Showing posts with label Siyasah Syar'iyyah. Show all posts
Showing posts with label Siyasah Syar'iyyah. Show all posts

Saturday, 18 March 2017

Peringatan untuk Pemimpin dan Memilih Pemimpin dalam Islam

Image result for kepemimpinan isl;am
foto: ilustrasi
Kepemimpinan itu akan mendatangkan penyesalan dan kehinaan pada hari kiamat.
“Dari Abu Dzar dia berkata: “Saya berkata kepada Rasulullah “Ya Rasulullah mengapa engkau tidak menunjuk saya (untuk suatu jabatan?)” Maka Rasulullah bersabda, “Hai Abu Dzar, sesungguhnya engkau ini orang yang lemah, sesungguhnya jabatan itu adalah amanah. Dan sesungguhnya jabatan itu pada hari kiamat hanya akan menjadikan penyesalan dan kehinaan (orang yang menerimanya), kecuali bila mereka dapat menunaikan hak dan kewajibannya serta dapat menunaikan hak dan kewajibannya.” (HR. Muslim).

Urusan yang diserahkan kepada yang tidak ahli tunggu saja kehancurannya.
Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah tentang kapan terjadinya kiamat. Maka Rasulullah bersabda,
“Apabila suatu amanah disia-siakan maka tunggulah kehancurannya. Orang itu bertanya lagi: “Apakah yang dimaksudkan dengan menyia-nyiakan amanah itu?”. Rasul menjawab: “Apabila suatu urusan diserahkan kepada orang yang tidak ahli, maka tunggulah datangnya kehancurannya.” (HR. Bukhari).

Seandainya engkau mengetahui apa yang engkau ketahui tentulah engkau akan lebih banyak menangis daripada tertawa, karena amanah disia-siakan dengan yang tidak ahli, sementara yang ahli malah menjadi kambing hitam.

Wallahu’alam.

Baca Juga Selanjutnya:

Bolehkah Wanita Jadi Pimpinan Umat (Pemimpin) dalam Islam

Image result for wanita sholehah
foto: ilustrasi
Ayat yang tegas-tegas melarang wanita menjadi pemimpin ummat tidak ada. Berikut beberapa ayat Al-Qur’an menyatakan sebagai berikut:
وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتُ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٖۚ يَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَيُطِيعُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓۚ أُوْلَٰٓئِكَ سَيَرۡحَمُهُمُ ٱللَّهُۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٞ (71)
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma´ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah: 71).[1]

ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعۡضَهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ وَبِمَآ أَنفَقُواْ مِنۡ أَمۡوَٰلِهِمۡۚ (34) …
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka…” (QS. An-Nisa’: 34).[2]

Dalam salah satu hadits Rasulullah bersabda:
“Tak akan sukses suatu masyarakat yang mengangkat wanita sebagai pemimpin mereka.” (HR. Bukhari).

Hadits ini diturunkan berkenaan dengan diangkatnya Putri Chozru sebagai ratu Persia.
Artinya untuk menjadi pemimpin seperti kepala Negara, wanita kurang tepat untuk menduduki jabatan tersebut. Adalah suatu hal yang menarik untuk mempelajarinya lebih lanjut.[3]
Wallahu’alam.

Batas-Batas Ketaatan Kepada Pemimpin dalam Islam

Related image
foto: ilustrasi
Ketaatan kepada pemimpin didalam Islam dapat dikatakan penuh bila pemimpin itu berada dijalan yang benar, dalam pengertian apa yang diperintahkan sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya. Tetapi sering pendapat pemimpin itu kontroversial dengan pendapat umum. Bila hal itu sampai terjadi maka pemimpin tetap harus ditaati, karena dalam Islam tujuan diangkatnya seorang pemimpin adalah untuk ditaati. Rasulullah bersabda:
“Pemimpin itu dipilih (ditunjuk) untuk ditaati setiap perintah-perintahnya.” (Al-Hadits).
 Dalam hadits yang lain Rasulullah bersabda:
“Seorang muslim wajib mendengar dan taat pada pimpinannya dalam apa yang dia setujui atau tidak disetujui kecuali jika diperintah maksiat. Apabila disuruh maksiat maka tak wajib mendengar dan tidak wajib untuk taat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

“Apabila kami berbai’at kepada Rasul Saw. maka beliau bersabda “Dengar dan taatilah pemimpinmu sebatas kekuatanmu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

“Barangsiapa berlepas diri dari taat, niscaya ia akan bertemu Allah pada hari kiamat tanpa alasan dan barangsiapa yang mati sedang ia tiada dilehernya suatu baiat maka ia mati sebagai orang jahiliyah.” (HR. Muslim).

“Dengarkanlah dan taatila pemimpinmu meski yang terangkat seorang budak Habsyah yang kepalanya bagaikan kismis.” (HR. Bukhari).

“Dengarkanlah dan taatilah (pemimpinmu) dalam keberatan maupun keringanan dalam kelancaran maupun kesukaran dalam reaksi maupun berebut pengaruh denganmu.” (HR. Muslim).

“Siapa yang taat kepadaku, berarti taat kepada Allah dan siapa yang melanggar kepadaku berarti melanggar kepada Allah. Dan barangsiapa yang taat pada pemimpin berarti taat kepadaku dan siapa yang maksiat kepada pemimpin berarti maksiat kepadaku.” (HR. Bukhari dan Muslim).

“Siapa yang membenci sesuatu dari pemimpin hendaklah dia sabar. Sesungguhnya siapa yang keluar dari pimpinannya walau sejengkal kemudian ia mati, maka-matinya dalam jahiliyah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

“Pemimpin yang terbaik untukmu ialah yang dia cinta kamu dan kamu cinta kepadanya, kamu doakan dia dan dia doakan kamu. Sedang pemimpin yang terjelek diantaramu ialah pemimpin yang benci kemudian kamu benci dia dan kamu saling kutuk mengutuk dengannya.” Bertanya sahabat? “Bolehkah kami menentang (melawan) mereka?” Rasul menjawab: “Tidak, selama mereka tetap menegakkan shalat bersama.” (HR. Muslim).

Dari hadits-hadits diatas jelaslah bahwa ketaatan kepada pemimpin itu dapat dikatakan hampir mutlak, hanya bila disuru maksiat saja kita boleh tidak menaatinya.[1] Allah dalam Al-Qur’an berfirman:
 يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ وَأُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنكُمۡۖ فَإِن تَنَٰزَعۡتُمۡ فِي شَيۡءٖ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمۡ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۚ ذَٰلِكَ خَيۡرٞ وَأَحۡسَنُ تَأۡوِيلًا (59)
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa’: 59).[2]


Baca Juga Selanjutnya:


[1] Yan Orgianus, Islam dan Pengetahuan Sains, 2008, (Bogor: Bee Media Pustaka)
[2] Qur’an, 4: 59
images: wisatamu.com

Friday, 17 March 2017

Yang Tidak Dapat Menjadi Pemimpin dalam Islam

Related image
foto: ilustrasi
Setelah kita mengetahui persyaratan menjadi pemimpin, sekarang marilah kita perhatikan siapa saja yang tidak boleh diangkat sebagai pemimpin dalam Islam. Karena ada yang beranggapan yang tidak boleh menjadi menjadi pemimpin itu adalah kebalikan dari persyaratan pemimpin. Jawaban yang demikian tidaklah benar, oleh karena itu Islam mengajarkan kepada kita siapa yang dilarang keras menjadi pemimpin itu.[1] Sebagaimana firman Allah:

۞يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ ٱلۡيَهُودَ وَٱلنَّصَٰرَىٰٓ أَوۡلِيَآءَۘ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٖۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمۡ فَإِنَّهُۥ مِنۡهُمۡۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ (51)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Maidah: 51).[2]

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُوٓاْ ءَابَآءَكُمۡ وَإِخۡوَٰنَكُمۡ أَوۡلِيَآءَ إِنِ ٱسۡتَحَبُّواْ ٱلۡكُفۡرَ عَلَى ٱلۡإِيمَٰنِۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمۡ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ (23)

“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu menjadi wali(mu), jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. At-Taubah: 23).[3]

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ ٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ دِينَكُمۡ هُزُوٗا وَلَعِبٗا مِّنَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ مِن قَبۡلِكُمۡ وَٱلۡكُفَّارَ أَوۡلِيَآءَۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ (57)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Maidah: 57).[4]

لَّا يَتَّخِذِ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلۡكَٰفِرِينَ أَوۡلِيَآءَ مِن دُونِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَۖ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٰلِكَ فَلَيۡسَ مِنَ ٱللَّهِ فِي شَيۡءٍ إِلَّآ أَن تَتَّقُواْ مِنۡهُمۡ تُقَىٰةٗۗ وَيُحَذِّرُكُمُ ٱللَّهُ نَفۡسَهُۥۗ وَإِلَى ٱللَّهِ ٱلۡمَصِيرُ (28)

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali(mu).” (QS. Ali Imran: 28).[5]


وَدُّواْ لَوۡ تَكۡفُرُونَ كَمَا كَفَرُواْ فَتَكُونُونَ سَوَآءٗۖ فَلَا تَتَّخِذُواْ مِنۡهُمۡ أَوۡلِيَآءَ حَتَّىٰ يُهَاجِرُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِۚ فَإِن تَوَلَّوۡاْ فَخُذُوهُمۡ وَٱقۡتُلُوهُمۡ حَيۡثُ وَجَدتُّمُوهُمۡۖ وَلَا تَتَّخِذُواْ مِنۡهُمۡ وَلِيّٗا وَلَا نَصِيرًا (89)

“Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong(mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorangpun di antara mereka menjadi pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong.” (QS. An-Nisa’: 89).[6]


وَإِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ ٱسۡجُدُواْ لِأٓدَمَ فَسَجَدُوٓاْ إِلَّآ إِبۡلِيسَ كَانَ مِنَ ٱلۡجِنِّ فَفَسَقَ عَنۡ أَمۡرِ رَبِّهِۦٓۗ أَفَتَتَّخِذُونَهُۥ وَذُرِّيَّتَهُۥٓ أَوۡلِيَآءَ مِن دُونِي وَهُمۡ لَكُمۡ عَدُوُّۢۚ بِئۡسَ لِلظَّٰلِمِينَ بَدَلٗا (50)

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Kahfi: 50).[7]


يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمۡ أَوۡلِيَآءَ تُلۡقُونَ إِلَيۡهِم بِٱلۡمَوَدَّةِ وَقَدۡ كَفَرُواْ بِمَا جَآءَكُم مِّنَ ٱلۡحَقِّ يُخۡرِجُونَ ٱلرَّسُولَ وَإِيَّاكُمۡ أَن تُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ رَبِّكُمۡ إِن كُنتُمۡ خَرَجۡتُمۡ جِهَٰدٗا فِي سَبِيلِي وَٱبۡتِغَآءَ مَرۡضَاتِيۚ تُسِرُّونَ إِلَيۡهِم بِٱلۡمَوَدَّةِ وَأَنَا۠ أَعۡلَمُ بِمَآ أَخۡفَيۡتُمۡ وَمَآ أَعۡلَنتُمۡۚ وَمَن يَفۡعَلۡهُ مِنكُمۡ فَقَدۡ ضَلَّ سَوَآءَ ٱلسَّبِيلِ ١

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus.” (QS. Al-Mumtahanah: 1).[8]


Baca Juga Selanjutnya:


[1] Yan Orgianus, Islam dan Pengetahuan Sains, 2008, (Bogor: Bee Media Pustaka)
[2] Qur’an, 5: 51
[3] Qur’an, 9: 23
[4] Qur’an, 5: 57
[5]Qur’an, 3: 28
[6] Qur’an, 4: 89
[7] Qur’an, 18: 50
[8] Qur’an, 60: 1

Hal-Hal Penting Agar Kepemimpinan Berjalan Baik dan Efektif dalam Islam

Image result for kepemimpinan dalam islam
Kepemimpinan 
Kepemimpinan itu adalah suatu aktifitas untuk mempengaruhi orang lain agar mau bekerja sama menuju satu tujuan tertentu sebagaimana diinginkan bersama.
Agar kepemimpinan dapat berjalan dengan efektif seorang hendaklah seorang yang dapat dipercaya oleh orang lain disamping dia juga seorang komunikator yang baik. Menjadi orang terpercaya ternyata tidak mudah karenanya seorang pemimpin harus mempunyai sifat: sidiq, amanah, fathanah.
Sidiq artinya benar, maksudnya dalam perkataan maupun perbuatan diusahakan selalu benar, tidak bohong. Amanah artinya menyampaikan, maksudnya setiap pekerjaan yang dia telah sanggupi akan dijalankannya sekuat kemampuan yang ada. Fathanah artinya cerdik dan pandai. Maksudnya seorang pemimpin itu cerdik sehingga tidak dapat ditipu disamping itu juga mampu memecahkan seolah yang dihadapinya dengan lapang dada.
Ketiga sifat inilah modal utama seorang pemimpin agar dia dapat memperoleh kepercayaan. Karena ada pepatah yang menyatakan sekali lancing ke ujian seumur hidup orang tak percaya. Artinya sekali orang berbohong atau sekali amanah tidak dijalankan maka sulitlah orang untuk mempercayainya.
Itulah sebabnya seorang pemimpin harus mempunyai sifat sidiq dan amanah. Disamping tentunya dia harus seorang yang cerdas (fathanah) sehingga sikapnya luwes dan dia dapat bedakan bahkan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan nakal dengan santai tanpa marah. Sehingga karena sifat fathanahnya ini orang yang awalnya membenci berbalik menjadi simpatik.
Inilah modal awal yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin agar dapat menjadi orang yang terpercaya. Dan inilah sifat yang dimiliki Nabi Muhammad sebelum beliau menjadi Nabi. Bukankah sebelum menjadi Nabi beliau telah digelari dengan Al-Amin, orang yang dapat dipercaya? Disamping terpercaya ada lagi yang perlu dimiliki seorang pemimpin itu yakni dapat berkomunikasi dengan baik tabligh. Dan Nabi Muhammad adalah ahlinya dalam tabligh, karena beliau adalah komunikator yang ulung. Perhatikanlah dakwah beliau pertamakali kepada musyrikin Quraisy dibukit Shafa:
“Hai masyarakat Quraisy bagaimana menurut pendapatmu bila kukatakan dibelakang bukit ini ada pasukan berkuda, percayakah kalian? Ya, Engkau tak perlu disangsikan karena belum pernah kami lihat engkau berdusta.”

Oleh karena itu diantara 4 sifat: sidiq, amanah, fathanah dan tabligh wajib dan penting dimiliki oleh seorang pemimpin. Sehingga dari bekal mempunyai sifat tersebut dapat menjalankan roda kepemimpinan dengan dan benar, serta efektif demi kemaslahatan umat atau rakyat yang dipimpinya tersebut.

Baca Juga Selanjutnya:

Pengertian Pemimpin dan Syarat-Syarat Jadi Pemimpin dalam Islam

Image result for kepemimpinan isl;am
Pemimpin dan Syarat-Syaratnya
Kepemimpinan itu adalah suatu aktifitas untuk mempengaruhi orang lain agar mau bekerja sama menuju satu tujuan tertentu sebagaimana diinginkan bersama.
Dalam Islam istilah pemimpin disebut dengan beberapa istilah seperti: Imam, wali, ulil amri, amirul mukminin, amir, khalifah, dan ro’is (mungkin masih ada yang lain). Dalam salah satu hadits, Rasulullah bersabda,
“Setiap kamu adalah pemimpin (ro’is) dan masing-masingnya akan ditanyakan tentang tanggungjawabnya tentang apa yang dipimpinya. Laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya dan dia akan ditanyakan tentang apa yang dia pimpin. Dan pembantu (pelayan) juga pemimpin dalam mengawasi harta majikannya dan dia akan ditanya tentang apa yang dia pimpin.” (HR. Bukhori).

Dari hadits ini dapat ditarik kesimpulan bahwa pengertian pemimpin itu sebagai berikut:
Setiap orang yang mengurus urusan umat Islam dan tugas itu dijalankannya dengan penuh tanggungjawab. Jadi siapapun juga orangnya asal dia beragama Islam dan bertugas mengurus urusan umat Islam, formal atau informal menjabat atau tidak, kalau tugas itu dilakukan dengan penuh tanggungjawab kepada Allah maka dia dapat digolongkan sebagai seorang pemimpin. Untuk jelasnya berikut ini akan disebutkan syarat-syarat seorang dapat disebut pemimpin dalam Islam,
Allah berfirman,
إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱلَّذِينَ يُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَهُمۡ رَٰكِعُونَ ٥٥
“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).” (QS. Al-Maidah: 55).[1]

أَلَآ إِنَّ أَوۡلِيَآءَ ٱللَّهِ لَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ(62) .
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Yunus: 62)

وَقَالَ لَهُمۡ نَبِيُّهُمۡ إِنَّ ٱللَّهَ قَدۡ بَعَثَ لَكُمۡ طَالُوتَ مَلِكٗاۚ قَالُوٓاْ أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ ٱلۡمُلۡكُ عَلَيۡنَا وَنَحۡنُ أَحَقُّ بِٱلۡمُلۡكِ مِنۡهُ وَلَمۡ يُؤۡتَ سَعَةٗ مِّنَ ٱلۡمَالِۚ قَالَ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصۡطَفَىٰهُ عَلَيۡكُمۡ وَزَادَهُۥ بَسۡطَةٗ فِي ٱلۡعِلۡمِ وَٱلۡجِسۡمِۖ وَٱللَّهُ يُؤۡتِي مُلۡكَهُۥ مَن يَشَآءُۚ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٞ(247) .
“Nabi mereka mengatakan kepada mereka: "Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu". Mereka menjawab: "Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?" Nabi (mereka) berkata: "Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa". Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 247).[2]

۞إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُكُمۡ أَن تُؤَدُّواْ ٱلۡأَمَٰنَٰتِ إِلَىٰٓ أَهۡلِهَا وَإِذَا حَكَمۡتُم بَيۡنَ ٱلنَّاسِ أَن تَحۡكُمُواْ بِٱلۡعَدۡلِۚ إِنَّ ٱللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِۦٓۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ سَمِيعَۢا بَصِيرٗا(58) .
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisa’: 58).[3]

Dari keempat ayat diatas jelaslah bagi kita syarat seorang dapat diangkat menjadi pemimpin, sebagai berikut:
1.      Beriman dalam pengertian beragama Islam. Karena bagaimanapun juga Islam adalah agama yang merupakan rahmat bagi alam semesta, bukan cuma rahmat bagi orang Islam.
2.      Menegakkan shalat dalam pengertian shalat seperti berjamaah ke masjid, dikerjakan diawal waktu, bersih hati dan fisik serta mengikuti rukun-rukunnya, termasuk kekhusyukannya.
3.      Menunaikan zakat (fitrah atau maal) merupakan lambang mengasihi sesama.
4.      Tawadhu sehingga mampu dan mau mendengarkan kritik dan saran.
5.      Tidak takut terhadap siapapun dan dari apapun, apakah takut kepada setan, takut kepada penjara, takut miskin, sehingga korupsi dan sebagainya.
6.      Tidak “cengeng” alias tahan ujian, baik berupa kesenangan maupun kesengsaraan hidup.
7.      Berilmu dan luas, memiliki wawasan dengan demikian keputusan dan tindakan yang diambilnya bersikap adi, luwes dan bijaksana.
8.      Fisiknya kuat sehingga memungkinkannya dapat menjalankan tugasnya dengan sebaik-baiknya sehingga dapat menjadi suri tauladan bagi umatnya dan bawahannya.
9.      Ahli dan memang berbakat untuk jabatan itu, sehingga masalah yang dihadapinya bukan dianggap sebagai beban malah dianggapnya suatu tugas yang mengasyikkan dan menantang.
10.  Amanah, dalam pengertian mau menjalankan tugas yang diembankan kepadanya sekuat kemampuannya.
11.  Adil dalam menetapkan hukum diantara manusia. Sekalipun merugikan diri sendiri dia tidak khawatir, kalau memang harus demikian keputusannya.
Dari beberapa persyaratan diatas memang seharusnya ada. Bagaimana bila tidak ada yang memenuhi persyaratan tadi? Maka prinsip dalam pengambilan keputusan memilih yang maksimal dari yang minimal dapat dilakukan, yakni memilih yang terbaik diantara yang ada tetapi, tetap memperhatikan beberapa persyaratan diatas. Karena Al-Qur’an juga mengajarkan kepada kita dengan menyebut minkum, yang berarti diantara kamu sekalian. Misal, bila semua orang buta maka salah seorang yang dapat melihat sedikit saja dapat dipilih sebagai pimpinan diantara mereka. Karena dalam kondisi sejelek apapun juga menurut Islam, salah seorang harus dimunculkan sebagai pemimpin yang akan mengatur kelompok itu. Dan anggota kelompok itu harus taat kepada pemimpin yang terpilih bagaimanapun keadaannya, kecuali apabila diminta berbuat maksiat.
Apabila pemimpin menyuruh kepada perbuatan maksiat, maka anggota kelompok tidak wajib mentaati perintahnya.[4]

Baca Juga Selanjutnya:


[1] Qur’an, 5: 55
[2] Qur’an, 2: 247
[3] Qur’an, 4: 58
[4] Yan Orgianus, Islam dan Pengetahuan Sains, 2008, (Bogor: Bee Media Pustaka)
Source: Images,  ladispo.co
loading...