ilmuan menganalisis dengan suatu pandangan yang menyeluruh tentang benda-benda atau masalah. Filsafat adalah berfikir secara radikal, sistematis dan universal tentang segala sesuatu. Jadi, yang menjadi objek pemikiran filsafat adalah segala sesuatu yang ada. Semua yang ada menjadi bahan pemikiran filsafat. Namun, karena filsafat merupan usaha berfikir manusia secara sistematis, maka segala sesuatu itu perlu disistematiskan.
B.     Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang akan kita bahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Apa pengertian Ontologi?
2.      Apa yang dimaksud Metafisika?


BAB II
PEMBAHASAN
Ontologi Ilmu; Metafisika dan Asumsi

A.    Ontologi
Tokoh yang membuat istilah ontology adalah Christian Wolff (1679-1714). Istilah ontology berasal dari bahasa yunani, yaitu ta onta berarti segala sesuatu yang ada, dan logia berarti ilmu pengetahuan atau ajaran. Dengan demikian, ontology adalah ilmu pengetahuan atau segala sesuatu yang ada. Louis O. kattoff membedakan antara metafisika dan antology. Metafisika adalah pengetahuan yang mempersoalkan sesuatu di balik yang tampak. Sedang ontology, esensi dari yang ada hakikat adanya segala ujud yang ada. Jadi, persoalan yang pertama yang menyangkut masalah ontology. Dengan demikian, menurut Louis O. Kattsoff, ontology adalah bagian dari metafisika.
Di dalam ontology terdapat beberapa aliranyang penting, yaitu: Dualisme yang memandang alam menjadi dua macam hakikat sebagai sumbernya. Sedangkan monisme (materialism) memandang bahwa sumber yang berasal itu hanya tunggal. Idealism memandang segala sesuatu serba cita atau serba roh. Sedangkan faham yang mengingkari kesanggupan manusia untuk mengetahui hakikat seperti yang dikehendaki oleh ilmu metafisika disebut aguosticisme.[1]
B.     Metafisika
Istilah metafisika berasal bahasa yunani terdiri dari dua kata “Meta” dan “Fisika”. Meta berarti sesudah, selain atau sebaliknya. Fisika yang berarti nyata, atau alam. Metafisika berarti sesudah, sebalik yang nyata. Ditinjau dari segi filsafat secara menyeluruh metafisika adalah ilmu yang memikirkan hakikat dari segala sesuatu dari alam nyata tanpa dibatasi pada sesuatu yang dapat diserap oleh panca indera.
Pengertian metafisika menurut Van Peuten (Surajiyo, 2005:115) adalah bagian filsafat yang memusatkan perhatian pada pertanyaan mengenai akar terdalam yang mendasari segala adanya kita. Metafisika mempelajari manusia, namun yang menjadi objek pemikirannya bukanlah manusia dengan segala aspeknya, termasuk pengalaman yang ditangkap oleh indera.[2] Bidang telaah filsafati yang disebut metafisika ini merupakan tempat berpijak dari setiap pemikiran filsafati termasuk pemikiran ilmiah. Diibaratkan pikiran adalah roket yang meluncur ke bintang-bintang, menembus galaksi dan awan gemawan, maka metafisika adalah landasan peluncurannya.[3]
Ajaran aristoteles  mengenai fisika dan metafisika tidak senantiasa dapat dibeda-bedakan dengan jelas. Sebutan “metafisika” sebenarnya memeng hanya suatu sebutan yang kebetulan saja. Istilah ini tidak berasal dari Aristoteles sendiri, melainkan dari Andronikos dari Rhodos (70 SM). Ia menyusun karya-karya Aritoteles dengan cara demikian, bahwa karya-karya Aristoteles tentang “filsafat pertama”, yang mengenai hal-hal yang bersifat ghaib, ditempatkan sesudah karya-karyanya tentang fisika (meta ta fusika) kata meta mempunyai arti lengkap, yaitu: sesudah dan di belakang. Judul metafisika itu dipandang tepat sekali untuk dipakai guna mengungkapkan isi pandangan-pandangan mengenai “hal-hal yang di belakang gejala-gejala fisika”.[4]
Inti ajaran Aristoteles mengenai fisika dan meetafisika terdapat dalam ajarannya tentang apa yang disebut dinamis (potensi) dan energeia (aksi). Semula ajaran ini dipakai guna memecahkan soal perubahan dan gerak.
Menurut Aristoteles ilmu metafisika termasuk cabang filsafat teoritis yang membahas masalah hakikat segala sesuatu, sehingga dengan demikian ilmu metafisika menjadi inti filsafat. Masalah-masalah yang metafisik  merupakan sesuatu yang fundamental dari kehidupan, oleh karena itu setiap orang yang sadar berhadapan dengan sesuatu yang metafisik tetap tersangkut dalamnya.
Ajaran Spinoza di bidang metafisik menjukan kepada suatu ajaran monistis yang logis, yang mengajarkan bahwa dunia sebagai keseluruhan mewujudkan substansi tunggal, di mana tiada bagiannya yang dapat secara logis berada sendiri. Ajaran ini didasarkan atas keyakinan, bahwa tiap hal memiliki suatu subyek tunggal dan suatu predikat tunggal juga, sehingga harus disimpulakn, bahwa segala hubungan dan kejamakan adalah semu. Tabiat dunia dan hidup manusia secara logis dapat diturunkan dari aksoma-aksioma yang jelas pada dirinya sendiri. Oleh karena itu sebenarnya kita menyerah kepada kejadian-kejadian, seperti halnya kita menyerah kepada kenyataan, bahwa 2 kali 2 adalah 4. Hal ini disebabkan karena keduanya, baik kejadian-kejadian yang dialami manusia, maupun kenyataan-kenyataan ilmu hitung, sama-sama mewujudakn hasil suatu keharusan yang logis.[5]
Dalam pemikiran lebih lanjut pemakaian istilah metafisika disejajarkan dengan ontology. Pemakaian kedua istilah tersebut memiliki pendukung dan tokoh masing-masing. Seorang ahli ontology terkenal ialah Nicolai Harzman pernah menggunakan istilah metafisika, akan tetapi dalam perkembangan lebih lanjut menonjolkan istilah ontology. Gottfried Martin memandang istilah metafisika sinonim dengan istilah ontologi.
Beberapa Tafsiran Metafisika
Tafsiran pertama yang diberikan oleh manusia terhadap alam ini adalah bahwa terdapat wujud-wujud yang bersifat ghaib (supernatural) dan wujud-wujud ini bersifat lebih tinggi atau lebih kuasa dibandingkan dengan alam yang nyata. Animism merupakan kepercayaan yang berdasarkan pemikiran supranaturalisme di mana manusia percaya bahwa roh-roh yang bersifat ghaib yang terdapat dalam benda seperti batu, pohon dan air terjun.
Paham naturalism menolak pendapat bahwa terdapat wujud-wujud yang bersifat supernatural, materalisme, berpendapat bahwa gejala-gejala alam tidak disebabkan oleh pengaruh kekuatan yang bersifat ghaib, melainkan oleh kekuatan yang terdapat dalam alam itu sendiri yang dapat kita pelajari dan dapat kita pahami. Prinsip naturalism ini dikembangkan oleh Democritos (460-370 SM) mengembangkan teori tentang atom. Ia berpendapat bahwa unsure dasar dari alam adalah atom. “hanya berdasarkan kebiasaan saja maka manis itu manis, panas itu panas, dingin itu dingin, warna itu warna. Seringkali kita beranggapan obyek penginderaan bersifat nyata, padahal hanya atom dan kehampaanlah yang bersifat nyata.” Atau dengan perkataan lain, manis, panas, dingi, atau warna adalah terminology yang bisa kita berikan kepada gejala yang kitatangkap lewat pancaindera. Rangsangan pancaindera ini disalurkan ke otak dan menghadirkan gejala tersebut.
Dengan demikian, maka gejala alam dapat didekati dari segi proses kimia-fisika. Hal ini tidak terlalu menimbulkan permasalah selama diterapakan kepada zat-zat yang mati seperti batuan atau karat besi.
Kaum yang menganut paham mekanistik ditentang oleh kaum vitalistik. Mekanistik dikembangkan oleh Galileo (1564-1641) yang berpandapat melihat gejala alam (termasuk makhluk hidup) hanya merupakan gejala kimia-fisika semata. Sedangkan bagi kaum vitalistik yang dikembangkan oleh Hendry Bersgon (1859-1941) menyebutkan hidup adalah sesuatu yang unik yang berbeda secara substantifvtidak dapat sepenuhnya dijelaskan secara fisika-kimiawi, karena hakikatnya berbeda dengan yang tidak hidup.
Secara fisiologis otak manusia terdiri dari 10-15 biliun neuron. Neuron adalah sel saraf yang merupakan dasar dari keseluruhan sistem saraf. Cara kerja otak ini merupakan obyek telaahan dari berbagai disiplin keilmuan seperti fisiologi, psikologi, kimia, matematika, fisika dan lain-lain. Dalam hal ini. Maka aliran monistik mempunyai pendapat yang tidak membedakan antara pikiran dan zat. Mereka hanya berbeda dalam gejala disebabkan proses yang berlainan namun mempunyai substansi yang sama. Ibarat zat dan energy , dalam teori relativitas Einstein, energy hanya merupakan bentuk lain dari zat. Dalam hal ini maka proses berpikir dianggap sebagai aktivitas elektrokimia dari otak. Jadi yang menjadikan robot dan manusia bagi kaum yang menganut paham monistik hanya terletak pada komponen dan struktur yang membangunnya dan sama swekali bukan terletak pada substansinya yang pada hakikatnya menyamai manusia, maka robot itupun menjadi manusia. Aliran monistik dikembangkan oleh Christian Worlff (1679-1754).
Pendapat monistik ini ditolak oleh kaum yang menganut paham dualistic. Dalam metafisika, penafsiran dualistic membedakan antara zat dan kesadaran (pikiran) yang bagi mereka berbeda secara substantif. Filsuf yang menganut paham dualistic ini diantaranya adalah Rene Descartes (1596-1650), John Locke (1632-1714) dan George Berkeley (1685-1783). Ketiga ahli filsafat ini berpendapat bahwa apa yang ditangkap oleh pikiran termasuk penginderaan dari segenap pengalaman manusia adalah bersifat mental.
C.    Asumsi
Asumsi adalah pendapat atau dugaan seseorang terhadap suatu masalah dalam usaha mencari jawaban dari masalah tersebut.
Para filsuf menduga-duga apakah gejala dalam alam ini tunduk kepada determinisme, yakni hukum alam yang bersifat universal, ataukah hukum semacam itu tidak terdapat sebab setiap gejala merupakan akibat pilihan bebas, ataukah memang ada namun berupa peluang, sekadar tangkapan probabilistic? Ketiga masalah ini, yakni determinisme, pilihan bebas dan probabilistic merupakan permasalahan filsafati yang rumit namun menarik. Tanpa mengenal tiga aspek ini, serta bagaimana ilmu sampai pada pemecahan masalah yang merupakan kompromi , akan sukar bagi kita untuk mengenal hakikat keilmuan dengan baik.
Pembatasan mengenai determinisme, pilihan bebas dan probabilistic itu baru dapat dilakukan jika hukum semacam itu memang ada. Jika hukum yang mengatur kejadian alam itu tidak ada maka masalah determinisme, probabilistic dan pilihan bebas itu sama sekali tidak akan muncul. Jika hukum alam itu memeng benar-benar tidak ada maka tidak aka nada permasalahan dengan determinisme, probabilistic dan pilihan bebas, dengan demikian maka tidak ada masalah tentang hubungan logam dengan panas, tekanan dengan volume, atau IQ dengan keberhasilan belajar.
Paham determinisme dikembangkan oleh William Hamilton (1788-1856) dari doktrin Thomas Hobbes (1588-1679) yang menyimpulkan bahwa pengetahuan adalah bersifat empiris yang dicerminkan oleh zat dan gerak yang bersifat universal. Aliran filsafat ini merupakan lawan dari paham fatalism yang berpendapat bahwa  segala kejadian ditentukan oleh nasib yang telah ditetapkan lebih dulu. Demikian juga paham determinisme ini bertentangan dengan penganut pilihan bebas yang menyatakan bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam menentukan pilihannya tidak terikat pada hukum alam yang tidak memberikan alternative.
Konsekuensi dari pilihan ini jelas, sebab jika hukum kejadian yang berlaku bagi seluruh manusia, maka kita harus bertolak dari paham determinisme. Jika kita memilih hukum kejadian yang bersifat khas bagi tiap individu manusia maka kita berpaling terhadap paham pilihan bebas. Sedangkan posisi tengah yang terletak diantara keduanya mengantarkan pada sifat probabilistic.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Berdasarkan Rumusan Masalah dan Pembahasan dalam makalah ini, maka dapat disimpulkan:
Ø  Tokoh yang membuat istilah ontology adalah Christian Wolff (1679-1714). Istilah ontology berasal dari bahasa yunani, yaitu ta onta berarti segala sesuatu yang ada, dan logia berarti ilmu pengetahuan atau ajaran. Jadi. Ontologi adalah ilmu yang mempelajari tentang segala sesuatu.
Ø  Istilah metafisika berasal bahasa yunani terdiri dari dua kata “meta” dan “fisika”. Meta berarti sesudah, selain atau sebaliknya. Fisika yang berarti nyata, atau alam. Metafisika berarti sesudah, sebalik yang nyata. Ditinjau dari segi filsafat secara menyeluruh metafisika adalah ilmu yang memikirkan hakikat dari segala sesuatu dari alam nyata tanpa dibatasi pada sesuatu yang dapat diserap oleh panca indera.
Ø  Asumsi adalah pendapat atau dugaan dari seseorang dalam mencari jawaban atas suatu masalah tertentu.


DAFTAR PUSTAKA

Ø  Sudarsono. 2008.  Ilmu Filsafat ;suatu pengantar.  Jakarta: Rineka Cipta.
Ø  Surajiyo. 2005.  Ilmu Filsafat; suatu Pengantar. Jakarta: Bumi Aksara.
Ø  Suriasumantri, Jujun S. 2007.  Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Ø  Hadiwijoyo, Harun. Sari Sejarah Filsafat Barat I, hal. 47.



[1] Sudarsono, Ilmu Filsafat (suatu pengantar), (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), hal. 118.
[2] Surajiyo, Ilmu Filsafat suatu Pengantar, (Jakarta: Bumi Aksara, 2005), hal. 115.
[3] Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2007), hal. 63.
[4] Dr. Harun Hadiwijoyo, Sari Sejarah Filsafat Barat I, hal. 47.
[5] Ibid, hal. 31.

#makalah_prodi_perbandingan mazhab dan hukum_angkatan2012 2016_syariahdanhukum_UIN_Raden_fatah_palembang

Sunday, 15 November 2015

Sumber-Sumber Pengetahuan dan Kriteria Kebenaran

Sumber-Sumber Pengetahuan dan Kriteria Kebenaran
Oleh: Iswahyudi

BAB 1
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Pengetahuan adalah suatu istilah yang dipergunakan untuk menuturkan apabila seesorang mengenal tentang sesuatu. Sesuatu hal yang menjadi pengetahuannya adalah selalu terdiri atas unsure yang yang mengetahui dan yang diketahui serta kesadaran mengenai hal yang ingin diketahuinya itu. Oleh karena itu, pengetahuan selalu menuntut adanya subjek yang mempunyai kesadaran untuk mengetahui tentang sesuatu dan objek yang merupakan sesuatu sesuatu yang dihadapinya sebagai hal ingin diketahuinya. Oleh karena itu semua orang mempunyai pengetahuan dan pengetahuan tersebut di dapat dari sumber pengetahuan.
Kemudian, mengenai hal kebenaran sesungguhnya merupakan tema sentral di dalam filsafat ilmu. Secara umum orang merasa bahwa tujuan pengetahuan adalah untuk mencapai kebenaran. Dan untuk mencapai suatu kebenaran itu adalah dengan verfikir
Oleh karena itu di dalam makalah ini akan di bahas mengenai sumber-sumber pengetahuan dan penjelasan tentang kebenaran serta kriteria kebenaran.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas ditemukan beberapa permasalahan, diantarannya Sebagai berikut:
1.      Apa sajakah sumber-sumber dari pengetahuan?
2.       Apa sajakah teori secara tradisional dan kriteria dari kebenaran itu?

C.    Tujuan Penulisan
 Tujuan dalam penulisan makalah ini adalah sebagai tugas keolompok 2 pada semester kedua dan bahan diskusi mata kuliah filsafat ilmu dan untuk menambah pengetahuan atau wawasan tentang sumber-sumber pengetahuan dan kriteria kebenaran dan diharapkan bisa bermanfaat bagi kita semua.

BAB 2
PEMBAHASAN

A.    Sumber-Sumber Pengetahuan
Pengetahuan adalah hasil tahu manusia terhadap sesuatu , atau segala perbuatan manusia untuk memahami suatu objek yang dihadapinya, atau hasil usaha manusia untuk memahami suatu objek tertentu.[1]
Semua orang mengakui memiliki pengetahuan. Namun, dari mana pengetahuan itu diperoleh atau lewat apa pengetahuan itu di dapat. Dari situ timbul pertanyaan bagaimana kita memperoleh pengetahuan atau dari mana sumber pengetahuan didapat. Sebelum membahas sumber pengetahuan, terlebih dahulu mengetahui tentang hakikat pengetahuan. Pengetahuan pada dasarnya adalah keadaan mental. Mengetahui sesuatu adalah menyusun pendapat tentang suatu objek, dengan kata lain menyusun gambaran tentang fakta yang ada diluar akal. Persoalannya kemudian adalah apakah gambar itu sesuai dengan fakta atau tidak? Apakah gambaran itu benar? atau apakahgambaran itu dekat dengan kebenaran atau jauh dari kebenaran?.
Oleh Karena itu, Pengetahuan yang ada pada kita diperoleh dengan menggunakan berbagai alat yang ,merupakan sumber pengetahuan tersebut.[2] Dalam hal in ada beberapa pendapat tentang sumber pengetahuan antara lain:

1.      Empirisme
Kata ini berasal dari kata Yunani empeirikos, artinya pengalaman. Menurut aliran ini manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalamannya. Dan bila dikembalikan kepada kata Yunaninya, pengalaman yang dimaksud ialah pengalaman inderawi.[3]
Dengan inderanya, manusia dapat mengatasi taraf hubungan yang semata-mata fisik dan masuk ke dalam medan intensional, walaupun masih sangat sederhana. Indera menghubungkan manusia dengan hal-hal konkret-material.
Pengetahuan inderawi bersifat parsial. Itu disebabkan oleh adanya perbedaan antara indra yang satu dengan indra yang lainnya, berhubungan dengan sifat khas fisiologis indera dan dengan objek yang dapat ditangkap sesuai dengannya. Masing-masing indra menangkap aspek yang berbeda mengenai barang atau makhluk yang menjadi objeknya. Jadi pengetahuan inderawi berada menurut perbedaan indera dan terbatas pada sensibilitas organ-organ tertentu.[4]

2.      Rasionalisme
Aliran ini menyatakan bahwa akal adalah dasar kepastian pengetahuan. Pengetahuan yang benar diperoleh dan diukur dengan akal. Manusia memperoleh pengetahuan melalui kegiatan menangkap objek.
Dalam penyusunan ini akal menggunakan konsep-konsep rasional atau ide-ide universal. Konsep tersebut mempunyai wujud dalam alam nyata yang bersifat universal. Yang dimaksud dengan prinsip-prinsip universal adalah abstraksi dari benda-benda kongkret, seperti hukum kausalitas atau gambaran umum tentang benda tertentu. Sebaliknya bagi empirisme hukum tersebut tidak diakui.[5]
Para penganut rasionalisme yakin bahwa kebenaran dan kesesatan terletak dalam ide dan bukunya di dalam diri barang sesuatu. Jika kebenaran mengandung makna mempunyai ide yang sesuai dengan atau yang menunjuk kepada kenyataan, kebenaran hanya ada di dalam pikiran kita dan hanya dapat diperoleh dengan akal budi saja.[6]

3.      Intuisi
Menurut Henry Bergson intuisi adalah hasil dari evolusi pemahaman yang tertinggi. Ia juga mengatakan bahwa intuisi adalah suatu pengetahuan yang langsung, yang mutlak.[7]
Intuisi merupakan pengetahuan yang didapatkan tanpa melalui proses penalaran tertentu. Seseorang yang sedang terpusat pemikirannya pada suatu masalah dan tiba-tiba saja menemukan jawaban atas permasalahan tersebut. Tanpa melalui proses berfikir yang berliku-liku tiba-tiba saja dia sudah sampai disitu. Jawaban atas permasalahan yang sedang dipikirkannya muncul dibenaknya bagaikan kebenaran yang membukakan pintu. Atau bisa juga, intuisi ini bekerja dalam keadaan yang tidak sepenuhnya sadar, artinya jawaban atas suatu permasalahan ditemukan tidak tergantung waktu orang tersebut secara sadar sedang menggelutnya. Namun intuisi ini bersifat personal dan tidak bisa diramalkan. Sebagai dasar untuk menyusun pengetahuan secara teratur maka intuisi ini tidak bisa diandalkan.

4.      Wahyu
Wahyu adalah pengetahuan yang disampaikan oleh Allah kepada manusia. Pengetahuan ini disalurkan oleh nabi-nabi yang diutusnya sepanjang zaman. Agama merupakan pengetahuan bukan saja mengenai kehidupan sekarang yang terjangkau pengalaman, namun juga mencakup masalah-masalah yang bersifat transedental seperti latar belakang penciptaan manusia dan hari kemudian di akhirat nanti. Pengetahuan ini didasarkan kepada kepercayaan akan hal-hal yang ghaib (supernatural). Keparcayaan kepada Tuhan yang merupakan sumber pengetahuan, kepercayaan kepada nabi sebagai perantara dan kepercayaan terhadap wahyu sebagai cara penyampaian,merupakan dasar dari penyusunan pengetahuan ini. Kepercayaan merupakan titik tolak dalam agama. Suatu pernyataan harus dipercaya dulu untuk dapat diterima: pernyataan ini bisa saja selanjutnya dikaji dengan metode lain.[8]

B.     Kriteria Kebenaran
Dalam perkembangan pemikiran filsafat perbincangan tentang kebenaran sudah dimulai sejak Plato yang kemudian di teruskan oleh Aristoteles. Plato melalui metode dialog membangun teori pengetahuan yang paling awal. Sejak itulah teori pengetahuan berkembang terus untuk mendapatkan penyempurnaan sampai kini
Untuk mengetahui apakah pengetahuan kita mempunyai nilai kebenaran atau tidak. Hal ini berhubungan erat dengan sikap, bagaimana cara memperoleh pengetahuan? Apakah hanya kegiatan dan kemampuan akal pikir ataukah melalui kegiatan indra? Yang jelas bagi seorang skeptis pengetahuan tidaklah mempunyai nilai kebenaran, karena semua diragukan atau keraguan  itulah yang merupakan kebenaran.[9]

1.      Teori-teori Kebenaran Secara Tradisional

a.       Teori Kebenaran Saling Berhubungan (Coherence Theory of truth)
Teori koherensi dibangun oleh para pemikir rationalis seperti Leibniz, Spinoza, Hegel, dan Bradley. Menurut Kattsoft (1986) dalam bukunya Elements of Philosopy teori dijelaskan” ... suatu proposisi cenderung benar jika proposisi tersebut dalam keadaan saling berhubungan dengan ide-ide dari proposisi yang telah ada atau benar, atau jika makna yang dikandungnya dalam keadaan saling berhubungan dengan pengalaman  kita.”

b.      Teori Kebenaran Saling Berkesesuaian (Corespondence Theory of Truth)
Teori kebenaran korespodensi adalah teori kebenaran yang paling awal dan paling tua. Teori tersebut berangkat dari teori pengetahuan Aristoteles yang menyatakan segala sesuatu yang diketahui adalah suatu yang dapat dikembalikan pada kenyataaan yang dikenal oleh subjek.[10]

c.       Teori Kebenaran Inherensi (Inherence Theory of Truth)
Kattsoff (1986) menguraikan tentang teori kebenaran pragmatis ini adalah penganut pragmatisme meletakan ukuran kebenaran dalam salah satu macam konsekuensi.

d.      Teori Kebenaran Berdasarkan Arti (Semantic Theory of Truth)
Proposisi itu ditinjau dari segi artinya atau maknanya. Apakah proposisi yang  merupakan pangkal tumpuannya itu mempunyai referen yang jelas. Oleh sebab itu, teori ini mempunyai tugas untuk menguakkan kesahan dari proposisi dalam referensinya.[11]

e.       Teori Kebenaran Sintaksis
Para penganut teori kebenaran sintaksis, berpangkal tolak pada keteraturan sintaksis atau gramatika yang dipakai oleh suatu pernyataan atau tata bahasa yang melekatnya. Dengan demikian suatu pernyataan memiliki nilai benar apabila pernyataan itu mengikuti aturan-aturan sintaksis yang baku.

f.       Teori Kebenaran Nondekripsi
Teori kebenaran Nondekripsi dikembangkan oleh penganut filsafat fungsionalisme. Karena pada dasanya suatu statemen atau pernyataan akan mempunyai nilai benar yang amat tergantung pada peran dan fungsi dari pernyataan itu. Jadi, pengetahuan akan memiliki nilai benar sejauh pernyataan itu memiliki fungsi yang amat praktis dalam kehidupan sehari-hari.

g.      Teori Kebenaran Logik yang Berlebihan (Logical Superfluity of Truth)
Teori ini dikembangkan oleh positivistik yang di awali oleh Ayer. Pada dasarnya menurut teorri kebenaran ini, problema kebenaran hanya merupakan kekacauan bahasa dan hal ini mengakibatkan suatu pemborosan, karena pada dasarnya apa yang hendak dibuktikan kebenarannya memiliki derajat logis yang masing-masin saling melingkupinya. [12]

2.      Teori Kebenaran Berdasarkan Kriteria Kebenaran
Kebenaran tertuang dalam ungkapan-ungkapan yang dianggap benar, misalnya hukum-hukum, teori- teori, ataupun rumus-rumus filsafat juga kenyataan yang dikenal dan diungkapkan . Tetapi tidak semua manusia mempunyai kriteria kebenaran yang sama . Benar menurut kita belum tentu benar menurut orang, karena proses berpikir untuk menghasikan pengetahuan yang benar itu berbeda-beda . Jadi setiap pikiran itu pasti memiliki kriteria kebenaran.[13]
Ada tiga kriteria kebenaran yaitu :
a.      Teori Koherensi     
Dianggap benar bila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar.
b.      Teori Kores Pondensi
Suatu pernyataan adalah benar jika materi pengetahuan yang dikandung pernyataan itu berkorespondensi (berhubungan) dengan obyek yang dituju oleh pernyataan tersebut.
c.       Teori Pragmatis
Teori pragmatis , pertama kali dicetuskan oleh Charles S. Pierce (1839-1914). Suatu pernyataan adalah benar jika pernyataan itu atau konsekuensi dari pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis dalam kehidupan manusia.


BAB 3
PENUTUP

A.    Kesimpualan
Dari pembahasan makalah tentang sumber kebenaran dan , dapat di tarik kesimpulan sebagai berikut:
1.      Dari sumber pengetahuan yang telah dijelaskan bahwa pembagian sumber penegetahuan yaitu sbb:
o   Empiris
o   Rasionalisme
o   Intusi
o   Wahyu

2.      Teori kebenaran secara tradisional dapat di bagi sebagai brikut:
a.       Teori Kebenaran Saling Berhubungan (Coherence Theory of truth)
b.      Teori Kebenaran Saling Berkesesuaian (Corespondence Theory of Truth)
c.       Teori Kebenaran Inherensi (Inherence Theory of Truth)
d.      Teori Kebenaran Berdasarkan Arti (Semantic Theory of Truth)
e.       Teori Kebenaran Nondekripsi
f.       Teori Kebenaran Logik yang Berlebihan (Logical Superfluity of Truth)
g.      Teori Kebenaran Logik yang Berlebihan (Logical Superfluity of Truth)

Sedangkan Teori kebenaran berdasarkan kriteria terbagi:
a.       Teori Koherensi
b.      Teori Kores Pondensi
c.       Teori Pragmatis





DAFTAR PUSTAKA


Abbas, Hamami M. 1976. Filsafat (Suatu Pengantar Logika Forma-Filsafat Pengetahuan). Yogyakarta: yayasan Pembina fakultas UGM.

Anton Bakker dan Achmad Charris Zubair 1994. Metodologi Penelitian Filsafat. Yogyakarta: Kanisius.

Bakhtiar, Amsal. 2004. Filsafat. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Kattsoft, Louis O. 1996. Pengantar Filsafat, cet. VII, Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.

Nasution, Harun. 1982. Akal dan Wahyu dalam Islam. Jakarta: UI Press.

Surajiyo. 2004. Filsafat Ilmu. Jakarta: Bumi Aksara.

Tafsir, Ahmad. 2002. Filsafat Umum. Bandung: Remaja Rosdakarya.


http://surya1204.blogspot.com/2011/04/sumber-pengetahuan-dan-kriteria.html- diakses.18/3/13.23.30-online.


#makalah_fakultas_syariah_dan_hukum_uin_rafah




[1] Surajiyo, Filsafat Ilmu, (Jakarta: Bumi Aksara, 2010), hlm26
[2] Amsal Bakhtiar,Filsafat Ilmu , (Jakarta: Rajawali Pers, 2004), hlm98.
[3] Ahmad Tafsir, Filsafat, hlm. 24.
[4] Anton Bakker, Ahmad Charris Zubair , Metodologi Penelitian Filsafat, (Yogyakarta: Kanisius, 1994, cet. IV, hlm22.
[5]  Harun Nasution, Filsafat Agama, hlm. 15.
[6] Louis O.K Kattsoft, Pengantar Filsafat, (Yogyakarta: Tiara Wicana Yogya, 1996),cet. VII, hlm. 139.
[7] Ahmad Tafsir, op. cit, hlm 27.
[8] http:// http://surya1204.blogspot.com
[9] Ibid hlm. 105.
[10]  Hamami Abbas, Filsafat, (Yogyakarta: UGM, 1976), hlm. 116.
[11] Ibid, hlm 29.
[12] Ibid, hlm. 115-121.
[13] http://henymartaviana.blogspot.com
loading...